Rencana PTM di Tengah Lonjakan Covid, Kemdikbudristek: Protokol Harus Dipenuhi

Para pelajar di SMKN 15 Jakarta mengikuti belajar tatap muka perdana di tengah pandemi Covid-19, Rabu (7/4/2021). - Antara
18 Juni 2021 12:47 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia membuat pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas nyaris gagal. Kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menyukseskan penyelenggaraannya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nunuk Suryani mengatakan pentingnya kolaborasi yang efektif antara guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan pengawas sekolah.

Selain itu, peran serta orangtua juga sangat penting guna menyukseskan implementasi belajar tatap muka terbatas sesuai panduan yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri.

“Jadi dalam SKB Empat Menteri sudah tertuang bahwa kalau menginginkan pembelajaran tatap muka [PTM] terbatas, ada daftar periksa dan protokol yang harus dipenuhi, karena keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama,” ungkap Nunuk, mengutip keterangan resmi Kemdikbudristek, Jumat (18/6/2021).

Baca juga: Satgas: Bali & Sulsel Keluar dari 5 Besar Covid, Digantikan DIY & Jabar

Dia juga mengingatkan agar para guru tidak segan membaca ulang panduan tersebut. Dia yakin guru-guru bisa mencermati bahwa banyak contoh praktik baik guru-guru yang sudah PTM terbatas dan berhasil.

Setditjen GTK juga mengajak para guru untuk mengikuti berbagai pelatihan yang disediakan oleh Kemendikbudristek melalui laman ayogurubelajar.kemdikbud.go.id.

“Sudah ada 13 juta guru yang sudah mengakses, ini data kami. Dan saat ini sudah seri ke-7. Ada seri AKM, Seri Belajar Mandiri, Seri Kecakapan Hidup, Seri Belajar Masa Pandemi, Seri Pendidikan Inklusif, Seri PAUD, Seri Kemampuan Nonteknis atau soft skill dan adaptasi teknologi. Bapak/ibu guru bisa ikut pelatihan ini gratis,” ujarnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, Dokter Reisa Broto Asmoro mengatakan, saat ini rumah sakit penuh pasien Covid-19. Varian baru virus Covid-19 juga makin banyak beredar. Menurut dokter Reisa, dampaknya bisa berbeda-beda terhadap tiap orang.

Dia menambahkan, Bed Occupancy Rate yang tinggi bukan saja menandakan banyak daerah kembali ke zona merah atau risiko tinggi. Menurut panduan menekan risiko, lanjut dokter Reisa, dikenal istilah “gas dan rem”.

Peningkatan yang terus menerus seperti saat ini akan mungkin mengembalikan ke situasi pengetatan kegiatan masyarakat, termasuk akan berdampak pada sekolah.

"Dikhawatirkan rencana sekolah tatap muka kemungkinan akan tertunda di wilayah zona merah," kata dokter Reisa.

Sumber : bisnis.com