Vaksin Merah Putih Siap Uji Klinis pada Hewan, Ini Tanggapan Menristek

Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memberikan penjelasan terkait kebijakan pemerintah dalam Talkshow bertajuk "Vaksin Covid-19 Selangkah Lagi" yang dihelat Solopos, Senin (26/10/2020) - Youtube/Solopos TV
26 Oktober 2020 20:57 WIB Aprianus Doni Tolok News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pengembangan vaksin Merah Putih oleh Lembaga Eijkman mulai memasuki tahap uji klinis pada hewan. Bibit vaksin itu pun ditargetkan bisa diserahkan ke PT Bio Farma (Persero) pada Januari 2021.

“Pada intinya, pengembangan vaksin Merah Putih masih on time, saat ini persiapan untuk uji hewan, harapannya bulan Januari [2021] itu sudah diserahkan bibit vaksinnya ke Bio Farma,” kata Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro, seperti dikutip dari YouTube SoloPos TV, Senin (26/10/2020).

BACA JUGA : Soal Vaksinasi Covid-19 di Jogja, Ini Kata Sultan

Lebih lanjut, saat ini vaksin buatan dalam negeri tersebut dikembangkan oleh enam institusi di antaranya Lembaga Eijkman dengan pendekatan protein rekombinan; LIPI dengan pendekatan yang kurang lebih sama; Universitas Indonesia (UI) dengan tiga pendekatan seperti RNA dan DNA; dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Sub-kloning ke plasmid antara.

Bercermin pada hal tersebut, Menristek Bambang meyakini bahwa kemampuan riset lembaga atau institusi di Indonesia sudah cukup mumpuni tetapi karena pandemi Covid-19 membutuhkan percepatan dalam pengembangan vaksin maka jalur impor tetap dibutuhkan.

“Riset mengenai vaksin itu jarang yang sebentar. Jadi untuk riset vaksin Covid-19 memang di luar kebiasaan, waktunya relatif pendek karena kebutuhan yang luar biasa,” katanya.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: DIY Butuh 3,8 Juta Vaksin

Sebagai produsen utama vaksin Merah Putih, Bio Farma menyanggupi produksi hingga 100 juta dosis per tahun, kemudian naik menjadi 150 juta dosis pada akhir tahun ini, dan 250 juta dosis per tahun pada akhir 2021.

Namun, jika melihat pada kebutuhan vaksin bagi seluruh penduduk Indonesia yakni sekitar 270 juta dengan asumsi dua dosis vaksin per orang, maka kapasitas produksi Bio Farma belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kita sudah menggandeng atau berkomunikasi dengan beberapa pabrik swasta seperti Kalbe Farma, Sanbe Farma, Daewoong, Biotis, dan Tempo Scan,” ujar Menristek.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: Zona Merah Prioritas Vaksinasi

Seluruh pabrik swasta tersebut, sambungnya, siap menambah kapasitas produksi vaksin Merah Putih yang jika ditotal mencapai 1,3 miliar dosis per tahun, jika proses investasi telah rampung dan izin dari Badan POM sudah dikantongi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia