Epidemiolog: PPKM Darurat Harus Diperpanjang! jika Tidak, Ada Skenario Terburuk

Dicky Budiman epidemiolog University Griffith
15 Juli 2021 12:17 WIB Ni Luh Anggela News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA –  PPKM Darurat dinilai harus diperpanjang dikarenakan situasi covid-19 yang sudah darurat. Hal tersebut disampaikan oleh praktisi dan epidemiolog dr Dicky Budiman.
 
“Apabila tidak diperpanjang, maka kita akan mengarah pada skenario terburuk,” katanya kepada Bisnis.
 
Proyeksi ini sebelumnya sudah ia sampaikan bahkan sebelum bulan puasa kemarin. Pentingnya proyeksi atau pemodelan ini untuk menjadi dasar penyusunan strategi mitigasi.
 
Menurutnya, proyeksi atau pemodelan ini disusun untuk mencegah agar tidak terjadi asumsi. Beberapa waktu lalu, ia mencontohkan saat Sydney ingin memperpanjang lockdown, pihak berwenang meminta pendapatnya.
 
“Ya sama, semua negara itu harus seperti itu, memberikan tempat pada masukkan pakar ahli untuk menjadi dasar pertimbangan penyusunan strategi mitigasi supaya tidak terjadi perburukan.” ungkapnya.
 
Pada Maret 2020 lalu, dr Dicky sudah menyampaikan proyeksi-proyeksi bahwa Indonesia dapat menjadi episenter dan juga prediksi perburukannya. Maka dari itu, Indonesia diharapkan dapat mendengarkan dan menyusun strategi berbasis sains, antara lain “PPKM darurat ini walaupun tidak ideal harus kita lakukan untuk meminimalisir potensi perburukannya.” jelasnya.
 
Apabila PPKM Darurat ini tidak diperpanjang, menurutnya akan terjadi skenario terburuk meskipun puncaknya tidak terlalu bergeser di akhir Juli, namun jumlah terinfeksi saat ini sudah lebih dari 100.000
 
Sebagai gambaran, angka kematian Indonesia pada Rabu (14/7/2021)lalu sudah menyentuh 1000 kasus kematian. Bahkan, apabila dilihat dari website pemerintah daerah, angka kematiannya sangat konsisten, selalu di atas 1000.
 
“Kalau berdasarkan formula dan biologi hukum, artinya semuanya itu bisa dihitung, bisa terukur bahwa kalau ada 1.000 kematian dengan  angka katakanlah case fatality rate kita, itu di 2 persen sajalah ambil rata-rata yang rendah. Itu sudah lebih dari 120.000 kasus infeksi 3 minggu lalu. 3 minggu lalu dari sejak kematian 1.000 ini, yang berkontribusi pada 1.000 kematian ini. Ini belumlah mempertimbangkan misalnya keberadaan Delta varian,” jelas dr Dicky.
 
Berdasarkan pertimbangan itulah menurutnya PPKM Darurat memang harus diperpanjang. Jika tidak, dampak dari adanya varian Delta dan juga akumulasi satu tahun lebih pandemi di Indonesia ini akan menjadi semakin mengarah pada skenario terburuk.
 
Indonesia saat ini belum juga setengah jalan. Dr Dicky menjelaskan, dinamakan setengah jalan sebetulnya 4 minggu untuk pembatas. Itu pun merujuk pada kritealog.
 
“Kalau namanya PPKM darurat itu kan bukan lockdown,  itu ya semilockdown dan ini artinya sebetulnya minimal 6 minggu kalau bisa 8 minggu.”
 
Ini sudah menjadi konsekuensi Indonesia karena sebelumnya pada Maret 2020 lalu, dr Dicky sudah mengusulkan bahwa Indonesia harus melakukan PSBB berskala komunitas pada saat itu. “Kan masih wilayah kecil ya Jakarta dan sekitarnya. Saat itu saya usulkan lokal lockdown. Jadi beberapa kabupaten sekitarnya saja, tapi ya sekarang masalahnya sudah besar.”
 
Berdasarkan riset analisis data dari Eijkman, dari sebaran sampling, dari hasil positif, PCR yang kemudian juga diperiksa, menunjukkan bahwa Indonesia didominasi lebih dari 60 persen oleh delta varian dan delta varian ini adalah satu varian yang sangat cepat menular. Delta varian memiliki dampak perburukan secara klinis karena meningkatkan kasus orang ke rumah sakit, bisa sampai 2,5 kali lipat dibandingkan alfa varian.
 
“Dan kalau bicara 2,5 kali lipat dari alfa varian berarti dibandingkan Wuhan yang kita tahu berarti sudah begitu chaosnya ya situasi di Wuhan sana. Itu bisa 4 sampai 5 kalinya. Nah inilah yang terjadi di Indonesia. Kalau kita tidak respon ini dengan serius kita akan makin mengarah pada perburukan situasi dengan banyaknya kematian terutama.” jelasnya.
 
Indonesia saat ini sudah menjadi episentrum di Asia, bahkan di dunia. Episentrum merupakan negara/wilayah yang memiliki kasus aktif yang paling tinggi pada waktu itu. Sekarang Indonesia bahkan mencapai  angka kematian per satu juta penduduk dan itu salah satu penambahan yang tertinggi juga di dunia.
 
Jadi penyematan episentrum dunia saat ini untuk Indonesia memang sangat amat harus diterima dengan kewaspadaan dan respon untuk perbaikan.
 
“Karena yang terburuk sayangnya harus saya sampaikan yang belum dating, dan ini akan tidak lama lagi karena akhir Juli inilah puncaknya, puncak dari situasi ini dan ini tidak akan lama memang, tapi ini akan menyakitkan, membawa banyak korban, membawa banyak kepanikan dan juga dampak negatif lain dari semua sektor karena bisa berlangsung 1 hingga 2 minggu paling lama,”
 
Hal ini menurut dr Dicky harus dicegah.  Pertama, bahwa pemerintah setiap membuat strategi harus berbasis sains dan mohon tidak menyangkal, faktanya ada dan kita transparan. “Pengakuan itu bukanlah tanda kelemahan. Tetapi mengaku kelemahan kita, mengakui kekurangan kita, mengakui keadaan yang ada sebenarnya itu menunjukkan bahwa kita menguasai masalah, mengetahui apa yang kita miliki, apa yang kita hadapi dan tentu artinya kita akan memiliki strategi dan mengetahui strategi mana yang efektif. Nah itu yang harus berbasis sains.”
 
Kemudian strategi 3T. Dr Dicky menyampaikan jika sebelumnya testing dilakukan 500.000 sehari minimal, saat ini sudah harus dilakukan satu juta sehari.
 
“Saya bicara 500.000 sehari itu awal-awal tahun ini ya. Karena  sekarang sudah begini. Yang saya sampaikan 1000 kematian kemarin misalnya dengan 3 minggu lalu berarti ada 120 ribuan kasus infeksi nah itu harusnya dari 1 kasus terkonfirmasi positif ada 10 kasus kontak yang dicari yang artinya testingnya harus satu juta. Itu seperti itu,”
Ini harus dilakukan setara, merata di semua daerah dan pulau di luar Jawa juga harus belajar dari apa yang dialami oleh Jawa, Madura dan Bali.

Vaksinasi
 
Kemudian juga vaksinasi. Vaksinasi menurutnya cukup dalam strategi saat ini satu juta per hari sudah sangat bagus . Karena Indonesia saat ini fokus pada upaya mitigasi dan penanganan.
 
Untuk PPKM dia menyarankan agar  dilanjutkan bahkan minimal 6 minggu dan juga penguatannya dari isi dan implementasi dari PPKM darurat.
 
Dan terakhir visitasi yang harus dilakukan oleh pemerintah melibatkan kader-kader. Saat ini, sudah saatnya semua masyarakat Indonesia bahu membahu, menemukan kasus di masyarakat, memberikan bantuan dalam proses isoman dan juga hal lain terkait fase-fase terapi ataupun masa karantina dan juga fase pemulihan.
 
Tanpa ada peran aktif masyarakat Indonesia tidak bisa mengendalikan pandemi. Mereka yang memiliki otorisasi sebagai kepala kantor, kepala kementerian, kepala BUMN dan sebagainya diharapkan dapat membuat kebijakan yang mendukung pembatasan ini.
 
Dan mereka yang memang ternyata harus ke luar rumah untuk kehidupan dan belum ada dukungan dari pemerintah dr Dikcy menyarankan agar  diberikan keleluasaan itu dengan memberikan literasi  supaya yang bersangkutan aman, keluarganya aman dan juga masyarakat aman.
 
Dengan kebersamaan ini, dr Dicky yakin setidaknya masa kritis ini akan dilalui pada akhir Agustus paling cepat dan paling lambat di akhir September.
 
“Oktober sudah melandai namun sekali lagi ini  bicara kondisi Jawa Bali Madura dan belum kita bicara diluar itu. Karena itu ini menjadi pesan penting untuk semua wilayah di Indonesia ini bahwa kita harus bersiap dan memaksimalkan strategi pencegahan,” tutupnya.

Sumber : bisnis.com