Terkunci, Dua Putri Kraton Solo Tidur Beralaskan Tikar

Tikar yang digunakan Gusti Moeng tidur selama terkunci di dalam Kraton Solo. - Istimewa/Dok Gusti Timoer Rumbai
13 Februari 2021 16:37 WIB Ichsan Kholif Rahman News Share :

Harianjogja.com, SOLO—Dua putri Keraton Solo, Gusti Wandansari atau Gusti Moeng dan Gusti Timoer Rumbai belum keluar dari Keraton Solo hingga Sabtu (13/2/2021) pukul 14.00 WIB. Dua putri beserta tiga orang abdi dalem itu tidur beralaskan tikar di Keputren, Kraton Surakarta.

Gusti Timoer Rumbai kepada JIBI pada Sabtu (13/2/2021) mengatakan ia sebagai anak raja punya hak untuk tinggal di Kraton Solo. Namun, saat masuk ke lingkungan Keraton Solo, ia justri dikunci dari luar. Namun, ia menyebut terkunci di dalam keraton bukan menjadi kendala. Ia mengaku terbiasa hidup di lapangan. Ia justru mengkhawatirkan kondisi Gusti Moeng yang sudah cukup tua.

“Jumat (12/2/2021) hujan, kami tidur beralaskan tikar. Kami sehat-sehat saja, kami juga sempat mencari bunga pepaya untuk dimasak. Ini baru beberapa hari, kami kuat dulu beberapa bulan kok,”papar dia.

Ia mengaku ingin menyelamatkan tatanan, bangunan, dan generasi Kraton Solo. Ia meyakini persoalan ini bukan kehendak Sinuhun, bahkan ia juga meyakini Sinuhun tidak mengetahui persoalan ini.

“Kemarin malam logistik pertama kali bisa masuk, itu saja dari aparat. Logistik dari keluarga tidak bisa diterima,” imbuh dia.

Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak mengatakan peristiwa itu merupakan persoalan internal kraton dan diselesaikan secara internal pula. Ia menyebut kepolisian tetap berpatroli dan memantau situasi kondisi agar keamanan dan ketertiban masyarakat kondusif.

“Kalau seputar masalah internal keluarga keraton dipersilakan untuk diselesaikan secara keluarga pula. Kecuali ada tindakan melawan hukum baru masuk ranah kepolisian,” papar dia. 

Sebelumnya, Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Kraton Solo yang juga suami Gusti Moeng, KP Eddy Wirabhumi, mengirimkan makanan kepada lima orang yang tertahan di dalam keraton.

Penjaga yang mereka temui tidak membukakan pintu. Penjaga berkoordinasi dengan atasannya. Namun, sampai Jumat (12/2/2021) sore, warga yang datang mengantarkan makanan belum bisa masuk.

Eddy menjelaskan, Gusti Moeng (saudara PB XIII), Gusti Timoer (putri PB XIII), dan penari terkunci di dalam keraton. Mereka terkunci bermula ketika datang ke keraton setelah mendapatkan informasi adanya tamu dari Badan Pemeriksa Keuangan, Kamis.

“Gusti [Gusti Moeng] dapat informasi ada tamu mobilnya RI 10. Itu rupanya Ketua BPK. Gusti merasa berkepentingan untuk menyampaikan aspirasi. Karena beberapa saat lalu Gusti menerima surat dari BPK Semarang. Menanyakan pertanggungjawaban keuangan 2018. Karena ada Ketua BPK ke sini lalu Gusti masuk,” kata dia kepada wartawan.

Gusti Moeng masuk ke dalam Kraton Solo karena pintu terbuka. Namun, para  tamu dari BPK diarahkan ke bagian barat Keraton. Sejumlah pintu dikunci. Gusti Moeng berusaha mengakses Keputren untuk menemui BPK, namun malah terkunci sejak Kamis malam.

“Saya juga masuk tapi di sini saja [kompleks Kori Kamandungan Keraton Solo]. Lalu saya berusaha keluar pukul 22.00 WIB. Sebenarnya Gusti Mangkubumi mau mengirimkan nasi untuk Gusti [Moeng] karena gusti baru makan sama siang siang,” kata dia.

Menurut dia, listrik sempat padam Kamis malam dan peralatan untuk memasak air telah diambil. Gusti Moeng, Gusti Timoer, dan para penari makan roti milik salah satu pembantu. Sehingga mereka kemarin datang berniat mengirimkan makanan.

“Coba nanti dibuka atau tidak. Kalau dibuka alhamdulillah. Kalau enggak dibuka sangat disayangkan. Karena sebetulnya keraton itu bukan miliknya raja tapi milik dinasti. Pada saat PB XII jadi raja ya sudah jadi seperti ini. Sama seperti PB XII,” ungkapnya.

Dia mengatakan, sempat menemui sejumlah petugas polisi pada Kamis malam dan menyayangkan tindakan petugas tersebut. Polisi seharusnya menegakkan hukum secara adil dan menjamin aksesibilitas.

“Ini menjadi keprihatinan semua. Kraton terkunci. Mudah-mudahan kejadian empat tahun ini harus bisa diakhiri dan selesai dengan baik. Keluarga besar bisa menyatu kembali,” paparnya.

Sumber : JIBI/Solopos