Varian Baru Virus Corona di New York Kebal terhadap Vaksin

Seorang pria bersama anjing peliharaannya berjalan di kawasan toko-toko mewah yang tutup akibat merebaknya Covid-19 di Jalan 5th, Manhattan, Kota New York, New York, Amerika Serikat, Senin (11/5/2020). - Antara/Reuters
26 Februari 2021 16:47 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Varian baru virus Corona yang meningkat di New York City, Amerika Serikat, kebal terhadap vaksin Covid-19 yang beredar saat ini. 

Diketahui strain yang dijuluki B.1.526, muncul di New York pada November 2020 dan menyumbang sekitar 25 persen dari genom virus corona yang diurutkan pada Februari dan diposting ke basis data global, GISAID.

Para peneliti di California Institute of Technology lantas mengidentifikasi B.1.526 untuk mengetahui mutasi pada protein lonjakan virus atau struktur yang memungkinkan virus untuk mengikat dan memasuki sel manusia. 

Dari penelitian, ada dua versi garis keturunan atau mutasi B.1.526 dan dinilai mengkhawatirkan. Satu cabang memiliki mutasi yang disebut E484K, yang juga terlihat pada varian virus corona lainnya, termasuk yang teridentifikasi di Afrika Selatan dan Brasil. Mutasi ini dapat mengurangi kemampuan antibodi tertentu untuk menetralkan atau menonaktifkan virus dan dapat membantu virus corona menghindari sebagian vaksin Covid-19. Cabang lainnya memiliki mutasi yang disebut S477N, yang dapat membantu virus mengikat lebih erat ke sel.

Secara terpisah, para peneliti dari Universitas Columbia juga mengidentifikasi varian B.1.526 ketika mereka mengurutkan lebih dari 1.100 sampel virus dari pasien dengan Covid-19 di rumah sakit mereka. Ditemukan bahwa persentase pasien yang terinfeksi versi B.1.526 dengan mutasi E484K telah meningkat cukup pesat dalam beberapa pekan terakhir, dan sekarang menginfeksi 12 persen pasien mereka.

"Kami menemukan tingkat deteksi varian baru ini meningkat selama beberapa minggu terakhir. Kekhawatirannya adalah mungkin mulai menyalip strain lain, seperti varian Inggris dan Afrika Selatan," ujar Direktur Aaron Diamond AIDS Research Center di Columbia University yang memimpin studi Dr. David Hodikutip dari Live Science, Jumat (26/2/2021).

Kendati demikian Ho menambahkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah B.1.526 lebih unggul dari varian lain.

"Mengingat keterlibatan (mutasi) E484K atau S477N, dikombinasikan dengan fakta bahwa wilayah New York memiliki banyak kekebalan terhadap jenis virus corona sebelumnya dari gelombang musim semi, ini salah satu yang harus diperhatikan," tambah Kristian Andersen, seorang ahli virologi di Scripps Research Institute di San Diego.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia