Kasus Covid-19 di Magelang Mayoritas Klaster Keluarga, Ini Upaya Pemkab Mengatasinya

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang Retno Indriastuti (kiri) dan Camat Grabag Sri Utari (kanan). - Harian Jogja/Nina Atmasari
25 Oktober 2020 22:37 WIB Nina Atmasari News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Penambahan kasus positif Covid-19 di Kabupaten Magelang mayoritas terjadi di klaster keluarga. Dinas Kesehatan berupaya mengatasinya dengan memaksimalkan edukasi keluarga tentang pentingnya protokol kesehatan serta menghidupkan Jogo Tonggo mengerahkan warga di sekitarnya.

Data dari Satgas Covid-19 pada Sabtu (24/10/2020) ada tambahan 14 kasus positif baru, 21 sembuh dan satu meninggal. Dengan penambahan itu, jumlah kumulatif menjadi 950 orang. Rinciannya, 166 dirawat dirumah sakit dan menjalani isolasi mandiri, 759 sembuh dan 25 meninggal.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang Retno Indriastuti menyebutkan saat ini kasus positif Covid-19 di wilayah ini terbesar dari klaster keluarga, meski ia tidak bisa menyebut angka pastinya. "Berapa persen, belum kita hitung. Tapi mayoritas," katanya, akhir pekan lalu.

Dari fenomena ini, pihaknya kemudian berupaya mengatasinya. Menurutnya perlu dilakukan evaluasi tentang isolasi mandiri (isman). Ketika ada satu orang positif, harapannya tidak menularkan pada lingkungannya. "Karena 1 orang, positif [Covid-19] boleh, tapi harapannya tidak menularkan pada lingkugannya, baik lingkungan terdekat maupun lingkungan luar. Ini malah keluarga," jelasnya.

Retno membantah ini menunjukkan adanya kegagalan isolasi mandiri. Namun menurutnya, perlu ada peningkatan kepatuhan dari pasien Covid-19 dan anggota keluarganya untuk betul-betul menerapkan prokokol kesehatan penanganan Covid-19. Ia menyayangkan saat ditemukan satu kasus positif, di mana yang bersangkutan tinggal bersama 4 anggota keluarganya, lingkungannya tersebut ikut kena, bisa dua atau tiga orang di keluarganya tersebut.

Dari kasus semacam itu, maka perlu ditinjau bagaimana disiplin penerapan protokol kesehatan yang dilakukan di pasien maupun anggota keluarga tersebut, apakah sudah sesuai instruksi tenaga kesehatan atau belum.

BACA JUGA: PAUD di Bantul Gelar Tatap Muka, Disdikpora Bantul Bersuara...

Atas dasar itu, ia menyebutkan ada dua cara yang dilakukan untuk mengatasi tingginya kasus di klaster keluarga. Pertama adalah edukasi pada yang bersangkutan dan keluarganya. "Bagaimana agar penerapan protokol kesehatan dilakukan sesuai yang sudah diistruksikan," sebutnya.

Kedua yakni meminta bantuan warga sekitar rumah dengan prinsip Jogo Tonggo. Warga diajak ikut mengawasi penerapan protokol kesehatan di lingkungannya. Unit Jogo Tonggo terkecil yakni tingkat RW diminta mengawasi keluarga yang melakukan isolasi mandiri tersebut.

Retno mencontohkan jika rumah warga yang harus melakukan isolasi tersebut kecil sehingga tidak memungkinkan untuk tinggal terpisah, maka peran tim Jogo Tonggo yang harus berpikir pasien positif tersebut perlu diungsikan ke lokasi lain. "Tujuannya agar lebih aman untuk semua, baik si positif maupun keluarga dan lingkungannya," jelas Retno.

Camat Grabag, Sri Utari mengungkapkan saat awal ada pandemi Virus Covid-19, Bupati memerintahkan dibentuknya tim gugus tugas untuk penanganan virus tersebut, melibatkan Forum Kooordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), kepala desa dan tokoh masyarakat. Ia pun langsung melaksanakannya.

Gugus tugas itu tugasnya menggalakkan disiplin protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. Sosialisasi ini dilakukan di berbagai kesempatan. "Kegiatan menggiatkan pemakaian masker dilakukan dengan operasi rutin seminggu dua kali," katanya.

Dari upaya penegakan protokol kesehatan yang dilakukan oleh gugus tugas saat itu, pada Maret hingga Juni, di Grabag zero kasus Covid-19. Selanjutnya saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mencanangkan program Jogo Tonggo, ia pun langsung menindaklanjuti dengan mengumpulkan kades dan komunitas di Grabag.

"Kami melihat di media sosial ada penolakan. Kami koordinasi dengan kades-kades memahamkan bahwa positif [Covid-19] tidak harus dijauhi, tetapi harus memutus mata rantainya. Kalau ada kasus positif harus betul-betul peduli," jelasnya.

Ia bersyukur hampir semua pihak yang terlibat itu miliki kesadaran luar biasa. Saat ada kasus positif di era menuju new normal ini, pasien positif betul-betul diisolasi. Pasien tidak boleh sosialisasi dengan tetangga termasuk beli sayuran. Kebutuhan warga yang melakukan isolasi mandiri dicukupi oleh warga di sekitarnya, termasuk kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan sayuran.

Adapun saat pandemi Covid-19 sudah berlangsung lebih dari delapan bulan ini, menurutnya kepatuhan warga Grabag terhadap protokol kesehatan masih tinggi. "Kepedulian di masyarakat Grabag, di rumah-rumah sekarang susah cari yang tidak ada tempat cuci tangan, hampir semua rumah warga sudah ada," katanya.