Advertisement
Wacana Kenaikan Gaji Pimpinan KPK, ICW Tak Setuju
Indonesia Corruption Watch (ICW) - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Indonesia Corruption Watch menyatakan penolakannya terkait dengan wacana kenaikan gaji pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Peneliti ICW Kurnia mengatakan kenaikan gaji itu bertolak belakang dengan pesan moral yang kerap disampaikan lembaga antirasuah itu. KPK dalam berbagai kegiatan diketahui selalu menyuarakan untuk menjalankan pola hidup sederhana.
Advertisement
"Bahkan poin soal 'sederhana' ini juga tercantum dalam sembilan nilai integritas yang dibuat KPK," kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2020).
Kurnia melanjutkan, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2015 tentang Hak Keuangan, Kedudukan, Protokol, dan Perlindungan Keamanan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, gaji Pimpinan KPK saat ini sudah tergolong besar, yakni Rp123 juta bagi Ketua KPK dan Rp112 juta bagi Wakil Ketua KPK.
Sebelumnya, KPK mengaku sempat melakukan rapat dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) yang membahas Revisi Peraturan Pemerintah terkait Hak Keuangan Pimpinan KPK. Rapat tersebut dilakukan pada 29 Mei 2020.
Informasi soal rapat tersebut dikritik oleh ICW lantaran lembaga antirasuah itu sempat menyatakan untuk menghentikan pembahasan soal kenaikan gaji pimpinan KPK yang bakal diatur di RPP tersebut pada awal April 2020 lalu.
Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri mengatakan KPK bakal menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah terkait kelanjutan pembahasan aturan tersebut.
"Untuk menghormati undangan itu, tentu kami hadir dan menyampaikan arahan Pimpinan bahwa pembahasan hal tersebut diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah apakah akan dilanjutkan kembali penyusunannya," kata Ali, Selasa (9/6/2020).
Dia pun memerinci sejumlah poin yang dibahas pada rapat tersebut. Pertama, kata Ali rapat tersebut membahas surat dari Kemenkum HAM kepada kementrian PAN dan RB masih menggunakan nomenklatur RPP Perubahan sehingga RPP tersebut akan menjadi RPP Penggantian.
"Terkait dratf RPP Penggantian belum ada kajian akademis mengenai jumlah besarannya," katanya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Sejumlah Negara di Eropa Imbau Warganya Tinggalkan Iran karena Protes
- Syafiq Ridhan Ali, Korban Hilang Gunung Slamet Ditemukan Meninggal
- KLH Siapkan Gugatan Triliunan Perusahaan Pemicu Banjir Sumatera
- Anwar Ibrahim Umumkan Malaysia Ikut Misi Kemanusiaan Gaza
- Indonesia Pulangkan 27.768 WNI dari Konflik dan Kejahatan Global
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Diet DASH Terbukti Bantu Turunkan Hipertensi Secara Alami
- Banjir Rendam 25 Desa di Kudus, Lebih 48 Ribu Warga Terdampak
- KLH Siapkan Gugatan Triliunan Perusahaan Pemicu Banjir Sumatera
- Jumlah Pernikahan di Bantul Terus Menurun dalam 3 Tahun Terakhir
- BEI Jogja: Investasi Saham 2026 Tetap Menjanjikan
- Cemaran Toksin, BPOM Minta Nestle Tarik Susu Formula Impor S-26 Promil
- Rutinitas Pagi Terbaik untuk Anak, Kebiasaan Sehat Seumur Hidup
Advertisement
Advertisement





