New Normal Digaungkan, Angka Kematian Akibat Corona di Indonesia Merisaukan

Foto ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik. - Ist/FOTO ANTARA
16 Juni 2020 21:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah menggaungkan new normal di tengah pandemi yang masih memprihatinkan.

Kasus kematian akibat virus corona per Senin 15 Juni 2020 mencapai 64 orang dalam satu hari. Padahal pemerintah sedang menggaungkan transisi menuju kelaziman baru atau new normal.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Prof Ari Fahrial Syam mengakui tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia adalah yang terburuk di Asia Tenggara dan Asia Timur, kecuali China.

"Terus terang bahwa secara negara pun Indonesia termasuk punya angka kematian terburuk di Asia Tenggara dan Asia Timur, kecuali China, ini terus terang merisaukan kita semua," ucap Ari dalam program Special Report iNews, Selasa (16/6/2020).

Menurut Ari, daerah yang menyumbangkan kasus positif cukup banyak berasal dari Jawa Timur. "Kita lihat mappingnya, angkanya cukup banyak dari Jawa Timur," imbuhnya.

Ari menceritakan, pada akhir Maret dan awal April 2020, dirinya mengevaluasi pergerakan virus corona di Jakarta. Di Ibu Kota, ia menyebut angka kematian akibat virus ini mencapai 10 persen.

Setelah evaluasi dilakukan, Ari mendapatkan temuan bahwa pasien meninggal karena virus corona disebabkan karena terlambat datang ke rumah sakit.

"Ternyata pertama, pasien terlambat datang ke rumah sakit. Kemudian kedua, pada saat pasien membutuhkan ventilator, itu tidak tersedia. Pasien datang dengan komorbid,. Waktu itu rumah sakit masih terbatas, akhirnya ada Rumah Sakit Wisma Atlet dan ada beberapa rumah sakit rujukan dengan peralatan ditingkatkan. Boleh dibilang Jakarta berhasil," tambah dia.

Lebih lanjut, Ari melihat angka kasus positif corona masih tinggi. Ia khawatir di akhir Juni 2020 kasus positif ini bisa menembus angka 45.000.

Ia ingin penambahan jumlah kasus ini dapat dievaluasi untuk mengambil langkah selanjutnya. Ari juga menyampaikan bahwa di zona merah sebaiknya dilakukan swab test untuk memutus mata rantai penularan corona.

"Yang terpenting dilakukan evaluasi mendasar, bisa dicontoh apa yang dikerjakan DKI langsung mapping 62 Rw yang masih merah, di situ dilakukan swab PCR pada daerah tersebut sehingga diidentifikasi, ditracing," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di Oekzone.com berjudul "Angka Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Cukup Merisaukan"

Sumber : Okezone.com