Advertisement
Sebanyak 3 dari 10 Orang Alami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi setelah Disuntik Sinovac
Presiden Filipina Rodrigo Duterte saat memegang sebotol vaksin virus corona (COVID-19) Sinovac, vaksin COVID-19 pertama yang tiba di negara itu, di Pangkalan Udara Villamor, Kota Pasay, Metro Manila, Filipina, Minggu (28/2/2021)./Antara - Reuters/Eloisa Lopez
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Sekitar 3 dari 10 orang mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang menggunakan vaksin Sinovac.
“KIPI kalau Sinovac sekitar 30 persen,” kata manajer tim riset vaksin Sinovac dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Eddy Fadlyana, Rabu (9/6/2021).
Advertisement
Dampak sebesar itu juga muncul dari hasil penelitian pada fase 1 dan 2 yang berlangsung di China.
Menurut Eddy, gejala KIPI dari vaksin Sinovac berupa reaksi lokal, seperti nyeri di bekas tempat suntikan, kulit kemerahan, atau bengkak.
Adapun gejala sistemiknya, antara lain lemas, demam, atau nyeri otot.
“Tingkat keparahan Sinovac dari hasil penelitian umumnya ringan, rasanya nggak ada yang berat,” kata dia.
Dibandingkan dengan vaksin lain seperti AstraZeneca, Eddy mengaku tidak mengamati kasus kejadiannya.
Selain itu, vaksin AstraZeneca yang dipakai di Indonesia jumlahnya sekarang ini masih sedikit dibandingkan dengan Sinovac.
Dia mengatakan, masyarakat bisa menggunakan vaksin Covid-19 apa saja.
“Kesimpulannya sama-sama aman karena dari WHO standar efikasinya sama, minimal di atas 50 persen,” kata dokter anak di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung itu.
Ketua tim riset vaksin Sinovac Kusnandi Rusmil mengatakan, sejauh ini belum ada kejadian berat pasca imunisasi vaksin Sinovac.
“Orang yang alergi berat tidak boleh divaksinasi,” kata Ketua Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Jawa Barat itu, Rabu (9/6/2021).
Kejadian yang tergolong berat setelah vaksinasi yaitu pingsan. Kemungkinannya 1 dari 1 juta orang.
Adapun beberapa laporan sakit yang berat hingga meninggal, kata Kusnandi, setelah diperiksa dinyatakan tidak terkait dengan vaksinasi.
“Setelah beberapa lama disuntik kemudian meninggal itu bukan karena vaksin, itu sudah diaudit,” ujarnya.
Sementara, kasus seorang guru yang lumpuh setelah dua pekan divaksinasi, menurut Kusnandi, sebulan sebelumnya guru itu diketahui menderita penyakit tertentu.
Reaksi orang setelah mendapat vaksin Sinovac akan beragam sesuai kondisi tubuhnya. Pada orang yang punya penyakit bawaan atau komorbid tertentu, kata Kusnandi, tidak bisa divaksinasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Kasus Amsal Berbuntut Panjang, DPR Desak Evaluasi Total Kejari Karo
- Anak Indonesia Nyaris Semua Online, PP Tunas Jadi Benteng Terakhir
- BMKG Turunkan Tim ke Maluku Utara dan Sulut Usai Gempa M 7,6
- Ngaku Tuhan Kedua, Dukun Cabul di Magetan Setubuhi Istri Pasien
- Vonis Mati Tahanan Palestina oleh Israel Disorot Indonesia
Advertisement
Tips Merawat Burung Murai Batu agar Rajin Bunyi dan Siap Lomba
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 2 April 2026
- Kulonprogo Siapkan Skema Nunut ASN untuk Tekan BBM
- KRL Jogja-Solo Padat Seharian, Ini Jadwal Kamis 2 April 2026
- Ngaku Tuhan Kedua, Dukun Cabul di Magetan Setubuhi Istri Pasien
- Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini Kamis 2 April, Perjalanan Fleksibel
- Kasus TNI Siram Air Keras, Progres Penanganan Capai 80 Persen
- Pegadaian Salurkan Bantuan di Jateng-DIY, Jangkau 10 Panti
Advertisement
Advertisement








