Industri Pariwisata Diminta Jangan Terburu Beroperasi saat New Normal

Sejumlah pengendara melintas di kawasan taman Titi Banda, Denpasar, Bali, Jumat (15/5/2020). - Antara/Nyoman Budhiana\\n
01 Juni 2020 14:17 WIB Choirul Anam News Share :

Harianjogja.com, MALANG — Industri pariwisata sebaiknya jangan tergesa-gesa untuk beroperasi di era kenormalan baru atau new normal, perlu masa persiapan, masa transisi, dan masa edukasi.

Pakar Komunikasi dan Manajemen Krisis Universitas Brawijaya (UB) Maulina Pia Wulandari, mengatakan kebijakan pemerintah untuk melakukan “new normal life” yang akan dimulai di beberapa daerah membawa angin segar bagi beberapa sektor industri yang sangat terdampak seperti industri pariwisata.

“Namun justru saya menyarankan agar industry pariwisata jangan tergesa-gesa untuk beroperasi kembali di masa pemberlakuan new normal life,” katanya di Malang, Senin (1/6/2020).

Industri Pariwisata, kata dia, jangan terburu-buru untuk beroperasional. Industri sebaiknya menggunakan waktu satu sampai tiga bulan di awal kenormalan baru ini sebagai masa persiapan, masa transisi, dan masa edukasi.

Industri Pariwisata harus menghitung dan mempertimbangkan dengan cermat resiko, biaya, dan keuntungan dengan dibukanya kembali dunia bisnis pariwisata. Langkah yang harus dilakukan oleh pelaku industri pariwisata saat masa transisi , kata Pia yang juga Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UB ini, yakni mempersiapkan tempat bisnisnya sesuai standar protokol kesehatan yang telah dikeluarkan panduannya oleh Kementrian Ekonomi Kreatif dan Pariwisata.

Bukan hanya sekedar clean atau bersih saja, tapi pelaku wisata harus benar-benar menerapkan tiga prinsip yaitu bersih, sehat dan aman.
“Pelaku industri pariwisata juga harus melakukan proses latihan atau simulasi penerapan protokol kesehatan di tempat bisnis pariwisatanya sehingga protokol kesehatan menjadi sebuah kebiasaan bagi pelaku industri pariwisata beserta karyawannya,” katanya.

Selain itu, dia mengatakan pelaku industri pariwisata juga membutuhkan waktu untuk mengedukasi dirinya, karyawan, para wisatawan dan masyarakat di sekitar industri pariwisata untuk disiplin pada protokol kesehatan.

"Ini tidaklah mudah untuk mengajak orang lain untuk merubah perilaku masyarakat,” ucapnya.

Pia menegaskan bahwa pelaku industri pariwisata harus benar-benar memperhatikan kebersihan, kesehatan, dan keselamatan semua komponen di industri ini mulai dari proses pemesanan, keberangkatan, kedatangan, aktifitas berwisata, hingga proses kepulangannya.

Jika ada hal yang terlewat, bisa jadi industri pariwisata malah bisa menjadi pemicu terjadinya second wave pandemic Covid-19.

Menurut alumni program doctoral University of Newcastle ini, pelaku industri pariwisata harus mulai menyusun strategi komunikasi pemasaran yang lebih disesuaikan dalam masa transisi.

Strategi komunikasi pemasaran saat ini bagi industri pariwisata bukan berorentasi pada penjualan tapi justru lebih fokus pada kampanye yang bertujuan edukasi kepada semua komponen dalam industri ini terutama pada wisatawan tentang protokol kesehatan di tempat-tempat dan bisnis pariwisata.

“Kampanyenya harus menyampaikan pesan bahwa tempat wisata, hotel, transportasi, dan pusat oleh-oleh yang akan didatangi wisatawan bersih, sehat dan aman. Karena masalah inilah yang menjadi kekhawatiran bagi wisatawan untuk melakukan kunjungan wisata ke sebuah tempat,” ujarnya.

Pesan-pesan dalam kampanye itu bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana seperti mengunggah foto-foto kegiatan bersih-bersih di tempat wisata di sosial media, membuat video sederhana yang menunjukkan kesiapan fisik tempat wisata sesuai protocol kesehatan, mengunggah berbagai poster dan video yang menarik tentang protokol kesehatan yang harus ditaati selama mengunjungi tempat wisata.

“Dari setiap pesan yang disampaikan secara terus-menerus di berbagai saluran komunikasi seperti sosial media dan media massa, Insyaallah wisatawan dan pelaku industri pariwisata akan merasa yakin bahwa industri pariwisata kita bersih, sehat, dan aman untuk dikunjung,” katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia