Bisakah Virus Corona Hilang Sebelum Ada Vaksin?

Ilustrasi - Antara/Ahmad Subaidi
19 Mei 2020 23:27 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Eksekutif di Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan vaksin adalah satu-satunya harapan untuk menghilangkan pandemi virus Corona baru penyebab Covid-19.

Ilmuwan dan peneliti lain juga telah menekankan bahwa vaksin yang didistribusikan secara luas adalah satu-satunya cara bagi orang yang rentan terinfeksi corona bisa dengan aman hadir di pertemuan besar dan beraktivitas normal di ruang publik.

Vaksin juga akan memengaruhi ketika sekolah dan acara olahraga sepenuh dilanjutkan dan pembatasan jarak sosial bisa dicabut dan berlaku normal seperti sedia kala. Namun demikian, seorang pakar mengatakan bahwa kita mungkin tidak perlu menunggu vaksin dikembangkan untuk mengatasi pandemi.

Dilansir dari Business Insider, Selasa (19/5) Karol Sikora, ahli kanker dari Inggris yang biasa memimpin program kanker WHO mengatakan bahwa ada kemungkinan virus akan terbakar secara alami sebelum vaksin apapun ditemukan.

Dia menambahkan bahwa ada indikasi populasi akan memiliki kekebalan tubuh lebih dari perkiraan yang ada. Kendati begitu, dia mengatakan saat ini program untuk memperlambat penyebaran virus tetap penting dan harus terus dilakukan.

Prediksi dari Sikora ini cukup menggembirakan, tetapi tidak cocok dengan apa yang dikatakan oleh sebagian besar ahli dan ilmuwan melalui berbagai penelitian yang telah dilakukan.

Sejumlah penelitian menunjukkan kurang dari 10 persen dunia telah terpapar virus corona, yang berarti bahwa tanpa vaksin yang digunakan, tubuh mebutuhkan waktu 4 atau 5 tahun untuk mengembangkan jenis kekebalan kawanan yang dapat mengendalikan wabah.

“Vaksin yang aman dan efektif adalah satu-satunya cara untuk secara aman membangun kekebalan kawanan terhadap virus untuk saat ini,” kata Emily Toth Martin, profesor epidemiologi dari University of Michigan School of Public Health.

Baru-baru ini, General Director WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menyebut bahwa penaklukkan virus corona masih membutuhkan waktu yang panjang. Dia menyebut bahwa studi serologi awal menunjukkan gambaran yang konsisten tentang hal ini.

Dia melanjutkan bahkan di daerah yang paling parah terkena dampak virus corona, proporsi populasi dengan antibodi virus tidak lebih dari 20 persen dan sebagian besar tempat proporsinya hanya sekitar 10 persen.

“Dengan kata lain, mayoritas populasi dunia tetap rentan terhadap virus ini. Risiko tetap tinggi dan kami masih memerlukan jalan panjang untuk menanggulangi pandemi ini,” katanya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia