Penelitian: Sakit Kepala Berdenyut-denyut Jadi Gejala Infeksi Corona

Sakit kepala - raleighmidtownchiropractic.com
06 Oktober 2020 19:47 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Para peneliti mengungkap gejala baru virus corona. Mereka menilai sakit kepala dengan rasa berdenyut-denyut bisa menjadi tanda Covid-19 yang buruk.

Sebuah studi, yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Clinical and Translational Neurology pada 5 Oktober, termasuk survei yang dilakukan di antara 509 pasien virus corona di berbagai rumah sakit Northwestern Medicine di Chicago, menemukan bahwa hampir 38 persen dari pasien tersebut mengalami sakit kepala di beberapa titik selama periode infeksi. Orang-orang lebih mungkin menghadapi gejala neurologis selama perjalanan penyakit mereka

"Ini adalah studi pertama dari jenisnya di Amerika Serikat. Hanya ada dua makalah yang diterbitkan yang menjelaskan prevalensi manifestasi neurologis pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit di Cina dan Eropa," ujar Igor Koralnik, rekan penulis studi dan MD yang mengawasi Klinik Neuro Covid-19 di Rumah Sakit Memorial Northwestern, seperti dikutip dari Times of India, Selasa (6/10/2020).

Studi melaporkan bahwa hampir 82 persen pasien yang menderita virus corona mengalami gejala neurologis. 43 persen mengalami gejala pada tahap awal sementara 63 persen menghadapi gejala neurologis selama mereka dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, angka-angka ini menunjukkan bahwa sakit kepala adalah salah satu gejala Covid-19 neurologis paling umum, yang mengharuskan penderitanya segera dirawat di rumah sakit.

Penelitian lebih lanjut menyatakan bahwa pasien dengan manifestasi neurologis mengalami rawat inap lebih lama.

Para peneliti juga menyimpulkan bahwa ensefalopati dikaitkan dengan hasil fungsional yang lebih buruk pada pasien rawat inap dengan Covid-19, dan mungkin memiliki efek yang bertahan lama. Ensefalopati adalah istilah umum yang digunakan untuk menekankan pada penyakit otak, kerusakan, atau kerusakan. "32 persen pasien yang dirawat di rumah sakit akhirnya mengalami perubahan fungsi otak yang menyebabkan sakit kepala," tutur Koralnik.

Lebih dari dua pertiga pasien yang mengalami kerusakan fungsi otak tidak mampu merawat diri sendiri bahkan setelah meninggalkan rumah sakit. Di sisi lain, 90 persen pasien yang tidak mengembangkan ensefalopati tidak menghadapi masalah apapun setelah mereka keluar dari rumah sakit.

"Pasien dan dokter perlu menyadari frekuensi tinggi manifestasi neurologis Covid-19 dan tingkat keparahan fungsi mental yang berubah terkait dengan penyakit ini," kata Koralnik.

Sumber : Bisnis.com