Mentan Amran Siapkan Rp600 Miliar untuk Benih Jagung Pakan
Kementan menyiapkan Rp300 miliar untuk benih jagung pakan pada 2026 dan tambahan Rp300 miliar pada 2027, dengan target tanam 300.000 hektare.
Ilustrasi./Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA - Pandemi Corona yang sudah berlangsung lebih dari enam bulan belum menunjukkan tanda berakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa dunia harus belajar untuk hidup dengan virus corona dan melawannya dengan kekuatan yang dimilikinya.
Menyadur Anadolu Agency, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus membuat pernyataan pada pertemuan komite tingkat tinggi enam bulan setelah menyatakan Covid-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat.
"Sungguh menyedihkan untuk berpikir bahwa enam bulan lalu ketika Anda (Komite Darurat Peraturan Kesehatan Internasional) merekomendasikan saya menyatakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, ada kurang dari 100 kasus dan tidak ada kematian di luar China," kata Tedros.
Baca juga: Update Covid-19 Global: Sudah 17,75 Juta Terinfeksi, Kematian Tertinggi di Negara Ini
Dia mengatakan bahwa sejak awal virus, banyak pertanyaan ilmiah telah terjawab, dan banyak yang tetap tidak terjawab.
Komite darurat selalu berhati-hati dalam dalam membuat pernyataannya dan pada hari Jumat komite tersebut kembali mengevaluasi status darurat Covid-19.
Sebelum Covid-19, WHO juga pernah mengumumkan darurat kesehatan masyarakat flu babi, polio, Zika, dan Ebola.
"Hasil awal dari studi serologi melukiskan gambaran yang konsisten: sebagian besar orang di dunia tetap rentan terhadap virus ini, bahkan di daerah yang telah mengalami wabah parah.
"Banyak negara yang percaya bahwa mereka telah melewati masa kritis dan sekarang bergulat dengan wabah baru." jelas Tedros.
Dia mengatakan beberapa negara, yang tidak terlalu terpengaruh pada minggu-minggu awal, sekarang mengalami peningkatan jumlah kasus dan kematian, sementara beberapa negara yang sudah melewati gelombang besar, kini sudah mulai reda.
"Meskipun pengembangan vaksin terjadi dengan sangat cepat, kita harus belajar hidup dengan virus ini, dan kita harus berjuang dengan alat yang kita miliki," kata Tedros.
Tedros mengatakan pemahaman yang lengkap tentang epidemiologi dan risiko global yang ditimbulkan oleh virus baru ini memerlukan pengujian serologis sistematis, yang mengungkapkan informasi penting.
"Pengujian serologis mendeteksi antibodi dalam darah yang mengindikasikan jika seseorang telah terinfeksi," kata kepala WHO.
"Ini memberi tahu kita seberapa sering infeksi terjadi di antara populasi yang berbeda, berapa banyak orang yang memiliki infeksi ringan atau tanpa gejala, dan berapa banyak orang yang terinfeksi tetapi mungkin tidak diidentifikasi oleh pengawasan penyakit rutin."
Tedros mengatakan pengujian serologis mungkin mengungkapkan proporsi populasi mana yang bisa kebal di masa depan.
"Ini akan memungkinkan para pembuat keputusan lokal, nasional, dan internasional untuk merespons secara kolektif, dan lebih efektif, terhadap pandemi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Kementan menyiapkan Rp300 miliar untuk benih jagung pakan pada 2026 dan tambahan Rp300 miliar pada 2027, dengan target tanam 300.000 hektare.
Cek jadwal DAMRI dari Bandara YIA ke Jogja dan Sleman, lengkap dengan jam keberangkatan, lima pilihan tujuan, dan tarif Rp80.000.
Cek jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Rabu, 28 Oktober 2026. Tersedia 10 perjalanan dari Stasiun Tugu dan Kutoarjo.
Cek jadwal KA Bandara YIA 28 Oktober 2026 untuk layanan reguler dan Xpress, lengkap dengan waktu keberangkatan dari Jogja dan bandara.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 28 Oktober 2026 dari Stasiun Palur, lengkap dengan waktu keberangkatan di 13 stasiun pemberhentian.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo, 15 waktu keberangkatan dari Jogja ke Palur, daftar stasiun pemberhentian, dan tarif tiket Rp8.000.