Kesaksian Pasien Covid-19: Sembuh Berkat Imun dan Puasa Medsos

Wali Kota Bogor Bima Arya keluar dari bilik disinfektan saat menuju ruang pelantikan pejabat struktural di lingkungan Pemerintah Kota Bogor di Ruang Paseban Sri Baduga, Balaikota Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/4/2020). Wali Kota Bogor Bima Arya dengan menggunakan masker dan sarung tangan kembali bertugas dan memimpin jalannya pemerintahan setelah dinyatakan sembuh total dari Covid-19. - Antara
26 September 2020 21:47 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda bakal segera mereda.

Meski demikian, tak menutup kemungkinan bagi penderita untuk segera sembuh. Sejumlah penyintas Covid-19 di awal berbagi cerita, “belajar bersama” dengan para tenaga kesehatan.

Menurut para penyintas, Covid-19 tak hanya menyerang fisik, tapi juga psikis para penderitanya. Mereka yang panik saat tahu terpapar Covid-19 bakal makin drop dan malah berakibat fatal.

Sebaliknya, mereka yang tenang dan tetap semangat justru bisa cepat pulih dan sembuh. Baru-baru ini, Rektor IPB Arief Satria sembuh dari Covid-19 dalam waktu tak sampai sepekan.

Arief mengungkapkan beberapa kunci utamanya adalah banyak istirahat, minum multivitamin, sampai minum ramuan herbal dan tetap berpikiran positif.

“Saya melihat Covid-19 ini soal iman dan imun. Jadi, kalau Ibnu Sina mengatakan kepanikan adalah separuh dari penyakit, ketenangan adalah separuh dari obat dan separuh dari kesembuhan,” kata Arief dalam diskusi publik di Youtube, Sabtu (26/9/2020).

Arief juga mengonsumsi obat-obat herbal, mulai dari kayu putih, propolis, ekstrak manggis dan sebagainya yang disebut bisa memulihkan dalam waktu 4-5 hari.

“Kayu putih direndam air panas kemudian uapnya dihirup, banyak makan telur, minum susu, istirahat dan cek saturasi setiap hari, bisa pulih dalam 4-5 hari. Itu jadi sugesti yang baik buat saya bahwa dalam waktu 4-5 hari bisa sembuh, dan Alhamdulillah terjadi,” ujarnya.

Hobi

Arief juga melakukan kegiatan dan hobi yang disukai agar pikiran tetap tenang, senang dan positif.

“Istirahat di RS cukup banyak, dikontrol terus, di RS juga saya usahakan buat suasana hati gembira, tenang, banyak baca Alquran, ingat Allah itu jadi ketenangan hati. Lalu lakukan hobi kita, saya buat lagu, dengarkan lagu, murattal, mengaji,” ujar Arief.

Di kesempatan yang sama, Wali Kota Bogor Bima Arya juga bercerita sebagai salah satu penyintas Covid-19 di awal pandemi.

Menurutnya pada masa itu lebih sulit karena tidak ada penyemangat dari para penyintas lain atau informasi terkait apa saja yang bisa dilakukan supaya bisa cepat lepas dari serangan virus bandel itu.

“Generasi saat ini yang menjalani ujian Covid-19, menurut saya posisinya lebih baik dari yang terkena pas awal-awal. Saya pasien pertama di Bogor, jadi nggak ada tempat bertanya. Dokternya bahkan nggak tahu saya mau diobati apa. “Pak Wali kan tahu kalau ini belum ada obatnya,” dia bilang,” terang Bima.

Setelah itu, menuju kesembuhan ujung-ujungnya soal keyakinan, ujian keimanan, dan dimensi spiritual karena secara medis banyak yang masih harus diteliti lebih lanjut.

rektor

Rektor IPB Arief Satria. JIBI/Bisnis-Novita Sari Simamora.

Puasa Media Sosial

Salah satu kunci utama ketenangan menghadapi Covid-19 dari Bima adalah dengan puasa media sosial.

“Hari ketiga saya sakit Presiden Jokowi telepon, di situ saya minta agar para pasien positif disarankan bukan hanya social distancing, tapi juga social media distancing karena bikin stres, buat imunitas drop,” imbuhnya.

Virus Corona, katanya, menyerang pikiran, perasaan, dan pernapasan. Kalau para pasien bisa menangani perasaannya terlebih dahulu, pasti yang lain juga bisa diatasi.

Bima menyebut, rencananya para penyintas akan terus berkampanye bahwa Covid-19 ini nyata, dan akan menyemangati yang masih sakit, serta sharing sesama para penyintas.

“Ini alumni ini harus solid untuk memainkan 3 fungsi tadi. Karena berbagi rasa itu efeknya besar sekali,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Ombudsman RI Lely Pelitasari Soebekty juga berbagi pengalaman. Dia belajar bersama dengan para tenaga medis saat pertama kali dinyatakan positif Covid-19.

“Saya sebagai salah satu bagian yang mengalami Covid-19 di awal-awal. Saya dinyatakan positif 24 Maret 2020, hari kedua Wisma Atlet dibuka.

Waktu itu saya tanpa gejala, belum banyak referensi, tapi banyak yang support. Kami waktu itu isolasi di rumah sakit banyak dapat kiriman makanan, obat, multivitamin,” jelasnya.

Lely bercerita, saat melakukan isolasi mandiri di Wisma Atlet belum banyak pasien yang datang, para tenaga medis pun masih terlihat bingung kesana kemari ketika harus melayani pasien. Lalu, karena tanpa gejala, Lely memutuskan pindah ke RS Brimob di Kelapa Dua Depok.

“Kami kemudian ke RS Brimob di Depok, itu hari pertama rumah sakit dibuka, kami masuk. Jadi, SOP melayani pasien baru mulai. Kita sama-sama belajar, saat itu juga dokter belajar membaca tanda-tanda pasien,” ungkapnya.

Kesempatan dirawat di rumah sakit juga dimanfaatkan Lely  untuk memeriksa pelayanan di rumah sakit.

“Dari pengobatan juga awalnya kebingungan, ada obat yang dikasih dua kali, lalu ada yang ditulis beda dengan yang dikasih. Paramedis yang masuk juga ketakutan, penginnya buru-buru, itu karena keterbatasan informasi. Sampai ada cleaning service atau perawat yang bawa makanan langsung pergi. Suasana itu berasa dan baru mulai rileks di hari kelima keenam saya dirawat,” terangnya.

Lely juga mengamini bahwa peran spiritual dalam pemulihan Covid-19 amat penting. Menurutnya, banyak kabar-kabar dan ucapan-ucapan yang membuat hati tidak tenang membuat kondisi jadi memburuk.

“Saat dirawat ada saat-saat saya merasa drop, misalnya setelah baca WA, eh badan langsung hangat, dan tenggorokan gatel, lalu saya mikir saya nggak boleh kalah,” imbuhnya.

Kunci utama pemulihan Lely adalah minum pair utih diseduh dengan madu, bisa ditambah dengan lemon. Selain itu, kumur dan isap air garam setiap 3 jam.

“Saya merasa itu efektif. Saat itu saya masih sangat maklum karena situasi di awal memang semua dalam fase belajar,” imbuhnya.

Beberapa kisah tersebut merupakan penyintas dari orang-orang bergejala ringan dan tanpa gejala, yang menurut WHO menyerang 80 persen penderita. Sedangkan, penderita yang bergejala berat dan fatal hanya sekitar 15 persen.

Namun demikian, masyarakat tidak boleh lengah, apalagi melihat tambahan kasus harian saat ini yang mencapai lebih dari 4.000 kasus dengan kasus meninggal lebih dari 100 orang sehari.

Arief Satria berpesan agar para penderita Covid-19 beserta keluarganya jangan panik agar tidak menurunkan imunitas tubuh. Lakukan apapun yang membuat bahagia dan meningkatkan imunitas tubuh karena salah satu pengobatan Covid-19 adalah dengan imun yang kuat.

Selain itu, tetap jaga kesehatan dan tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menjaga jarak, memakai masker dengan baik dan benar, dan menjaga kebersihan dengan cuci tangan, mandi yang bersih setelah keluar rumah, dan menjaga kebersihan di dalam rumah dan di lingkungan sekitar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia