Ada Perkembangan Terbaru Soal Vaksin Covid-19, Bagaimana Kondisi Saham Kimia Farma & Indofarma?

Petugas kesehatan menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). - Antara
22 Agustus 2020 16:47 WIB Ria Theresia Situmorang News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Kabar terbaru dari proses pembuatan vaksin kerjasama holding BUMN farmasi PT Biofarma (Persero) dengan Sinovac disebut akan kembali mengerek harga saham emiten farmasi milik negara PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) dan PT Indofarma Tbk. (INAF).

Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 Erick Thohir menegaskan kerja sama PT Biofarma (Persero) dan Sinovac dalam pembuatan vaksin Covid-19 bukan sekadar transaksi dari sisi ekonomi, melainkan transfer teknologi maupun pengetahuan.

"Biofarma bekerja sama dengan Sinovac adalah kerja sama yang win-win (saling menguntungkan). Biofarma tidak tukang jahit, ada sebuah kesepakatan dengan Sinovac yang namanya transfer knowledge, transfer teknologi, ini yang perlu digarisbawahi," ujar Erick melalui keterangan resmi, Kamis (20/8/2020).

Untuk diketahui, perkembangan vaksin Covid-19 menjadi katalis positif bagi pergerakan saham dua anak uasha Bio Farma, yaitu PT Kimia Farma Tbk. dan PT Indofarma Tbk. Dalam sebulan terakhir, saham KAEF sudah melesar 140,73 persen sedangkan saham INAF melonjak 175,52 persen.

BACA JUGA : Rupiah Mulai Menguat di Tengah Uji Klinis Vaksin Covid-19

Adapun pada perdagangan terakhir pekan ini, Rabu (19/8/2020), saham KAEF dan INAF kompak turun masing-masing 1,78 persen dan 1,48 persen. Dalam Sepakan, saham KAEF melemah 1,19 persen sedangkan saham INAF turun 2,06 persen. 

Adapun, setiap informasi terbaru dari proses pembuatan vaksin kerjasama Biofarma dan Sinovac memang selalu mengundang perhatian.

Terakhir kali, Erick Thohir menyatakan bahwa Biofarma mampu memproduksi 250 juta dosis vaksin Covid-19 pada akhir 2020 pada Selasa (4/8/2020).

Sontak, harga saham KAEF dan INAF langsung melambung masing-masing 8,06 persen dan 4,59 persen. Tak sampai di situ saja, keesokan harinya, tepatnya pada Rabu (5/8/2020), baik saham KAEF dan INAF melesat 25 persen. Praktis, kedua saham emiten milik negara tersebut diberi stempel auto reject atas atau ARA.

Pihak Otoritas melalui Bursa Efek Indonesia akhirnya mengambil langkah tegas untuk mensuspensi saham KAEF dan INAF pada Jumat (7/8/2020), setelah harga sahamnya naik signifikan selama tiga hari berturut-turut.

BACA JUGA : Vaksin Covid-19 Pertama di Dunia Dipatenkan, Berasal dari

Di sisi lain, dalam kesempatan yang sama pada Kamis (20/8/2020), Erick juga mengatakan Indonesia terbuka untuk menjajaki kerja sama internasional lainnya untuk memastikan dan mengakselerasi ketersediaan vaksin Covid-19 yang aman dan efektif di Indonesia.

Dia mengatakan perusahaan pelat merah tengah menyiapkan kemandirian bangsa lewat pengembangan vaksin merah putih dan terapi penyembuhan, hingga menyiapkan kapasitas produksi dan distribusi di dalam negeri untuk produksi dan vaksinasi massal.

"Sambil menunggu vaksin merah putih, vaksin dari negara lain masih dibutuhkan untuk melindungi masyarakat Indonesia agar 'Kesehatan Pulih, Ekonomi Bangkit'," tutupnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia