Jangan Suka Makanan Olahan, Bisa Tingkatkan Risiko Kematian Akibat Jantung

Mengonsumsi makanan cepat saji, dan makanan dalam kemasan yang dipromosikan dengan slogan sehat bisa mengganggu kesehatan jantung - Reuters/Parivartan Sharma
05 Januari 2021 14:27 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition menyebut makanan olahan atau ultraproses meningkatkan risiko kematian dini akibat penyakit jantung.

Mengutip Insider, Selasa (5/1/2021), studi ini melibatkan 24.325 pria dan wanita berusia 35-45 tahun. Para ilmuan yang berasal dari Italia itu memantau data tentang kebiasaan makan serta hasil kesehatan partisipan.

Peneliti menemukan bahwa peserta yang makan banyak makanan olahan memiliki risiko lebih tinggi meninggal akibat penyakit kardiovaskular, serangan jantung, atau stroke dibandingkan mereka yang tidak.

Mereka yang mengalami peningkatan risiko berada pada kelompok partisipan yang mengonsumsi setidaknya 15-50 persen kalori harian dalam bentuk makanan ultraproses, atau setara 300-1.250 kalori makanan olahan sehari untuk kebanyakan orang, atau setara dengan 2-8 porsi hot dog, permen, soda, atau sejenisnya.

Orang-orang dalam kategori itu 58 persen lebih mungkin meninggal karena penyakit kardiovaskular selama penelitian dibandingkan rekan-rekan mereka yang paling sedikit mengonsumsi makanan ultraproses (tidak lebih dari kira-kira satu porsi sehari). Mereka juga 52 persen lebih mungkin meninggal karena stroke atau jenis penyakit kardiovaskular lainnya.

Ultraproses termasuk makanan yang diproduksi dengan aditif industri, seperti sirup jagung fruktosa tinggi dan minyak olahan. Bentuk makanan olahan ultraproses yang paling umum dalam penelitian Italia adalah pizza, kue, pai, dan daging olahan, termasuk yang diawetkan atau diasap seperti bacon dan sosis.

Namun definisi tersebut juga mencakup beberapa contoh seperti granola atau yogurt rasa, yang mungkin tampak sehat. Itu karena makanan ultraproses mengacu pada makanan apa pun yang dikemas dalam format siap makan, diproduksi di pabrik dengan pengental, pengawet, pewarna, dan bahan tambahan lainnya.

Makanan ini cenderung mengandung sirup jagung fruktosa tinggi, isolat protein, minyak biji olahan, dan bahan lain untuk mempertahankan rasa dan menjaganya tetap stabil untuk jangka waktu yang lama.

Contoh lain dari makanan ultraproses termasuk permen, soda, snack bar, makanan yang dipanggang seperti roti, margarin, minuman energi, hot dog, dan chicken nugget. Makanan ultraproses juga membuat kita makan lebih banyak gula.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa makanan ultraproses cenderung sangat enak, artinya dapat membuat kita lebih lapar dan mendorong makan berlebihan.

Para peneliti dalam studi terbaru ini berteori bahwa gula memainkan peran utama dalam risiko yang terkait dengan makanan yang diproses secara ultraproses. Mengonsumsi terlalu banyak gula sebelumnya telah dikaitkan dengan masalah kesehatan termasuk penyakit jantung, obesitas, dan diabetes. Bukti juga menunjukkan bahwa pemanis buatan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serupa.

Sumber : Bisnis.com