Tips Menjaga Timbangan Tetap Seimbang di Tengah Pandemi

Timbangan badan - Istimewa
20 Oktober 2020 09:37 WIB Rezha Hadyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Tidak sedikit orang yang mengeluhkan berat badan yang naik saat pandemi Covid-19. 

Keharusan untuk tetap berada di rumah ditambah lagi penutupan fasilitas olahraga setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan membuat banyak orang terjerumus ke gaya hidup tidak sehat.

Belum lagi kebiasaan mencamil yang makin menjadi-jadi lantaran dapat dilakukan dengan leluasa sembari bekerja atau belajar di rumah. Ditambah lagi hadirnya layanan pesan antar makanan lewat ojek daring yang mendukung kebiasaan tersebut.

Salah satu yang merasakannya adalah Aga Devega, berat badannya melonjak cepat semenjak pandemi merebak. Berat badannya ternyata mengalami kenaikan hampir 10 kg dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.

Baca Juga: 5 Manfaat Bawang Putih untuk Kesehatan

Menyadari hal tersebut, perempuan yang bekerja di salah satu perusahaan teknologi finansial itu memutuskan untuk menjalani diet ketat. Kebiasaannya mencamil dia hentikan, porsi makanan berkarbohidrat dikurangi, menambah porsi buah dan sayuran, bahkan konsumsi makanan dan minuman manis dihentikan.

Selain itu, dia juga rutin mengonsumsi yoghurt dengan kadar gula rendah setiap pagi bersama dengan secangkir teh hijau. Tentunya juga dibarengi dengan menu makan rutinnya yang tak jauh-jauh dari kentang atau ubi ungu dipadukan dengan sayuran dan buah-buahan.

Selama lebih dari dua bulan berjibaku dengan menu hambar itu, berat badan Aga akhirnya turun lebih dari 10 kg. Tentunya perjuangan itu juga dibarengi dengan aktivitas olahraga Zumba.

Kini diet yang dilakukan Aga tak lagi seketat sebelumnya. Dia mulai makan menu makanan normal dengan porsi dikurangi dari sebelumnya. Camilannya diganti dengan buah-buahan tinggi kadar vitamin.

Makanan berminyak, bersantan, dan berkadar gula tinggi sebisa mungkin dia hindari. Tujuannya, sudah jelas agar berat badannya terjaga di angka ideal dan tubuhnya tetap fit dalam kondisi seperti saat ini.

Lantas, bagaimana sebenarnya pola makan yang tepat untuk menjaga berat badan ideal dan tentunya terhindar dari penyakit yang diakibatkan oleh pola konsumsi yang keliru?

Menurut Ahli gizi dari Ahli gizi dr. Tan & Remanlay Institute dr. Tan Shot Yen, untuk menjaga agar berat badan tetap ideal dan tidak mudah tertular penyakit caranya mudah saja. Cukup terapkan pola makan gizi seimbang dan batasi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih setiap harinya.

Gizi seimbang yang dimaksud adalah konsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan dengan porsi yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing, bergantung pada usia, aktivitas yang dilakukan, hingga kondisi fisiologis.

Baca Juga: Jumlah Pendaftar Calon Anggota KPPS Penuhi Target

Adapun untuk konsumsi gula, garam, dan lemak bisa mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 30/2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak Serta Pesan Kesehatan pada Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji.

Jumlah gula yang boleh dikonsumsi setiap harinya tak boleh lebih dari 50 gram atau setara dengan empat sendok makan. Kemudian untuk garam dan lemak masing-masing setiap harinya maksimal dikonsumsi 5 gram (satu sendok teh) dan 67 gram (lima sendok makan)

Kemudian yang tak kalah penting adalah mengurangi konsumsi makanan olahan, terlebih yang menggunakan bahan baku gula rafinasi. “Rafinasi adalah produk yang awalnya bersumber dari alam, tetapi dengan rentetan proses akhirnya tiba di tangan konsumen sebagai barang yang beda banget dengan kebaikan aslinya.”

Dampak Gula Rafinasi

Makanan olahan dengan bahan baku gula rafinasi juga punya potensi membuat daya tahan tubuh melemah. Tentunya bukan hal yang baik, terlebih di tengah kondisi pandemi seperti saat ini.

Selain gula rafinasi, yang perlu diperhatikan adalah keberadaan gula tersembunyi pada makanan olahan. Keberadaannya seringkali tak disadari dan tak tertulis pada tabel informasi nilai gizi.

Gula tersembunyi ini biasanya diberi nama lain dengan akhiran -ol seperti (manitol, sorbitol, xylitol dll.), diimbuhi madu, dan terakhir adalah sirup jagung atau high fructose corn syrup.

Sumber : bisnis.com