FIFA Dikritik Gara-Gara Offside Misterius pada Laga Swiss Kontra Qatar
Kontroversi penalti Swiss vs Qatar di Piala Dunia 2026 memicu kritik Gary Neville terhadap FIFA yang dinilai tidak transparan soal offside.
Bendera Iran.
Harianjogja.com, JOGJA—Kematian Ali Khamenei diumumkan media resmi Iran pada Minggu (1/3/2026), meninggalkan kekosongan di pucuk kekuasaan. Kondisi ini memicu ketidakpastian politik dan sosial, memaksa Majelis Ahli untuk segera memilih pengganti di tengah ancaman kudeta militer dan protes besar.
Menurut laporan The New York Times, ketiadaan suksesor resmi membuat Majelis Ahli harus segera membentuk dewan transisi yang melibatkan Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholam‑Hossein Mohseni‑Ejei, serta perwakilan Dewan Wali.
Calon-calon Pengganti Khamenei
Beberapa nama mulai mencuat di lingkaran elite politik dan keagamaan Iran sebagai kandidat kuat pemimpin tertinggi berikutnya:
● Mojtaba Khamenei (56)
Putra kedua Ali Khamenei yang mendapat dukungan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), tetapi menghadapi resistensi karena sentimen anti-dinasti dari sebagian masyarakat.
● Alireza Arafi (67)
Seorang ulama birokratik yang memiliki pengaruh signifikan di Dewan Wali. Namun, ia kurang populer di kalangan militer.
● Hashem Hosseini Bushehri (60-an)
Wakil di Majelis Ahli dengan profil yang tidak terlalu menonjol di publik, tetapi dikenal dekat secara pribadi dengan mendiang pemimpin.
● Mohammad Mehdi Mirbagheri (60-an)
Tokoh garis keras dari Akademi Qom yang dikenal anti-Barat dan didukung kelompok fundamentalis.
● Hassan Khomeini (50-an)
Cucu pendiri revolusi Iran, dikenal moderat tetapi selama ini kurang mendapat ruang di kepemimpinan rezim.
● Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Selain menjabat Kepala Kehakiman, ia dipandang sebagai figur keamanan berpengaruh di balik layar.
IRGC, Ketegangan Militer, dan Protes Massal
Kekosongan kepemimpinan ini terjadi di tengah eskalasi konflik di wilayah, menghambat pengambilan keputusan formal oleh Majelis Ahli. Forbes melaporkan dukungan kuat dari IRGC untuk mengamankan stabilitas rezim, yang mungkin membuat korps militer ini mengambil kendali dalam proses transisi kekuasaan.
Situasi domestik juga tegang setelah gelombang protes besar yang bermula Januari 2026. Risiko pengambilalihan kekuasaan oleh faksi militer atau pemberontakan sipil semakin nyata. Data internal menunjukkan bahwa sekitar 87% jenderal yang diangkat sejak 2022 telah diganti—mirip dengan pembersihan militer ala Xi Jinping di Cina—menimbulkan kekhawatiran tentang loyalitas institusi keamanan terhadap rezim.
Jalan Ke Depan
Dalam beberapa hari ke depan, Majelis Ahli diharapkan menentukan pemimpin tertinggi baru—apakah melalui jalur stabilitas birokratik dan keagamaan, atau beralih ke kontrol yang lebih kuat oleh militer dan IRGC.
Dunia kini mengamatinya dengan seksama, karena keputusan Iran akan memengaruhi dinamika geopolitik di Timur Tengah di tengah ketidakpastian internal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kontroversi penalti Swiss vs Qatar di Piala Dunia 2026 memicu kritik Gary Neville terhadap FIFA yang dinilai tidak transparan soal offside.
Jadwal Piala Dunia 2026 Senin 15 Juni: Jerman, Belanda, Spanyol tampil. Cek jam tayang dan prediksi laga seru hari ini.
Prediksi Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026 lengkap dengan skor dan susunan pemain. Siapakah yang menang?
Harga mawar di Rawa Belong melonjak hingga Rp170 ribu per ikat akibat kelangkaan stok dan tingginya permintaan musim wisuda.
99 pendonor DIY terima penghargaan usai 75 kali donor darah. Aksi kemanusiaan ini jadi inspirasi di Hari Donor Sedunia
Ramadhipa raih kemenangan perdana Moto3 JuniorGP 2026 di Estoril usai duel sengit hingga lap terakhir.