Pengungsi Merapi Terus Bertambah

Penampakan Gunung Merapi dari Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Jumat (6/11/2020). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
08 November 2020 17:27 WIB Taufik Sidik Prakoso News Share :

Harianjogja.com, KLATEN – Jumlah warga yang mengungsi karena status Gunung Merapi meningkat me jadi Siaga terus bertambah. Sebanyak 175 warga sudah mengungsi dari dua desa terdekat dengan puncak Gunung Merapi di wilayah Klaten.

Seratusan warga itu berasal dari Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang dan Desa Balerante, Kecamatan Kemalang. Warga Tegalmulyo sudah mengungsi di balai desa setempat mulai Jumat (6/11/2020) malam dan jumlahnya bertambah pada Sabtu (7/11/2020) malam menjadi 108 orang. Sementara, warga Desa Balerante, Kecamatan Kemalang mulai mengungsi di balai desa setempat mulai Sabtu sore sebanyak 67 orang.

BACA JUGA: Malioboro Tertutup untuk Kendaraan Bermotor Bikin Toko Tekor

Kaur Perencanaan Desa Balerante, Jainu, mengatakan warga yang sudah mengungsi di balai desa merupakan kelompok rentan terdiri dari lansia dan balita. Mereka berasal dari tiga dukuh yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) III meliputi Dukuh Sambungrejo, Ngipiksari, serta Gondang.

Para pengungsi menempati gedung aula kantor desa setempat. Ada dua orang yang ditempatkan pada ruangan khusus yakni menempati gedung TK yang berada di belakang aula kantor desa. Mereka ditempatkan pada ruangan khusus lantaran mengalami lumpuh dan sakit stroke.

Jainu menjelaskan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 tetap diterapkan di lokasi pengungsian. ”Memang tidak menggunakan sekat. Tetapi, mereka tetap menjaga jarak,” kata Jainu saat ditemui JIBI di balai desa setempat, Minggu (8/11/2020).

Selain itu, para sukarelawan yang tergabung dalam organisasi pengurangan risiko bencana (OPRB) Desa Balerante juga mewajibkan setiap warga luar desa yang datang ke barak pengungsian mengisi buku tamu. Hal itu dimaksudkan untuk mengetahui identitas diri serta asal daerah pendatang tersebut.

BACA JUGA: Diterjang Ombak Besar, Perahu Nelayan Pantai Trisik Terbalik

Pada tempat pengungsian sementara itu juga sudah didirikan dapur umum didukung dari Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Klaten. Tenaga memasak di dapur umum untuk sementara masih bisa terkaver dari warga desa setempat.

Soal logistik, Jainu menjelaskan sudah ada suplai logistik dari BPBD Klaten seperti mi instan, beras, serta gula. “Kami masih ada kekurangan terutama untuk bahan sayur mayur dan lauk pauk. Saya sudah konfirmasi ke BPBD untuk sayur mayur segera dikirim pada Minggu siang,” kata Jainu.

Berdasarkan pantauan, pada Minggu siang barak pengungsian di Desa Balerante mendapatkan suplai sayur mayur. Bantuan itu datang dari salah satu warga Desa Panggang, Kecamatan Kemalang.

Jainu menjelaskan belum semua kelompok rentan di wilayah KRB III melakukan evakuasi ke barak pengungsian. Di tiga dukuh yang masuk kawasan rawan bahaya, ada sekitar 112 keluarga dengan jumlah total warga sebanyak 504 jiwa.

BACA JUGA: Warga Kulonprogo Diminta Perketat Pengawasan Pelaku Perjalanan

Warga yang sudah berada pada barak pengungsian adalah mereka yang masuk kelompok rentan serta terkendala sarana transportasi. “Ada lansia yang memang sementara ini masih bertahan di rumah karena keluarga sudah siap mengevakuasi mereka secara mandiri menggunakan sepeda motor atau kendaraan lain yang dimiliki. Sementara, mereka yang sudah dievakuasi ini karena ada yang memang keluarganya tidak memiliki kendaraan. Termasuk orang sakit kami dahulukan untuk evakuasi menggunakan ambulans,” jelas Jainu.

Soal ternak, Jainu menjelaskan tempat evakuasi ternak sudah disiapkan di belakang kantor desa setempat. Namun, warga belum mengevakuasi hewan ternak mereka.

Lebih lanjut, Jainu menjelaskan sebagian pengungsi pulang ke rumah mereka masing-masing pada keesokan harinya untuk memberikan pakan ternak mereka dan tetap menginap di barak pengungsian pada malam harinya. Sebagian lainnya tetap berada di kantor desa. Berdasarkan pantauan, ada belasan orang yang tetap berada di barak pengungsian kantor Desa Balerante, Minggu siang. Mereka mayoritas lansia, perempuan, serta balita.

BACA JUGA: Covid-19 di DIY: Penambahan Kasus Baru dan Pasien Sembuh Berimbang

Sementara itu, Ketua Organisasi Pengurangan Risiko Bencana (OPRB) Desa Tegalmulyo, Subur, menjelaskan penambahan jumlah warga yang mengungsi di balai desa. Jika pada Jumat malam hanya sekitar 75 orang, jumlahnya menjadi 108 orang pada Sabtu malam. Mereka yang mengungsi merupakan kelompok rentan seperti lansia serta balita. “Bertambahnya pengungsi memang karena atas keinginan mereka sendiri, tidak ada yang memerintah. Mereka sudah menganggap, mengungsi saat ini sudah menjadi satu kebutuhan untuk selamat. Kami sendiri juga kaget dari malam pertama itu 75 orang, sementara tadi malam menjadi 108 orang. Tetapi, kagetnya kami kaget senang karena mereka menyadari tentang ancaman bahaya,” kata Subur.

Soal logistik, Subur menjelaskan untuk sementara kebutuhan logistik terutama bahan pangan masih mencukupi. Pada Minggu, ada kelompok nonpemerintah yang menyalurkan bantuan ke Tegalmulyo. “Untuk sayur mayur bisa kami carikan di sekitar kami,” kata dia.

Sumber : JIBI/Solopos