Korban Meninggal di Inggris Dekati 10.000, AS Lampaui Italia

Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down demi mengendalikan krisis karena virus Corona. - Bloomberg/Simon Dawson
12 April 2020 09:57 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Korban jiwa akibat wabah virus Corona penyebab Covid-19 di Inggris mendekati 10.000 orang hingga Sabtu waktu setempat. Sementara itu jumlah korban meninggal di AS melampaui angka di Italia.

Pejabat kesehatan Inggris melaporkan terjadi 917 kematian di rumah sakit dalam sehari terakhir. Sedangkan Perdana Menteri Boris Johnson masih memerlukan waktu istirahat untuk pemulihan akibat virus tersebut.

Inggris melaporkan 9.875 kematian akibat pandemi virus Corona dan menjadi angka nasional kelima tertinggi di dunia. Peningkatan pada Sabtu merupakan peningkatan hari kedua berturut-turut dengan jumlah kematian lebih dari 900 orang.

Hampir 80.000 orang di Inggris berdasarkan tes terbukti positif mengidap virus itu, di antaranya PM Johnson. Kini Johnson masih dalam tahap awal pemulihan di bangsal rumah sakit. Dia sebelumnya menghabiskan tiga malam dalam perawatan intensif.

Downing Street menyatakan Johnson "terus mencapai kemajuan yang sangat baik", tetapi Menteri Dalam Negeri Priti Patel mengatakan sangat penting bagi Johnson untuk mengambil waktu demi pemulihan.

"Seluruh kabinet akan mendukung pesan itu," katanya pada konferensi pers di Downing Street seperti dikutip ChannelNewsAsia.comĀ melansirĀ Bisnis.com, Minggu (12/4/2020).

Sementara itu, jumlah korban meninggal di AS terkait virus Corona tercatat melampaui kasus kematian di Italia. Sebanyak 20.071 orang meninggal di AS, sedangkan Italia mencatat 19.468 kematian, demikian penghitungan Universitas Johns Hopkins seperti dikutip Aljazeera.com.

Catatan suram itu terjadi ketika AS melaporkan lebih dari 500.000 kasus dan Presiden Donald Trump menyatakan prihatin soal kapan negara itu kembali normal.

Sumber : Bisnis.com