Kritik Pemerintah China, Sudah 3 Bulan Jack Ma Menghilang

Pendiri Alibaba Jack Ma menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - ANTARA/M Agung Rajasa
03 Januari 2021 22:27 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Salah satu orang terkaya Cina, Jack Ma, menghilang setelah mengkritik kebijakan Pemerintah China dalam sebuah pidato.

Jack Ma, 56 tahun, tidak terlihat di publik sejak Oktober 2020, menurut The Sun, 3 Januari 2021.

Jack Ma memperoleh kekayaannya setelah mendirikan Alibaba, yang dijuluki Amazon Asia, dan pernah menjadi tokoh favorit rezim komunis Cina.

Namun, mantan guru bahasa Inggris itu tiba-tiba diganti sebagai juri di final Africa’s Business Heroes, sebuah kontes TV bergaya Den Dragons untuk wirausahawan pemula.

Fotonya kemudian dihapus dari halaman web panel juri dan dia kemudian dikeluarkan dari video promosi.

Ayah dari tiga anak itu sebelumnya menulis di Twitter bahwa dia "tidak sabar" untuk bertemu dengan semua kontestan.

"Karena konflik jadwal, Tuan Ma tidak dapat lagi menjadi bagian dari panel juri terakhir Pahlawan Bisnis Afrika awal tahun ini," kata seorang juru bicara Alibaba.

Final berlangsung hanya beberapa minggu setelah Jack Ma berpidato yang mengecam regulator China dan bank-bank milik negara.

Bulan lalu, otoritas China tiba-tiba mengumumkan penyelidikan antimonopoli terhadap perusahaannya.

Regulator China dan pejabat Partai Komunis telah mulai mengekang bisnis Jack Ma setelah mengkritik sistem peraturan negara pada Oktober karena menghambat inovasi, Reuters melaporkan.

Jack Ma adalah salah satu orang terkaya di China dan dikenal karena menyumbang ke berbagai badan amal global.

Selama pandemi virus corona, dia telah menyumbangkan puluhan juta masker wajah di seluruh dunia. Dan bahkan, ketika ketegangan antara AS dan China semakin memanas, Jack Ma menyumbangkan 2.000 ventilator ke New York bersama rekannya Joe Tsai, yang diapresiasi Donald Trump, Daily Mail melaporkan.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir tidak ada aktivitas di akun Twitter-nya, yang biasanya memuat beberapa kicauan dalam sehari.

China memiliki sejarah membungkam miliarder pengkritik. Pada Maret, seorang taipan properti, Ren Zhiqiang, menghilang setelah dia menyebut Presiden Xi Jinping sebagai 'badut' karena penanganannya terhadap krisis virus corona.

Teman Ren Zhiqiang mengatakan bahwa mereka tidak bisa menghubunginya dan 6 bulan kemudian dia dijatuhi hukuman 18 tahun penjara setelah dia "secara sukarela dan jujur mengaku atas berbagai kejahatan korupsi."

Xian Jianhua, seorang pemodal miliarder, ditangkap dari sebuah hotel di Hong Kong pada 2017 dan dibawa ke China daratan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia