Tak Lazim, Wanita 71 Tahun Terinfeksi Virus Corona Selama 70 Hari Tanpa Gejala

Ilustrasi. - Freepik
07 November 2020 10:27 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebuah laporan baru menyatakan seorang wanita dengan Covid-19 di negara bagian Washington, Amerika Serikat melepaskan partikel virus selama 70 hari, kendati tidak pernah menunjukkan gejala penyakit.

Wanita berusia 71 tahun itu mengidap jenis leukemia atau kanker sel darah putih, sehingga sistem kekebalan tubuhnya melemah dan kurang mempu membersihkan tubuhnya dari paparan virus corona baru.

Kendati para peneliti telah menduga bahwa orang dengan sistem kekebalan lemah dapat menularkan virus lebih lama dari biasanya, hanya ada sedikit bukti tentang hal tersebut bahkan hingga saat ini.

Dilansir dari Live Science, Jumat (6/11) temuan tersebut bertentangan dengan pedoman dari Center for Diseases Control and Prevention (CDC) yang menyatakan orang yang mengalami gangguan kekebalan dengan Covid-19 kemungkinan tidak akan menular setelah 20 hari.

Laporan yang dirilis pada awal bulan ini di jurnal Cell menunjukkan bahwa penumpahan jangka panjang dari virus menular mungkin harus menjadi menjadi perhatian para pasien imunokompromi tertentu, seperti yang terjadi pada wanita dari Washington.

Vincent Munster, penulis penelitian dan ahli virus di National Institute of Allergy and Infectious Diseases mengatakan karena virus terus menyebar, lebih banyak orang dengan gangguan imunosupresif akan terinfeksi, dan penting untuk memahami perilaku virus pada populasi itu.

Kasus yang tidak biasa

Wanita tersebut dilaporkan terinfeksi pada akhir Februari selama wabah Covid-19 pertama dilaporkan. Dia dirawat di rumah sakit karena anemia terkait kankernya dan dites positif pada 2 Maret.

Selama 15 minggu ke depan, dia dites Covid-19 lebih dari selusin kali. Virus terdeteksi di saluran pernapasan bagian atas selama 105 hari dan partikel virus yang menular terdeteksi setidaknya selama 70 hari.

Secara khusus, para peneliti mampu mengisolasi virus dari sampel pasien dan menumbuhkannya di laboaratorium. Mereka bahkan mampu menangkap gambaran virus menggunakan pemindaian dan transmisi mikroskop elektron.

Menurut laporan tersebut, biasanya orang dengan Covid-19 menular selama sekitar 8 hari setelah terinfeksi. Sebelumnya, durasi terlama penyebaran virus menular pada pasien virus corona baru dilaporkan mencapai waktu selama 20 hari.

Wanita itu kemungkinan besar tertular begitu lama karena tubuhnya tidak meningkatkan respons Imun tubuh yang tepat. Dari penelitian yang dilakukan, terlihat sampel darah wanita tersebut tampaknya tidak mengandung antibodi terhadap virus.

Dia dirawat dengan dua putaran plasma pemulihan, upaya menyuntikkan darah pasien Covid-19 yang telah pulih yang mengandung antibodi untuk melawan virus yang menyebabkan penyakit.

Dia dinyatakan bersih dari infeksi setelah perawatan kedua, kendati tidak ada cara untuk mengetahui apakah plasma pemulihan membantu atau tidak, karena dia masih memiliki konsentrasi antibodi yang rendah setelah transfusi dilakukan.

Para peneliti juga melakukan pengurusan genetik SARS-CoV-2 dari infeksi wanita tersebut. Mereka melihat bahwa virus mengembangkan beberapa mutasi dari waktu ke waktu di dalam tubuh pasien.

Namun, mutasi itu tidak memengaruhi seberapa cepat virus bereplikasi. Selain itu, peneliti juga tidak melihat bukti bahwa mutasi itu memberi virus kemampuan untuk bertahan hidup lebih lama sehingga menyebabkan fenomena itu terjadi.

Misteri yang belum terpecahkan

Penulis penelitian menyatakan bagaimana tepatnya wanita itu membersihkan virus tidak diketahui dan merupakan hal yang masih harus diperiksa dalam penelitian lebih lanjut, melibatkan pasien dengan sistem kekebalan yang lemah.

Selain itu, Peneliti juga tidak tahu mengapa wanita itu tidak pernah mengalami gejala Covid-19 meskipun sistem kekebalannya etrganggu, yang menempatkannya pada risiko lebih tinggi terkena penyakit parah.

Munster mengatakan kepada Live Science bahwa status imunokompromi akan memungkinkan virus menyebar dari atas ke saluran pernapasan bawah, "Meskipun pasien terinfeksi setidaknya selama 105 hari, ini jelas tidak terjadi. Ini tetap menjadi misteri bagi kami," katanya.

Para penulis mencatat bahwa penelitian mereka hanya melibatkan satu kasus, sehingga temuan tersebut mungkin tidak berlaku untuk semua pasien dengan kondisi yang menekan sistem kekebalan tubuh pasien.

Di Amerika Serikat, diperkirakan 3 juta orang memiliki kondisi imunokompromi - termasuk orang dengan HIV dan mereka yang telah menerima transplantasi sel induk. Mereka menyimpulkan penting untuk memahami mekanisme persistensi virus terkait hal ini.

"Memahami mekanisme persistensi virus dan pembersihan akhirnya [pada pasien dengan gangguan kekebalan] akan sangat penting untuk menyediakan pengobatan yang tepat dan mencegah penularan SARS-CoV-2," catat penulis penelitian.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia