Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina: Politik Ramah Perempuan

Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina - Harian Jogja/Mediani Dyah Natalia
25 Agustus 2020 06:07 WIB Mediani Dyah Natalia News Share :

Harianjogja.com, MAGELANG—Politik selama ini identik dengan kaum pria karena dikenal keras dan penuh dengan makna tersembunyi. Namun bukan berarti dunia ini tak dapat dimasuki perempuan. Wakil Wali Kota Magelang, Windarti Agustina justru menilai di era yang serba terbuka ini, politik kian ramah pada perempuan.

Ditemui Harianjogja.com di ruang kerjanya belum lama ini, Windarti mengaku dunia politik bukanlah hal baru baginya. Pendidikan politik pertama dienyamnya sejak menempuh pendidikan tinggi dengan terjun langsung di organisasi. Selepas kuliah dan berkeluarga, bersama suami, dunia bisnis digelutinya. Kendati demikian, dia mengaku tak dapat berdiam diri saja melihat situasi sosial di sekelilingnya. Begitu mendapat kesempatan menjadi koordinator Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM Mandiri Perdesaan, perempuan berjilbab ini mengaku terketuk.

“Saya mengawal dari awal agar program ini bermanfaat atau mengena. Jadi dana yang turun ke masyarakat dapat dikelola secara benar dan benar-benar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya,” kata perempuan kelahiran Magelang pada 27 Agustus 1967 ini.

Perjumpaan dengan masyarakat secara langsung ini disebutnya sangat mengena di hati. Tak mau setengah-setengah, dia pun mulai serius menggeluti dunia perpolitikan dari bawah. Dimulai dengan menjadi pengurus ranting, kecamatan dan beranjak pada Dewan Pimpinan Cabang (DPC) hingga akhirnya dua kali menjadi anggota dewan di DPRD Kota Magelang, Jawa Tengah. Kini, dia mendampingi Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito untuk membawa Kota Sejuta Bunga ini menjadi daerah yang maju.

Pengalaman berpolitik selama bertahun-tahun ini diakuinya memberikan pembelajaran khusus. Bahwa perempuan dapat memasuki berbagai bidang, termasuk politik. Dia pun secara aktif mendorong partisipasi aktif perempuan di dunia politik.

“Politik itu ramah untuk perempuan. Karena perempuan tetap bisa mengurus rumah tangga sekaligus dapat menjadi top pimpinan. Kuncinya adalah kemauan untuk mendengar orang lain. Dapat dimulai dari tingkat bawah, misalnya dari lingkungan RT. Lalu turun langsung untuk membantu masyarakat supaya tahu kesulitannya apa dan bisa bantu apa. Kita harus mampu melebur ke masyarakat,” ujarnya.

Di Magelang, tambahnya, ruang berpolitik untuk perempuan pun semakin terbuka. Jumlah perempuan di legislatif dan eksekutif pun semakin berkembang. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya anggota dewan dan kepala dinas perempuan.

 

Kendati demikian, bukan berarti dunia ini tak memiliki tantangan. Kampanye hitam yang mengaitkan antara perempuan, pimpinan dan agama masih sering terjadi. Untuk masalah ini, Windarti membuka ruang diskusi yang luas. Sebab, dia menilai hal tersebut tak dapat serta merta dikaitkan begitu saja.

“Pemimpin di sini kan dalam lingkup pemerintahan. Bukan agama. Justru kebijakan yang diputuskan justru akan lebih pro-perempuan. Saya adalah perempuan pertama yang menjadi Wakil Wali Kota Magelang. Lewat amanah ini saya memotivasi perempuan. Saya juga harus membuktikan dengan menjaga marwah martabat perempuan,” kata dia.

Kota Kecil

Meski terbilang sebagai kota kecil, Magelang adalah tempat yang nyaman dan adem. Kedua hal tersebut tidak hanya merujuk pada situasi politik yang kondusif tetapi juga keamanan. Alhasil kota ini menjadi daerah yang nyaman untuk mendidik anak.

“Tempat yang ngayomi dan nganeni, bawa kenangan yang indah untuk anak-anak. Jadi saat berkarier, mereka akan kangen. Apalagi perkembangna Magelang saat ini sangat pesat,” paparnya.

Dilihat dari sisi infrastruktur, Kota Sejuta Bunga ini pun berusaha mengelola dengan baik. Hal tersebut dapat terlihat dari semakin sedikitnya jalan berlubang atau rusak di Kota Magelang. Tata kelola pemerintah juga semakin memadai yang dibuktikan dari tiga kali opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan diraihnya 11 kali penghargaan  Adipura.

“Dengan sumber daya yang terbatas, kami berusaha menciptaka sesuatu. Misalnya jasa pariwisata hotel. Lalu juga ada sektor kesehatan. Kota Magelang kini menjadi pusat berobat dengan adanya RSUD Tidar yag dilengkapi peralatan canggih dan menjadi RS rujukan. Magelang memang kota kecil tetapi luar biasa. Small yet beautiful,” terang lulusan FKIP Bahasa Inggris, Universitas Tidar.

Ditanya mengenai harapan ke depan, Windarti menyampaikan jika masih berkesempatan mendapat amanah, dia ingin Magelang menjadi kota yang lebih baik lagi. Jika pada 2015 angka kemiskinan berada di kisaran 9% dan sekarang 7,46%, pada 2021 dia berharap lajunya kian teredam sehingga menyentuh 6%.

“Mudah-mudahan kami bisa membantu untuk mewujudkan penurunan angka kemiskinan supaya dampak ekonomi bisa dirasakan masyarakat banyak. Lewat apa? UMKM dan pariwisata. Kami berusaha mengembangkan integrated tourism untuk mewujudkan. Kami juga mendorong agar selain ada jembatan layang juga dapat menjadi exit tol sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat pembangunan ini,” harap ibu satu anak ini.