Pemerintah Hanya Akan Setop Impor Hewan Hidup Dari China, Hortikultura Tetap Lanjut

Presiden Joko Widodo (tengah) memimpin rapat terbatas (ratas) di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020). - ANTARA / Hafidz Mubarak A
05 Februari 2020 08:47 WIB Hafiyyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -  Sebagai antisipasi masuknya virus corona ke Indonesia dari China, Pemerintah memutuskan hanya akan menyetop impor hewan hidup dari China.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penyetopan impor dari China tidak akan berlaku pada produk hortikultura lain seperti buah-buahan, sayuran dan bawang putih.

“Karena transmisi penularan Corona melalui manusia dan hewan, kita akan setop impor live animal,” tuturnya usai Rapat Terbatas (Ratas) dengan topik ‘Kesiapan Menghadapi Dampak Virus Corona di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (4/2/2020).

Airlangga menambahkan pemerintah akan memonitor dampak virus Corona setiap dua minggu selama Februari 2020. China sendiri juga melakukan evaluasi setiap 2 minggu, dan memonitor perkembangan lokasi karantinanya pada akhir bulan ini.

Sementara itu, pada saat yang sama, Presiden Joko Widodo meminta jajarannya menghitung secara cermat dampak penerapan kebijakan terkait penyebaran virus Corona terhadap perekonomian Indonesia, terutama sektor perdagangan dan pariwisata.

"Saya minta dikalkulasi secara cermat dampak dari kebijakan ini pada perekonomian kita, baik dari sektor perdagangan di sektor investasi dan di sektor pariwisata," kata Presiden dalam keterangan resminya.

 Terkait sektor perdagangan, Jokowi menuturkan bahwa China merupakan negara tujuan ekspor pertama dengan pangsa pasar 16,6 persen dari total ekspor Indonesia. Tak hanya itu, Negeri Panda juga merupakan negara asal impor terbesar bagi Indonesia.

"Hal itu betul-betul harus diantisipasi dampak dari virus Corona dan perlambatan ekonomi di China terhadap produk ekspor kita," imbuhnya.

Jokowi juga memandang bahwa ada peluang untuk memanfaatkan ceruk pasar ekspor di negara-negara lain yang sebelumnya banyak mengimpor produk yang sama dari China. 

 "Saya juga melihat hal ini memberikan momentum bagi industri substitusi impor di dalam negeri untuk meningkatkan produksi berbagai produk yang sebelumnya diimpor dari China," lanjutnya.

 

Sumber : Bisnis.com