APBD Harus Belajar dari Semangat Gotong Royong Komunitas 5 Gunung

Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Saryan Adi Yanto (tengah) dan bintang tamu Presiden 5 Gunung Magelang, Sutanto Mendut (kanan), dalam talkshow pada Selasa (1/9/2020). - Harian Jogja/Nina Atmasari
01 September 2020 19:19 WIB Media Digital News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Ada yang berbeda dari acara talkshow online yang digelar Harian Jogja, yang menghadirkan narasumber Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Saryan Adi Yanto dan bintang tamu seniman 5 Gunung Magelang, Sutanto Mendut, pada Selasa (1/9/2020).

Mengambil lokasi di Museum 5 Gunung milik Sutanto Mendut, yang ada di Mendut, Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, acara talkshow ini dimeriahkan dengan salawatan yang dilakukan oleh komunitas dari Dusun Wonosari Desa Candirejo Kecamatan Borobudur.

Baca juga: Nomor Telepon Bupati Karanganyar Dibajak, Dipakai untuk Minta Uang

Salawatan yang diikuti 15 orang tersebut dipentaskan mendadak sebagai latihan persiapan pentas mereka di Pati pekan depan. Mereka menggunakan berbagai alat musik tradisional rebana dan melantunkan syair-syair berbahasa Jawa dan Arab berisi petuah agama. Menerapkan physical distancing, mereka menempatkan diri dengan menyebar di halaman dan panggung di studio seni berkonsep alam tersebut.

Tidak seperti acara talkshow seperti biasanya yang cenderung formal, kegiatan yang disponsori oleh PD BPR Bank Bapas 69 Magelang ini juga berbeda karena berlangsung santai. Meski mengambil tema APBD Kabupaten Magelang Tanggap Pandemi, moderator yakni Redaktur Harian Jogja, Nugroho Nurcahyo membawakan acara ini seperti obrolan ringan.

Bahkan, hasil pembahasan pun menarik. Hal ini seperti dituturkan Saryan dalam pemaparannya awal. Politisi muda tersebut mengungkapkan dalam menghadapi pandemi Covid-19, dirinya yang memimpin 50 anggota DPRD, banyak belajar dari komunitas terutama seniman yang tergabung dalam Komunitas 5 Gunung.

Baca juga: Dukung Seniman Lokal, GAIA Cosmo Hotel Menjadi Ruang bagi Pameran Masker dan Alam "ChorChet"

"Pemerintah pusat, provinsi dan daerah harus banyak belajar dari komunitas. Spirit yang dibangun oleh komunitas adalah spirit pertemanan, persahabatan, kekeluargaan dan saling membantu. Tatkala Covid-19 melanda, warga di Kabupaten Magelang sudah menerapkan spirit itu. Dan dalam merumuskan APBD di Kabupaten Magelang yang tanggap pandemi ini, kami banyak belajar dari Pak Tanto dan Komunitas 5 gunung ini," jelas pria yang akrab disapa Mas Ian ini.

Ia menyebutkan di awal saat situasi Covid-19 mulai melanda, saat itu ketakutan masyarakat luar biasa. Saat itu di wilayah tempat tinggalnya di Kecamatan Borobudur disebutkan ada satu orang positif Covid-19. Hal ini ternyata memunculkan sanksi sosial di masyarakat, yakni warga takut keluar rumah bahkan untuk sekadar belanja bahan pangan di warung.

Namun, sikap berbeda ditunjukkan sebagian dari Komunitas 5 Gunung. Kelompok dari lereng Gunung Merbabu mengirimkan sayuran menggunakan truk ke desa di Borobudur, yang merupakan lereng Pegunungan Menoreh tersebut. "Kami banyak belajar dari Komunitas 5 Gunung seperti ini. Bagaimana nilai di masyarakat lokal bisa diadopsi untuk menjadi rujukan kebijakan yang bisa bermanfaat untuk masyarakat yang lebih luas," tambah Saryan.

Ia menyebutkan Pemkab Magelang tahun 2020 ini telah mengalokasikan hingga Rp100 miliar untuk penanganan Covid-19 mulai pencegahan, edukasi, protokol kesehatan hingga jaring pengaman sosial. Saat ini, menurutnya masih disiapkan jaring pengaman ekonomi yang masih menunggu regulasi.

Ia mengakui, APBD tidak mampu mengkaver semua kepentingan masyarakat, tetapi pola hidup masyarakat yang ditanamkan nenek moyang, seperti yang dilakukan oleh para Komunitas 5 Gunung, menunjukkan bahwa warga bisa membantu tanpa APBD.

"Pemerintah agak gagap, masih bicara aturan, tapi Komunitas 5 Gunung sudah bantu tanpa apbd tanpa regulasi, kami berharap Covid harus dihadapi secara bersama-sama. Saya menjunjung budaya gunung yang saling mengerti, gotong royong, sangat menguatkan. Kami ingin menggunakan kebudayaan desa untuk roadmap kebijakan," tuturnya.

Sutanto Mendut mengungkapkan ada hal berbeda dari yang disampaikan pemerintah dengan kondisi di masyarakat pedesaan terutama lereng gunung. Istilah-istilah yang muncul pun disebut sebagai kode-kode bahasa yang kurang bisa diterapkan pada masyarakat.

Seniman yang juga merupakan Presiden 5 Gunung ini mencontohkan ketika Pemerintah memunculkan imbauan untuk di rumah saja, hal ini tidak bisa serta merta dilakukan oleh masyarakat dusun. "Apakah di rumah saja itu pintunya di tutup dan tidak kemana-mana. Artinya tidak mencangkul, nanti mati semuanya, gak ada yang mencangkul," katanya.

Ia pun mengajari komunitas tersebut agar yang penting sehat. Ada yang sehat di luar rumah, dengan tetap bertanam. Ketika apa yang ditanam kemudian menjadi tidak berharga, seperti dicontohkan labu siam dan tomat yang harganya anjlok hanya Rp200 per kg, ia pun berupaya memanfaatkannya dengan membuat aneka macam olahan.

Komunitas 5 Gunung, lanjutnya, tidak pernah memikirkan APBD. Tanto mengaku beruntung karena dari talkshow tersebut ada Saryan yang membahas kebijakan anggaran supaya belajar dari wong ndeso dan wong ndeso ada ruang untuk mengakses dana yang bisa mereka dapatkan.