Erick Thohir Sebut Tahun Ini Ada 30 Juta Vaksin Covid-19, Tahun Depan 300 Juta

Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
12 September 2020 17:57 WIB Dionisio Damara News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir  mengungkapkan bahwa 30 juta dosis vaksin Covid-19 akan tersedia pada akhir tahun ini.

Vaksin itu merupakan hasil kerja sama antara BUMN farmasi dengan lembaga dan instansi farmasi mancanegara.

Erick menuturkan Indonesia akan mendapatkan 30 juta dosis vaksin Covid-19 pada akhir tahun 2020 dan 300 juta dosis untuk 2021. Dia menyebutkan bahwa vaksin tersebut halal.

Baca juga: Erick Thohir Sebut Kasus Corona Tanah Air Bisa Sampai 500.000 pada Akhir 2020

"Insyaallah, akhir tahun ini ada 30 juta [vaksin] dan tahun depan ada 300 juta. Namun, sebagai catatan, dari total kami dapatkan 330 juta mungkin 340 juta,” ucap Erick dalam laporannya kepada Wakil Presiden KH Maruf Amin, di Jakarta, Jumat (11/9/2020).

Erick menyampaikan vaksin tersebut merupakan hasil kerja sama beberapa BUMN farmasi dengan lembaga dan instansi farmasi mancanegara seperti PT Bio Farma (Persero) dengan Sinovac Biotech yang berasal dari Cina.

Sinovac sendiri sudah berkomitmen menyediakan 20 juta dosis vaksin pada akhir tahun ini apabila proses uji klinis tahap 3 berjalan lancar. Adapun, untuk tahun depan, akan diproduksi hingga 250 juta dosis untuk Indonesia.

Baca juga: Hotel di DIY Mulai Rasakan Imbas Rencana PSBB Jakarta

Selain itu, Erick juga melaporkan bahwa PT Kimia Farma juga telah menggandeng perusahaan asal UEA, Grup 42 (G42) dan akan memperoleh 10 juta dosis vaksin pada akhir 2020, kemudian ditambah lagi sebanyak 50 juta dosis yang akan diterima Indonesia pada akhir kuartal I-2021.

Namun, Erick menilai jumlah itu belum mencukupi kebutuhan untuk melakukan vaksinasi masal masyarakat Indonesia.

Menurutnya, proses vaksinasi diperlukan dua kali suntikan untuk setiap individu, sehingga dari jumlah tersebut vaksin hanya mencukupi 170 juta orang.

Oleh karena itu, Pemerintah juga melakukan penjajakan dengan lembaga-lembaga kesehatan seperti Koalisi untuk Kesiapan dan Inovasi Epidemi (CEPI), badan kesehatan dunia (WHO), Unicef, serta perusahaan-perusahaan farmasi multinasional lainnya, seperti Astrazeneca, Cansino, dan Pfizer.

"Semua dijajaki. Kalau sampai 70 persen bisa tercakup, kami harapkan pada 2022 atau bahkan 2021, 30 persen bisa didapatkan," ungkap Erick.

Selain bekerja sama dengan luar negeri, Erick juga terus berupaya menghasilkan vaksin dalam negeri, yakni Vaksin Merah Putih. Produkis ini melibatkan lembaga Eijkman, Balitbangkes Kementerian Kesehatan, perguruan tinggi negeri, serta Bio Farma.

Dia menyebutkan Indonesia tak mungkin hanya mengandalkan vaksin yang diperoleh dari kerja sama dengan lembaga dan instansi dari luar negeri, mengingat daya tahan vaksin hanya bertahan selama enam bulan sampai dengan dua tahun.

Oleh karena itu, pembuatan Vaksin Merah Putih juga menjadiprioritas utama pemerintah, dan ditargetkan dapat mulai diproduksi pada 2022.

"Saya sampaikan kepada Wapres bahwa vaksin merah putih ini prioritas. Dari informasi didapatkan, insyaallah, uji-klinis tahap 1 dan 2 bisa berjalan tahun depan sehingga pada 2022 kami mulai produksi vaksin merah putih," tutur Erick.

Sumber : Bisnis.com