6 Negara Mulai Buka Sekolah Setelah Pandemi Covid-19 Mereda, Ini Cara Mereka

Kegiatan sekolah dimulai. - JIBI/Bisnis.com
05 Mei 2020 18:07 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Pandemi Covid-19 telah menyebabkan sekolah-sekolah di seluruh dunia ditutup sementara untuk memperlambat dan memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Kendati beberapa prediksi menyebut masih diperlukan waktu untuk membuka kembali sekolah, tetapi beberapa negara yang tingkat infeksinya telah menurun, mulai kembali membuka kelas dan proses belajar mengajar secara fisik. Mereka mengambil sejumlah langkah pencegahan di sekolahnya.

Baru-baru ini, sebuah sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Israel kembali di buka. Beberapa kelas dan sekolah Norwegia, Jepang, Denmark, China, dan Taiwan saat ini juga telah memulai kembali aktivitas sekolah.

Anak-anak kembali ke institusi yang telah menyesuaikan diri dengan kenyataan baru. Anggota staf sekolah mulai memeriksa suhu tubuh para siswa. Beberapa sekolah memiliki taman bermain terutup dan menempatkan meja di ruang kelas dengan jarak enam kaki.

Berikut ini adalah sejumlah aktivitas sekolah yang telah dibuka di beberapa negara, dengan penyesuaian karena pandemi Covid-19, seperti dilansir dari Insider, Selasa (5/5).

Meja Ditempatkan Berjarak Enam Kaki dan Orang Tua Tidak Diizinkan Berada di Dalam Gedung Sekolah

Untuk mengurangi risiko infeksi, meja siswa di Denmark, Israel, dan Norwegia telah diberi jarak enam kaki sesuai dengan anjuran dari WHO untuk rekomendasi resmi jarak sosial yang efektif. Di China Timur, anak-anak sekolah diberikan topi berukuran tiga kaki yang dipakai untuk mengingatkan mereka agar menjaga jarak aman dari yang lain.

Di Denmark, anak-anak juga memasuki sekolah melalui pintu masuk yang berbeda untuk mencegah keramaian dan para orang tua tidak diizinkan masuk ke area gedung sekolah. Sementara di Israel, siswa tidak diizinkan melakukan kontak fisik dengan teman sebayanya ataupun para staf.

Siswa Menjalani Pemeriksaan Suhu Tubuh pada Saat Kedatangan

Di Jepang, Taiwan, dan China, anggota staf sekolah mengukur suhu tubuh siswa sebelum mereka memasuki gedung sekolah. Anak-anak yang memiliki suhu tinggi atau mengalami demam akan dikirimkan pulang.

Bahkan di sebuah sekolah di China, siswanya diharuskan mengisi survei pada aplikasi yang menghitung risiko seseorang terkena infeksi. Siswa hanya dapat memasuki sekolah jika aplikasi menunjukkan bahwa mereka dalam keadaan sehat.

Beberapa siswa di sekolah di China juga diberikan termometer pribadi dan diminta untuk mengukur suhu tubuh mereka dua kali sehari saat berada di lingkungan sekolah.

Di Israel, orang tua harus menandatangai formulir kesehatan yang menyatakan abahwa anak mereka tidak memiliki virus corona. Jika seorang anggota keluarganya positif, maka anak tersebut tidak diizinkan pergi ke sekolah.

Anak-Anak Diharuskan Mencuci Tangan Setap Jam dan Mengenakan Masker

Di Denmark, sekolah telah memasang stasiun cicu tangan di luar gedung sekolah dan para siswanya harus mencuci tangan dengan benar setidaknya sekali dalam satu jam.

Beberapa sekolah di Taiwan mewajibkan siswa mengenakan masker setiap saat. Adapun, siswa di Israel harus mengenakan masker pelindung saat berada di sekolah, tetapi boleh melepasnya ketika berada di dalam kelas.

Di Kafetaria Sekolah, Kursi dan Meja Diberi Jarak

Di beberapa sekolah di Shanghai dan Beijing China, siswa diberi kursi di kafetaria dan meja-meja berjarak setidaknya tiga kaki. Sementara itu, di sekolah lainnya, kafetaria sekolah telah ditutup dan siswa makan di ruang kelas masing-masing.

Ukuran Kelas dan Kelompok Bermain Lebih Kecil

Sekolah dalam kondisi normal di Denmark biasanya memiliki ukuran kelas rata-rata dengan 20 orang, tetapi dalam kondisi pandemi jumlah tersebut dibagi ke dalam dua atau tiga kelompok yang lebih kecil. Setiap kelompok memiliki guru sendiri.

Adapun, di Norwegia, anak-anak menghabiskan hari dalam kelompok beranggotakan tiga atau enam orang, tergantung pada usia peserta didik. Dalam kondisi normal, sekolah di negara itu juga biasanya memiliki kelompok berisikan sekitar 20 orang anak.

Petugas Sekolah Mendesinfeksi Ruang Kelas Dua Kali Sehari

Di Norwegia, anggota staf di sekolah diharuskan melakukan desinfeksi ruang kelas dan mainan dua kali sehari untuk membendung penyebaran virus. Anak-anak tidak lagi diizinkan untuk membawa mainan dari rumah dan sekolah telah malarang mainan yang sulit dibersihkan seperti boneka.

Di Israel, anak-anak juga tidak diperbolehkan untuk memeriksa buku-buku di perpustakaan sekolah, makanan, meminjam alat kelengkapan sekolah dari siswa lain, dan bermain dengan orang lain yang melibatkan sentuhan.