Disanjung Gus Dur sebagai Polisi Jujur, Ini Profil Jenderal Hoegeng

Hoegeng Iman Santoso, mantan Kapolri. - Ist/Indonesiamedia
18 Juni 2020 16:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Seorang warga Kepulauan Sula, Maluku Utara, Ismail Ahmad, berurusan dengan polisi setelah mengutip humor Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di akun Facebook.

Kapolres Kepulauan Sula AKBP M Irfan mengakui polisi memeriksa warganet yang mengunggah kutipan Gus Dur yang menyindiri polisi. Menurut Irfan, warganet tersebut telah meminta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Polisi pun membolehkannya pulang.

Dalam unggahannya, Ismail Ahmad mengutip salah satu lelucon Gus Dur paling terkenal tentang polisi. Gus Dur menyebut hanya ada tiga polisi jujur, yaitu patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.

Siapakah polisi Hoegeng?

Bukan tanpa sebab mantan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid memberikan pujian kepada Jenderal Hoegeng.

Pasalnya, Jenderal Hoegeng Imam Santoso memang dikenal sebagai sosok teladan, khususnya di kalangan aparat kepolisian.

Ia berhasil menunjukkan moralitas polisi yang jujur dan anti-suap. Karakter Hoegeng inilah yang menjadikan namanya besar sampai sekarang.

Dikutip dari berbagai sumber, beragam kisah menarik muncul dari perjalanan hidup Jenderal Hoegeng. Semenjak kecil, pria kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 tersebut dikenal sebagai pria yang beruntung.

Baca juga: Netizen Diperiksa karena Kutip Humor Gus Dur, Gusdurian: Polisi Jangan Intimidasi Warga

Sebab, dia dapat menempuh pendidikan formal bentukan Belanda sebelum kemerdekaan. Tercatat, ia pernah bersekolah di HIS, lalu MULO dan AMS Westers Klasiek. Setelah merampungkan pendidikan menengah, ia pun melanjutkan ke Recht Hoge Schoool Batavia dengan jurusan ilmu hukum.

Sementara pada masa kependudukan Jepang, Jenderal Hoegeng mendapat latihan kemiliteran dan berhasil melanjutkan karier sebagai polisi. Bahkan lantaran karakternya yang tegas, jujur dan berintegritas, ia kemudian diangkat menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia pada 1968 - 1971.

Kasus Besar yang Ditangani

Sebagai pihak berwajib, Jenderal Hoegeng kerap menangani kasus-kasus berat yang mengguncang negara.

Salah satunya yang populer yakni tentang kasus Sum Kuning, penjual telur ayam asal Godean, Yogyakarta yang diduga diperkosa oleh anak pejabat. Jenderal Hoegeng disebut mati-matian berusaha membongkar kasus yang menyeret elite tersebut.

Baca juga: Guyonan Gus Dur Berujung Pemanggilan, Putri Sulung Gus Dur Minta Polisi Teladani Mantan Kapolri

Bahkan ia sengaja membentuk tim khusus yang bertugas mengusut tuntas kasus Sum Kuning. Namun perjuangannya berakhir pahit lantaran Jenderal Hoegeng tak kuasa melawan penguasa yang menyembunyikan kebenaran di balik kasus tersebut.

Selain kasus itu, Hoegeng juga menunjukkan integritasnya ketika menangani kasus penyelundupan mobil mewah. Ia bergeming, tak menerima suap dan menolak segala godaan dari perempuan yang terlibat dalam kasus tersebut.

Cerita menarik Si 'Polisi Jujur'

Adapun cerita menarik lainnya dari Jenderal Hoegeng yakni ketika dirinya tak segan turun ke jalan untuk mengatur lalu lintas saat terjadi macet. Meski menjabat sebagai Kapolri, pria yang juga dikenal mahir memainkan alat musik ukulele tersebut mengaku hal itu merupakan tanggung jawabnya.

Jenderal Hoegeng juga dikenal sebagai pencentus gagasan kewajiban memakai helm bagi pengendara sepeda motor. Ide tersebut dilatarbelakangi oleh keprihatinan Hoegeng melihat tingginya angka kecelakaan lalu lintas di tahun 1970-an.

Baca juga: Warganet Dipanggil Polisi karena Lelucon Gus Dur, Inaya Wahid: Panggil yang Bikin Joke Dong Pak

Dalam sebuah sumber disebutkan, selain jujur dan tegas, Jenderal Hoegeng juga merupakan pria yang sederhana. Semasa hidup, ia tinggal di rumah kecil dan tidak memiliki kendaraan pribadi.

Ia juga rela menerima gaji kecil selepas pensiun dari polisi. Karakter tersebut dikenang publik sampai sekarang.

Akhir Hayat Jenderal Hoegeng

Sayangnya meski memiliki karier cemerlang di kepolisian, Jenderal Hoegeng dipensiunkan dini dari jabatannya sebagai Kapolri pada 1971.

Pencopotan ini dilakukan sebelum masa jabatan Hoegeng berakhir. Santer diisukan, keputusan tersebut ada kaitannya dengan kasus dugaan penyelundupan mobil mewah yang ditangani oleh Hoegeng.

Jenderal Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 setelah menjalani perawatan di RSCM, Jakarta Pusat karena menderita stroke.

Sebelum tutup usia, Hoegeng sempat berpesan dirinya enggan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mendiang dikebumikan di pemakaman umum Giri Tama, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Itulah profil Jenderal Hoegeng, teladan polisi jujur di Indonesia yang disanjung Gus Dur.

Sumber : Suara.com