Advertisement
Virus Corona Mengganas di India, Menyebar dan Jangkiti Perdesaan
Para pekerja migran dan keluarganya menaiki bus di tengah lockdown yang diberlakukan pemerintah di New Delhi, India, Sabtu (28/3/2020). - Bloomberg/Anindito Mukherjee\\n
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Setelah memukul kota-kota besar di India, pandemi virus corona (Covid-19) mengincar hotspot baru di pelosok Negeri Hindustan.
Dihuni oleh hampir 70 persen dari total 1,3 miliar penduduk, desa-desa di India memiliki akses perawatan kesehatan yang terbatas dan harus bergulat melalui perlambatan ekonomi yang berkepanjangan di negara itu.
Advertisement
Ketika jutaan pekerja migran pulang kampung, daerah pedesaan di India tak lagi mampu menghindari epidemi yang telah membanjiri New Delhi dan pusat keuangan Mumbai. Para pekerja ini telah kehilangan pekerjaan mereka di kota-kota setelah pemerintah menerapkan lockdown nasional yang ketat pada 25 Maret.
BACA JUGA : Drastis! Sehari Kasus Corona di India Tambah Hampir 10.000
Negara bagian Bihar, Assam, Jharkhand, Odisha, dan Uttar Pradesh yang mencatat aliran jumlah pekerja terbanyak juga mengalami peningkatan angka kasus baru Covid-19 tertajam dalam kurun waktu dua pekan hingga 8 Juni, menurut estimasi pemerintah. Di distrik-distrik pedesaan Rajasthan dan Karnataka, virus itu juga menyebar dengan cepat.
Kasus-kasus baru kini telah menyebar ke 98 dari 112 distrik pedesaan termiskin di negara itu, bertambah dari hanya 34 distrik pada 15 April, menurut laporan dari badan perencanaan pemerintah NITI Aayog. Hampir 2.250 kasus baru tercatat di distrik-distrik tersebut.
Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi menanggung risiko meningkatnya jumlah kematian jika penyebaran ini tidak ditindaklanjuti di perdesaan India. Infrastruktur perawatan kesehatan yang tidak didanai dan kondisi hidup yang buruk menjadi lahan subur bagi perkembangan virus mematikan itu.
BACA JUGA : Satu Warga India yang Terjebak di Sleman Positif Terinfeksi
Bertambahnya kasus yang eksponensial di desa-desa dapat melambungkan India lebih tinggi di antara negara-negara paling terdampak sedunia.
Dengan krisis yang mendorong ekonomi menuju kontraksi full-year pertama dalam lebih dari empat dekade, kemungkinan meningkatnya keresahan sosial terus tumbuh.
Contoh saja distrik pertanian Ganjam di Odisha. Distrik yang terletak di desa Choudhari Tikarapada dan terdiri dari 5.000 warga ini bebas Covid-19 sampai akhir Mei.
Kondisi tersebut seketika berubah ketika sekitar 200 buruh kembali ke daerah itu setelah mereka kehilangan pekerjaan di negara bagian Maharashtra dan Tamil Nadu selama masa lockdown.
Mereka dikarantina selama tujuh hari sebelum memasuki desa. Setelah 13 buruh ditemukan positif terinfeksi Covid-19, pemerintah setempat menyatakannya sebagai zona penahanan dan menghentikan setiap mobilitas warga.
“Jika tes-tes dilakukan di desa saya maka akan ditemukan lebih banyak orang yang terinfeksi. Kami hidup dalam ketakutan,” ungkap seorang warga desa Sadananda Sahu. Ia lebih lanjut mengutarakan kesulitan untuk menjaga jarak sosial dan kebersihan di daerahnya.
Seluruh 33 distrik pedesaan di Rajasthan juga terdampak, setelah lebih dari 1,1 juta pekerja dari kota-kota termasuk Mumbai, Pune, dan Ahmedabad pulang pada Mei.
“Mereka datang ke desa-desa mereka dari tempat yang sangat terinfeksi kemudian menyebar di desa-desa Rajasthan,” ujar Menteri Kesehatan Rajasthan Raghu Sharma, seperti dilansir dari Bloomberg, Senin (22/6/2020).
Negara bagian ini telah mendirikan fasilitas-fasilitas karantina di setiap desa, mengerahkan pejabat tingkat senior untuk memantaunya, serta membentuk panel-panel desa untuk mengawasi mobilitas masyarakat.
"Angka kematian di pedesaan untuk hampir semua kondisi infeksi jauh lebih tinggi ketimbang di daerah perkotaan,” ujar Profesor Prabhat Jha dari University of Toronto.
Jha menyerukan pemerintah setempat merilis semua data yang tidak diidentifikasi untuk hasil tes yang positif sehingga ahli epidemiologi dapat lebih memahami bagaimana penyebaran virus di India.
“Seandainya lockdown itu benar-benar lockdown dan para pekerja tidak keluar dari tempat tinggal mereka di perkotaan, problem ini tidak akan menyebar," kata Jha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jadwal KRL Solo Jogja per 1 April 2026, Layani Mobilitas Seharian
Advertisement
Masuk Jepang Wajib JESTA 2026, Ini Biaya dan Cara Daftarnya
Advertisement
Berita Populer
- Daftar Film Terlaris Maret 2026, Danur dan Suzzanna Unggul
- Diduga Lalai Saat Memasak, Rumah di Argorejo Ludes Terbakar
- Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 31 Maret 2026
- Per 1 April 2026 Isi BBM Bersubsidi Dibatasi dan Wajib Catat Nopol
- Ujian TKA Dimulai April, Sekolah dan Orang Tua Diklaim Makin Siap
- Cuaca DIY, Selasa 31 Maret 2026: Semua Wilayah Diguyur Hujan Ringan
- Jadwal SIM Keliling Kulonprogo Selasa 31 Maret 2026
Advertisement
Advertisement







