Perbandingan Efektivitas 4 Masker dalam Mencegah Virus

Penumpang kereta commuter line (KRL) menggunakan masker saat berada di Stasiun Sudirman, Jakarta, Selasa (3/3/2020). - JIBI/Bisnis.com/Himawan L Nugraha
01 April 2020 23:27 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Masker menjadi salah satu alat pelindung diri (APD) yang diburu banyak orang di tengah pandemi Covid-19. Masker diyakini dapat mencegah virus yang menyerang saluran pernafasan masuk melalui mulut maupun hidung.

Setidaknya ada 4 jenis masker yang digunakan masyarakat sejak kasus pandemi ini bermunculan. Diantaranya masker bedah, masker respirator seperti N95 dan FFP1, masker karbon aktif, hingga masker kain.

Namun dari beragam jenis tersebut, setiap masker memiliki cara kerja yang berbeda dalam menangkap dan menghentikan bakteri serta virus yang ingin masuk ke dalam saluran pernapasan anda.

Berikut ini adalah penjelasan yang dapat membantu Anda memutuskan masker mana yang cocok untuk digunakan selama pandemi corona, dikutip dari Times of India :

1. Masker bedah

Masker bedah terbilang paling banyak digunakan oleh masyarakat pada saat ini walaupun harganya melonjak dan keberadaanya sempat langka di Indonesia karena adanya penimbunan.

Namun tahukah anda, masker ini tidak benar-benar 100% melindungi anda dari tertularnya virus corona. Hal ini lantaran masker bedah memiliki celah dan bentuk yang sedikit longgar di sekitar mulut.

Oleh karena itu, masker bedah lebih baik dipakai oleh mereka yang tengah sakit. Setidaknya, masker bedah bermutu tinggi dapat menghentikan penularan berbagai jenis virus hingga 80-90 persen. Sebab dengan menggunakan masker, dapat mencegah partikel yang dikeluarkan oleh pemakainya, seperti ludah atau lendir.

2. Masker N95 dan FFP1

Masker respirator N95 bentuknya sedikit lebih ketat daripada masker bedah. Masker N95 memfilter 95% partikel seukuran 0,3 mikron atau berdiameter lebih besar, kira-kira seukuran virus tunggal dan partikel berukuran 2.5 mikron.

Beberapa masker N95 memiliki katup pernapasan yang dapat menyaring penumpukan kelembaban. Mereka juga bekerja secara drastis lebih baik dalam menyaring dan menghentikan polutan, virus, dan bakteri memasuki mulut atau lorong hidung, dengan kemanjuran 95 persen.

Memang harga masker ini terbilang mahal. Namun dibandingkan dengan lainnya  masker N95 menawarkan tingkat perlindungan tertinggi.

Sementara itu, masker FFP1 dianggap sebagai alternatif dari masker N95. Masker FFP1 melindungi seseorang dari menghirup partikel yang kualitasnya lebih berbahaya. Masker ini biasanya juga lebih aman dipasang di sekitar hidung dan mulut untuk memastikan bahwa partikel beracun atau berbahaya tidak masuk.

3. Masker karbon aktif

Seperti namanya, masker ini mengandung filter karbon aktif yang membantu mengumpulkan dan menyaring polutan dan kuman, agar menghirup udara yang lebih bersih. Penelitian mengatakan bahwa filter karbon yang ada dalam masker ini bahkan dapat meningkatkan kapasitas paru-paru dan otot-otot pernapasan, khususnya bagi mereka yang tinggal di kota dengan polusi tinggi.

Karena itu, masker ini bekerja sangat baik dalam memerangi polusi dan partikel kecil seperti bakteri dan jamur yang menyebar melalui udara yang kita hirup, serta membantu mencegah alergi.

Kendati demikian, masker ini tidak terlalu efektif digunakan untuk mencegah masuknya virus corona. Sebab masker ini hanya dapat menyaring 10-20 persen virus yang masuk dan karenanya mungkin ini bukan pilihan terbaik.

4. Masker kain

Naiknya harga masker dan kelangkaan yang terjadi di pasaran membuat sejumlah orang memilih masker kain sebagai alternatif untuk mengantisipasi penularan virus corona. Bahkan beberapa diantaranya membuat sendiri masker kain tersebut.

Masker ini terbilang kurang menawarkan perlindungan dari masker bedah atau respirator. Masker kain hanya menyaring sekitar 50 persen bakteri dan polutan debu. Belum diketahui apakah masker ini efektif terhadap pencegahan virus corona, sejumlah ahli masih menelitinya.

Namun bagaimanapun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit menyarankan agar setiap orang tetap menjaga area wajah mereka di tengah pandemi ini.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia