Ini Arahan Presiden Jokowi untuk Penanganan Covid-19 di Jawa Timur

Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers terkait COVID-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (16/3/2020). Presiden Joko Widodo meminta kepada kepala pemerintah daerah untuk berkomunikasi kepada pemerintah pusat seperti Satgas COVID-19 dan Kementerian dalam membuat kebijakan besar terkait penanganan COVID-19, dan ditegaskan kebijakan "lockdown" tidak boleh dilakukan pemerintah daerah. ANTARA FOTO - Hafidz Mubarak A
25 Juni 2020 14:47 WIB Muhammad Khadafi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo menaruh perhatian besar pada penambahan kasus Covid-19 di Jawa Timur yang masih cukup tinggi. Hari ini, Kamis (25/6/2020), Presiden memberikan arahan secara langsung kepada kepala daerah dan juga Gugus Tugas Covid-19 di Jawa Timur.

Seperti diketahui, kasus Covid-19 secara akumulasi di Jawa Timur sudah hampir menyusul DKI Jakarta. Berdasarkan data Gugus Tugas, per 24 Juni 2020, Jatim mencatat 10.298 orang positif Covid-19, sedangkan DKI Jakarta 10.404 orang.

Kendati secara total kasus masih berada di bawah DKI Jakarta, tetapi Jatim mencatat angka kematian pasien Covid-19 paling tinggi secara nasional, yakni 750 orang.

BACA JUGA : 2 Penyebab Jawa Timur Alami Lonjakan Kasus Covid-19

Oleh karena itu, Presiden menyampaikan kepada masyarakat Jatim dan juga seluruh masyarakat di Tanah Air untuk memiliki perasaan yang sama bahwa saat ini Indonesia tengah menghadapi krisis kesehatan sekaligus ekonomi.

Presiden menyatakan bahwa kondisi tersebut tidak hanya dialami oleh Indonesia saja, tetapi 215 negara lainnya mengalami hal yang sama.

Berdasarkan laporan yang diterima Presiden, IMF memprediksi bahwa pada tahun ini, pertumbuhan ekonomi Amerika akan minus 8 persen, Jepang akan minus 5,8 persen, Inggris akan minus 10,2 persen, Prancis akan minus 12,5 persen, Italia akan minus 12,8 persen, Spanyol akan minus 12,8 persen, Jerman minus 7,5 persen.

“Artinya apa? demand akan terganggu, kalau terganggu maka supply akan terganggu dan produksinya juga akan terganggu. Ini yang harus diketahui bersama bahwa kita dalam proses mengendalikan Covid-19, tapi juga ada masalah lain yaitu urusan ekonomi,” kata Presiden di Gedung Grahadi Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/6/2020).

BACA JUGA : Kematian Pasien Covid-19 di Jatim Tertinggi di Indonesia

Selain itu Presiden juga menyampaikan untuk terus menggenjot tes secara masif, pelacakan yang agresif, dan isolasi pasien secara ketat.

“Saya kira sudah dilakukan. Ini agar diteruskan dengan jumlah yang lebih banyak,” kata Jokowi.

Arahan ketiga Presiden ialah berkaitan dengan persiapan Jatim untuk menuju new normal bila telah berhasil mengendalikan penyebaran virus. Namun sebelum itu dia mengingatkan untuk membuat prakondisi dan menentukan waktu yang tepat.

Selain itu, Jokowi menyatakan yang tidak kalah penting adalah menentukan prioritas sektor.

“Sektor yang memiliki risiko rendah tentu saja didahulukan. Sektor yang sedang tentu saja dinomordukan. Dan sektor risiko tinggi dinomortigakan, empatkan atau nomorlimakan,” kata Presiden.

Keempat, saya minta semua mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat untuk menyosialisasikan mengenai protokol kesehatan.

“Pentingnya memakai masker. Pentingnya jaga jarak. Pentingnya cuci tangan,” katanya.

Kelima, Presiden menitip pesan kepada setiap kepala daerah agar membukan kebijakan yang merujuk pada data dan saran dari pakar. Dalam kondisi krisis kesehatan dan ekonomi seperti saat ini, kata Presiden, kebijakan tanpa pakar-pakar perguruan tinggi sangat berbahaya.

Terakhir, Jokowi meminta agar menyiapkan rencana utama dan rencana cadangan. Hal ini bertujuan agar setiap daerah siaga menghadapi situasi yang tidak terduga.

“Saya akan memantau terus mengikuti dan juga melihat data-data yang ada di provinsi Jawa Timur dan kita harapkan dalam 2 minggu ini betul-betul ada penurunan yang signifikan baik R0 baik Rt,” katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia