Ini 19 Aplikasi yang Bisa Dibuka dengan Kuota Gratis Kemendikbud

Guru memberikan materi saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kepada siswa baru secara daring di SMA Negeri 8 Jakarta, Senin (13/7/2020). Kegiatan MPLS dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sekolah tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran COVID-19 di lingkungan sekolah. ANTARA FOTO - Rivan Awal Lingga
29 September 2020 21:37 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Fasilitas kuota Internet Gratis yang dibagikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk pelajar dan pengajar bisa dimanfaatkan untuk membuka 19 aplikasi belajar.

Kuota Internet gratis ini dibagikan khusus untuk pelajar dan pengajar yang melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring.

Kemendikbud membagi kuota gratis yang diberikan kepada pelajar dan pengajar masing-masing 5GB untuk kuota umum yang bisa digunakan untuk membuka situs apapun dan kuota belajar yang besarannya berbeda untuk tiap jenjang.

Untuk PAUD mendapat kuota belajar 15 GB, jenjang dasar hingga menengah 30 GB, guru PAUD dan pendidikan dasar 37 GB, mahasiswa dan dosen 45 GB dengan durasi 4 bulan dan diperbarui tiap 30 hari.

Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud Hasan Chabibie menyebutkan bahwa sampai saat ini kuota belajar bisa digunakan untuk membuka 19 aplikasi dan website pembelajaran, termasuk WhatsApp dan aplikasi konferensi video lainnya.

Ke-19 aplikasi tersebut yaitu:

Aplikasi dan website Aminin

Aplikasi dan website Ayoblajar

Aplikasi dan website Bahaso

Aplikasi dan website Birru

Aplikasi dan website Cakap

Aplikasi dan website Duolingo

Aplikasi dan website Edmodo

Aplikasi dan website Eduka system

Aplikasi dan website Ganeca digital

Aplikasi dan website Google Classroom

Aplikasi dan website Kipin School 4.0

Aplikasi dan website Microsoft Education

Aplikasi dan website Quipper

Aplikasi dan website Ruang Guru

Aplikasi dan website Rumah Belajar

Aplikasi dan website Sekolah.Mu

Aplikasi dan website Udemy

Aplikasi dan website Zenius

Aplikasi Whatsapp

“Terkait dengan website lain seperti Youtube, yang dikatakan banyak sekali sumber bahan belajar. Di sana banyak juga hiburannya. Jadi kami tidak ingin kuota ini salah sasaran. Yang ingin kami tekankan adalah agar kuota bisa dimanfaatkan sebaik mungkin,” jelas Hasan.

Adapun, Hasan menegaskan bahwa ke depannya daftar aplikasi yang dapat diakses akan terus diperbarui oleh Kemendikbud.

“Jadi 19 aplikasi ini bukan harga mati. Ini kami persiapkan dalam waktu mendadak apa saja yang bisa diakses. Kalau ada sekolah atau kampus yang selama ini mengelola atau bekerja sama dengan startup belajar, silakan diinformasikan ke Kemendikbud, ULT, pusdatin, aplikasi apa saja yang biasa diakses yang bagus untuk pembelajaran,” ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis.com