Kaum Milenial Kota Magelang Punya Potensi, Butuh Wadah Kembangkan Kreativitas

Windarti Agustina (tengah) bersama Eno Untari (kanan) saat Talkshow milenial Kota Magelang Mau Dibawa Kemana di Resto De'Menake Semesta Area, Desa Candirejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (1/12/2020). Kegiatan ini mengikuti protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan menggunakan penutup muka. - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
02 Desember 2020 07:47 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Jumlah penduduk usia muda atau kaum milenial di Kota Magelang saat ini sebanyak 30.000 hingga 35.000, atau hampir 30% dari penduduknya. Mereka memiliki potensi yang luar biasa dan membutuhkan wadah untuk mengembangkan kreativitasnya.

Hal itu terungkap dalam acara live talkshow dengan tema Milenial Kota Magelang Mau Dibawa Kemana yang menghadirkan narasumber aktivis Kota Magelang, Windarti Agustina dan seorang milenial Kota Magelang, Eno Untari. Kegiatan yang digelar di Warung Makan De'Menake Kompleks Rest Area Semesta Borobudur ini disiarkan melalui Youtube, Instagram dan Facebook Harian Jogja.

Windarti mengatakan milenial Kota Magelang memiliki potensi yang sangat beragam. "Mereka butuh tempat khusus untuk anak muda. Memang sudah ada karang taruna, namun ada juga yang belum terwadahi," kata Wakil Wali Kota Magelang periode 2015-2020 ini.

Baca juga: Libur Nataru, Penumpang Udara Diprediksi Hanya Naik 20 Persen

Menurutnya, tugas pemangku kepentingan untuk menyiapkan tempat bagi mereka. Ia mencontohkan seperti sebuah co working space untuk tempat pemuda berkumpul dan berdiskusi positif. Milenial juga membutuhkan market place untuk mewadahi mereka yang punya usaha. Selain itu, diperlukan pelatihan bagi para mileial muda yang memiliki bakat beragam tapi belum maksimal berkembang.

Windarti yang suka melakukan blusukan untuk menjumpai warga secara lebih dekat ini mengungkapkan sempat bertemu dengan milenial bergerak di bidang otomotif. "Mereka menganggap Kota Magelang punya potensi luar biasa tapi sarana prasanara terbatas, padahal prestasi mereka nasional dan internasional sudah punya nama. Tapi saat balik ke Magelang, belum maksimal Magelang dalam memberikan sarana wadah bagi kawula muda ini," katanya.

Selam pandemi ini, ia mengaku banyak bertemu dengan warga di Kota Magelang. Menurutnya, mereka banyak mengalami keterbatasan tetapi tetap semangat berkreasi. Salah satunya menggunakan media sosial untuk mendukung kegiatan mereka. Karenanya, ia yakin sebenarnya milenial di Kota Magelang memiliki kreativitas tinggi.

Baca juga: Agar Bisnis Tetap Untung di Tengah Pandemi, Perhatikan Hal Ini!

Saat ini, Pemkot Magelang sudah memiliki program yakni Kreativitas dan Inovasi (Kreanova) yang menjadi ajang kompetisi bagi warga termasuk milenial. Bahkan salah satu pesertanya bisa menang di tingkat nasional. "Jangan takut minta bimbingan pada pemerintah, bisa lewat BLK atau Technopark di Balitbang, ini salah satu cara kreativitas mereka bisa diekspose, kami berikan fasilitas itu," jelasnya.

Kota Magelang sebagai smart city, katanya, memberikan pelayanan publik yang dilengkapi dengan teknologi informasi yang ada. Internet tanpa kabel (wifi) gratis saat ini di hampir semua kelurahan, sehingga anak-anak muda yang di rumah tidak punya kuota bisa memanfaatkan untuk berada di sekitar kantor kelurahan.

Adapun Eno Untari mengungkapkan seni budaya bisa dikolaborasikan dengan teknologi. Para pelaku seni bisa berkesenian dan disaksikan seluruh dunia, sehingga pelaku seni diharapkan memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan diri. Namun, ia mengaku bahwa untuk berkarya di bidang seni, seperti membuat film, butuh peralatan yang tidak murah sehingga perlu dukungan fasilitas dari Pemerintah.

"Kaum muda di Kota Magelang sudah tidak asing lagi dengan gadget, yang dimanfaatkan dengan maksimal, banyak yang sudah memanfaatkan produk mereka, seperti editing video hingga tumbuhkan semangat wirausaha, mengajar, membuat makanan, produk-produk yang dipasarkan dengan market place dan medsos. Jadi, milenial di Kota Magelang ini adaptif," katanya.