CEK FAKTA: Benarkah Siti Fadilah Supari Membocorkan Vaksin dari Amerika?

Ilustrasi. - Freepik
04 Agustus 2020 10:47 WIB Cahyadi Kurniawan News Share :

Harianjogja.com, SOLO -- Belakangan ini, isu soal vaksin ramai dibicarakan orang menyusul pernyataan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menolak vaksin. Pernyataan itu muncul dalam sebuah video pendek yang beredar di media sosial.

Video berdurasi 9 menit 6 detik itu diunggah oleh akun Instagram @teluuur pada Minggu (26/7/2020). Video itu ditonton sedikitnya 66.800 kali dan ada 477 komentar. “Saat jadi menteri saya menemukan tiba-tiba 950.000 anak balita... akan divaksin,” kata Siti Fadilah dikutip dari tayangan video itu.

Menurut dia, masih dari video itu, vaksin itu tidak jelas sumbernya. Seorang pejabat eselon I yang ditanyai Siti Fadilah mengatakan vaksin itu disebut dari Tiongkok, namun ternyata dari Amerika Serikat (AS). Ia menyebutnya sebagai “funding yang baik hati.”

Vaksin itu juga belum pernah diujicobakan sebelumnya. Saat di Indonesia itulah vaksin akan menjalani uji cobanya.

Kepada Siti, pemilik vaksin itu datang. Namun, Siti menolak soal pemberian vaksin bagi anak-anak Indonesia. Mereka juga menarkan posisi yang tinggi untuk Siti jika memuluskan pemberian vaksin itu. Namun, dalam video itu, Siti menolak.

“Nah yang sekarang yang kaya itu berjalan. Saya melihat ada running text. Ada percobaan vaksin demam berdarah di DKI jakarta. Saya telepon. Percobaan… Sekarang ini. Vaksin selain 4 itu yang dulu saya larang, masuk semua. Silahkan. Bayangkan. Ngeri,” lanjut Siti.

Kapan Video itu Dibuat?

Video yang beredar di media sosial itu merupakan video lama. Video itu diunggah dan viral seiring dengan pernyataan Siti soal penolakan vaksin Covid-19 dalam akun Youtube Deddy Corbuzier beberapa waktu lalu.

Berdasarkan penelusuran JIBI/Solopos, video itu dibuat saat Siti Fadilah tak lagi menjabat Menkes. Artinya setelah Oktober 2009. Dalam video itu ada dua buah logo yang menjadi latar sebagai pendukung acara di mana Siti menjadi pembicara. Logo itu yakni Forum Silaturahmi Masjid Perkantoran Jakarta (Forsimpta) dan Asosiasi Bekam Indonesia (ABI).

JIBI/Solopos mengecek akun Twitter Forsimpta di @forsimpta melalui twopcharts.com. Hasilnya ditemukan, akun Forsimpta dibuat pada Minggu, 16 Mei 2010. Ada 211 cuitan diunggah Forsimpta.

Dari 211 cuitan itu tidak satupun ada ketikan nama “Siti Fadilah Supari.” Asumsinya, nama mantan Menkes itu bakal menjadi cuitan Forsimpta mengingat lembaga ini menjadi pendukung acara yang dihadiri Siti Fadilah Supari.

Cuitan pertama Forsimpta dibuat pada 22 Mei 2010 berbunyi, “Pesantren 22 Mei Tema: Mengoptimalkan Ikhtiar, Menjemput Jodoh, Bsama Ust. Hudalloh Mushlihm Lc. Tampaknya akan banyak penanya…”

Video Serupa

Tak hanya itu, jika diperiksa berdasarkan frame dalam video, akan muncul beberapa video sejenis di Youtube. Video paling lama diunggah pada 21 Agustus 2015 oleh channel KataSuara. Video berjudul Siti “Fadilah Supari Membocorkan Vaksin dari Amerika” itu sama persis seperti yang beredar di media sosial.

Video sama berikutnya muncul di channel Youtube PowerKhan. Kali ini judulnya berbeda yakni “Mengungkap Agenda Di Balik Vaksin” pada 6 November 2017.

Potongan video lainnya ada “Melumpuhkan Negara itu dengan Penyakit” berdurasi 43 detik yang diunggah Candraduri pada 21 Januari 2020. Akun yang sama juga mengunggah video Siti Fadilah lainnya yakni “TBC itu Harus Ada Terus di Dunia” berdurasi 2 menit 49 detik.

Terbaru, video berdurasi menit 6 detik itu diunggah pula oleh akun Secret X-files dengan judul “Siti Fadilah Supari vs WHO 2006” pada 1 Mei 2020. Dari sederet video itu, diperkirakan acara Siti Fadilah itu terjadi antara Oktober 2009-Agustus 2015.

Percobaan Vaksin

Pada rekaman video itu, Siti Fadilah juga menceritakan adanya percobaan vaksin demam berdarah di DKI Jakarta yang dibacanya melalui running text. Hasil penelusuran Solopos.com, percobaan itu terjadi pada Juni 2011.

Dikutip dari Kompas.com, 26 Oktober 2016, disebutkan selain di Indonesia penelitian vaksin dengue fase 3 itu juga dilakukan di Thailand, Malaysia, Veitnam, dan Filipina. Total sukarelawan fase ini mencapai 10.000 anak usia 2-14 tahun. Masih ditambah 20.000 anak usia 9-16 tahun di Colombia, Meksiko, dan Brazil.

Vaksin DBD ini sudah beredar di Indonesia. Dikutip dari Alodokter.com, harga vaksin demam berdarah mencapai Rp1 juta per dosis penyuntikan. Seseorang direkomendasikan menjalani tiga kali penyuntikan. Artinya menghabiskan Rp3 juta.

Dari pernyataan Siti Fadilah itu, video itu diperkirakan dibuat pada Juni 2011-Agustus 2015. Video itu merupakan video lawas yang diunggah kembali karena isinya dianggap koheren terhadap konteks pandemi Covid-19.

Kendati demikian, hingga kini belum jelas siapa yang membuat, kapan, dan di mana Siti Fadilah menjadi pembicara dalam acara itu.

Siti Fadilah yang kencang menolak vaksin dari luar negeri, kembali melontarkan pernyataan senada kepada Dedy Corbuzier. Menurut dia, pandemi merupakan bagian dari sesuatu yang terencana oleh elite tertentu sebagai teori konspirasi. Di setiap pandemi lahir pula vaksin yang tak lebih dari sekadar bisnis semata.

Kandidat Vaksin

Wakil Ketua Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Herawati Supolo-Sudoyo, berpesan soal pentingnya sains dan sikap ilmiah dalam menghadapi pandemi. Sains haru dipakai untuk melawan konstruksi nonilmiah dalam memperbaiki cara pandang menyikapi persebaran penyakit.

“Masih banyak yang belum diketahui mengenai virus ini. Kita perlu terus mengeksplorasi virus ini. Setiap hari selalu ada publikasi baru. Sebulan lalu ada setidaknya 5.500 publikasi yang membahas virus ini. Dan jumlahnya terus bertambah,” kata dia, dalam Kuliah Umum Pandemi yang digelar Laporcovid19, beberapa waktu yang lalu.

Dari publikasi itu banyak hal yang bisa dpelajari dan studi genomik diperlukan untuk memberikan landasan penatalaksanaan penyakit. Terkait vaksin Covid-19, lanjut Herawati, saat ini lanskap kandidat vaksin Covid-19 di dunia saat ini paling tidak ada enam strategi platform.

Selain itu ada 10 kandidat vaksin pada tahap evaluasi klinis dengan berbagai platform. Sebanyak tiga di antaranya sudah masuk uji klinis fase 2 dan 3.

“Di luar itu masih ada 121 kandidat vaksin dalam fase penelitian. Kebanyakan 40 di antaranya memilih platform protein subunit seperti yang dilakukan Lembaga Eijkman,” ujar Herawati.

Sumber : JIBI/Solopos