Kuota Nikel 2027 Dipangkas, Biaya Smelter Diprediksi Melonjak
Perhapi menilai pemangkasan kuota bijih nikel 2027 berisiko menaikkan harga bahan baku, biaya operasional smelter, dan menekan produksi.
Early Warning System/Ist-OPI
Harianjogja.com, SOLO - Sejak beberapa bulan terakhir, tiga dari empat alat pendeteksi dini atau Early Warning System (EWS) banjir yang dipasang di anak Sungai Bengawan Solo wilayah Kota Solo rusak.
Keempat EWS itu dipasang di Kali Brojo, Kali Anyar, Kali Pepe, dan Kali Premulung, tepatnya di Kampung Banyuanyar (Banjarsari), Kleco (Laweyan), Pajang (Laweyan), dan Mipitan (Jebres).
Anggota tim reaksi cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solo, Hananto Leo, mengatakan EWS yang dipasang di Kali Anyar menjadi satu-satunya EWS yang masih berfungsi. “Kerusakannya bermacam, yang di Pajang accu-nya mati, di Mipitan solar panelnya patah, di Kleco sering korslet. Saya keliling cek satu persatu, sebenarnya keempatnya juga rusak, tapi yang di Banyuanyar sudah diperbaiki,” kata dia, Kamis (20/2/2020).
Hananto mengatakan sebelum rusak, alat deteksi dini banjir itu tiba-tiba berbunyi sendiri meskipun banjir belum datang. Sehingga, sempat menimbulkan kepanikan warga.
Padahal, EWS tersebut seharusnya baru berbunyi saat tinggi muka air (TMA) sungai berada di level kuning hingga merah. Sebelum menyentuh kedua level itu, masih ada level hijau. “Alat ini penting sebagai peringatan kepada warga saat air meluap agar mereka bisa mengungsikan barang-barang berharga,” jelasnya.
Kepala Pelaksana Harian (kalakhar) BPBD Solo, Eko Prajudhi Nur Ali, mengatakan kerusakan EWS sebagian akibat ulah orang tidak bertanggung jawab. “Ada anak-anak yang usil yang sengaja merusak. Terutama yang di Banyuanyar dan Mipitan. Kami segera memperbaiki itu karena berfungsi betul untuk masyarakat,” kata dia, dihubungi terpisah.
Ia menyebut anak-anak sungai Bengawan Solo tersebut mendapatkan limpahan air dari Boyolali. Karakternya yang lurus, tidak ada hambatan, dan tak berkelok memungkinkan terjadinya longsor pada tebing maupun banjir bandang.
“Imbauan saya kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai. Karena kalau sampah itu tersangkut di jembatan kemudian air dari atas mengalir deras akan menyebabkan longsor. Aliran air juga jadi terhambat. Selain itu, jangan berteduh di bawah pohon saat hujan deras,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Perhapi menilai pemangkasan kuota bijih nikel 2027 berisiko menaikkan harga bahan baku, biaya operasional smelter, dan menekan produksi.
Bulog Kanwil Yogyakarta memperkuat penyaluran jagung SPHP dan penyerapan telur untuk membantu peternak ayam petelur skala mikro.
Pesawat Hercules C-130 Australia mulai melakukan water bombing di Samarinda. Sementara itu, Barito Selatan memperpanjang tanggap darurat karhutla.
Pemprov Jateng melibatkan kader posyandu untuk mempercepat registrasi Perlinsos Digital. Saat ini, sekitar 2 juta KK telah terdaftar.
Dishub Kota Jogja memetakan 10 ruas jalan rawan kecelakaan saat musim hujan dan menyiapkan pemantauan serta penanganan gangguan lalu lintas.
Museum Sandi meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2026 kategori museum berkat komitmennya melestarikan sejarah persandian nasional.