Advertisement
15 Anggota DK PBB Sepakat Kekuasaan di Myamar Kembali ke Pemerintahan Sipil
rnPersonel militer berjaga di titik pemeriksaan di jalan yang menuju kompleks gedung Parlemen di Ibu Kota Naypritaw, Myanmar, Senin (1/2/2021). Junta Militer Myanmar yang dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing mengumumkan pengambilalihan kekuasaan dan pemberlakuan status darurat nasional selama setidaknya satu tahun. - Antara/Reuters\\r\\n
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Dewan Keamanan (DK) PBB akhirnya mencapai suara bulat terkait kisruh di Negara Myanmar. DK PBB menyerukan pengembalian kekuasaan ke pemerintahan sipil yang dikudeta militer di Myanmar dan mengutuk keras kekerasan terhadap pengunjuk rasa selain menyerukan 'pengekangan aksi militer secara penuh'.
Pernyataan itu disetujui oleh seluruh atau 15 anggota DK PBB, termasuk negara tetangga Myanmar dan China. Melalui pertemuan virtual yang sangat singkat, Duta Besar AS Linda Thomas-Greenfield yang menjadi presiden DK PBB, mengumumkan bahwa pernyataan itu telah disepakati seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (11/3/2021).
Advertisement
Pernyataan itu merupakan satu langkah di bawah resolusi tetapi menjadi bagian dari catatan resmi badan paling kuat PBB. Kesepakatan yang dirancang Inggris itu menyerukan pembebasan segera para pemimpin pemerintah termasuk Penasihat Negara Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint yang telah ditahan sejak penggulingan mereka dalam kudeta militer 1 Februari.
Baca juga: Sejumlah Negara Tak Sepakat Soal Kudeta, DK PBB Hanya Bisa Kutuk Kekerasan di Myanmar
DK PBB mendukung transisi demokrasi negara. "Dan menekankan perlunya menegakkan lembaga dan proses demokrasi, menahan diri dari kekerasan dan sepenuhnya menghormati hak asasi manusia dan kebebasan fundamental serta menegakkan supremasi hukum", menurut bunyi pernyataan itu.
Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa anggota dewan harus berbicara dalam satu suara. Dia juga menyatakan bahwa sekarang saatnya untuk de-eskalasi, diplomasi dan dialog.
Baca juga: AS Akan Mulai Vaksinasi Covid-19, Penduduk AS Diutamakan
Thomas-Greenfield juga menekankan bahwa semua anggota dewan berbicara dengan satu suara untuk mengutuk kekerasan yang sedang berlangsung terhadap pengunjuk rasa damai.
"Kami memuji keberanian dan tekad mereka dalam menghadapi serangan brutal yang terus-menerus oleh militer dan pasukan keamanan," katanya dalam sebuah pernyataan.
Menurutnya, Amerika Serikat akan terus bekerja dengan koalisi mitra internasional yang luas untuk mempromosikan pertanggungjawaban atas kudeta di Myanmar dan mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan, dan akan bekerja untuk memulihkan pemerintah yang dipilih secara demokratis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG Wanti-wanti Hujan Lebat di Jateng hingga Akhir Januari 2026
- PLN Hadirkan Tambah Daya Listrik Instan untuk Hajatan dan Proyek
- KPK Duga Modus CSR Dipakai dalam Aliran Dana Wali Kota Madiun
- OTT Madiun Seret Kepala Daerah hingga Swasta, Ini Rinciannya
- Guru dan Murid di Jambi Adu Jotos, Kasus Berujung Laporan ke Polda
Advertisement
Teriakan Minta Tolong Ungkap Dugaan Penyiksaan di Karangwuni
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Bali United Rekrut Diego Campos Eks Winger Timnas Kosta Rika
- Teras Merapi Glagaharjo Legal, Sasar Sambungkan Rute Jip Merapi
- Mantan PM Korea Selatan Divonis 23 Tahun Penjara
- Final Piala Asia U-23 2026: China Tantang Dominasi Jepang
- SM Entertainment Siapkan Boy Group Baru, Libatkan Teknologi AI
- Tragedi N-Max Bonceng Tiga: Dua Pelajar Tewas di Sanden Bantul
- Kapten Vietnam U-23 Alami Cedera ACL, Menangis Bukan Karena Rasa Sakit
Advertisement
Advertisement



