Advertisement
Warga Sleman Waspadalah, Sudah 24 Orang Meninggal karena DBD
Ilustrasi. - Antarafoto
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN--Dinkes kabupaten Sleman mengajak masyarakat waspada terhadap kasus demam berdarah dengue (DBD) di awal tahun 2020 ini.
DBD di Sleman sejak 10 tahun terakhir sejak 2010 sampai dengan 2019 sudah merenggut nyawa manusia sebanyak 24 orang. Kondisi ini ditambah ancaman DBD masih akan mengintai mengingat saat ini masih dalam musim penghujan.
Advertisement
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Novita Krisnaeni menjelaskan total kasus DBD sejak 10 tahun terakhir di kabupaten Sleman menembus angka 4978 kasus.
Dari 4978 kasus tersebut, kasus DBD dengan lebih dari 600 kasus terjadi pada tahun 2013 dengan 736 kasus, 2016 dengan 880 kasus, dan kemudian pada tahun 2019 dengan 728 kasus. "Masyarakat diharapkan mengenal gejala DBD dengan baik, kalau penanganan terlambat akibatnya akan fatal," ujar Novita, Selasa (21/1/2020).
BACA JUGA
Kasus dengan korban meninggal terbanyak sendiri terdapat pada tahun 2015 dan 2016 dengan masing-masing korban meninggal sebanyak sembilan orang.
Adapun, jumlah kasus DBD terbanyak ada di Kecamatan Depok dan Gamping, masing-masing 121 dan 119 pasien. Lainnya yang cukup tinggi adalah Mlati, Godean, Kalasan, Prambanan, dan Ngaglik, semuanya diatas 50 kasus. Sejumlah daerah diatas juga telah diminta untuk lebih meningkatkan kesiapsiagaan.
Ciri-ciri seseorang menderita DBD, lanjut Novita, antara lain, demam tinggi di atas 39 derajat, ada tanda-tanda pendarahan seperti gusi berdarah, bintik-bintik merah, mimisan, nyeri ulu hati. "Jika merasakan gejala tersebut, masyarakat supaya segera ke layanan kesehatan," imbuhnya.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengungkapkan instruksi lainnya adalah mengaktifkan kembali kelompok kerja DBD mulai dari tingkat kecamatan, desa hingga RT/RW, dan memastikan ketersediaan sarana prasarana pemberantasan nyamuk DBD.
Imbauan lainnya, lanjut Joko, adalah mendorong gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik, pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M plus, dan meningkatkan surveilans melalui kegiatan pemantauan jentik berkala.
"Upaya pencegahan salah satunya dapat dilakukan dengan 3M plus yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang bekas plus mencegah gigitan nyamuk dengan penggunaan cairan anti nyamuk oles atau spray, larvasida di genangan air, dan menanam tanaman pengusir nyamuk," terang Joko.
Joko menambahkan, wilayah yang kepadatan penduduknya tinggi perlu meningkatkan kewaspadaan. Rumah-rumah kosong juga harus dijadikan perhatian karena potensial muncul sarang nyamuk.
Sejauh ini pelepasan telur aedes aegypti ber-Wolbachia baru dilaksanakan di Kecamatan Gamping. Hasil riset juga diklaim efektif mengurangi penyebaran penyakit demam berdarah pada area uji coba.
"Belum disebarkan di tempat lain. Menunggu dulu karena ini (pelepasan aedes ber-Wolbachia) kan sifatnya riset, jadi ada tahapan yang harus dilalui," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Longsor dan Pergerakan Tanah Terjang Tiga Kecamatan di Bogor
- Delapan Tahun Terjerat Judi Online, Erwin Kehilangan Rp800 Juta
- Ketegangan AS-Iran Meningkat, Trump Pertimbangkan Aksi Militer
- IDAI Ungkap PHBS Jadi Benteng Utama Hadapi Virus Nipah
- Antisipasi Virus Nipah, Singapura Perketat Pemeriksaan di Changi
Advertisement
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- PPATK Terima 43,7 Juta Laporan 2025, Transaksi Judi Masih Dominan
- Rapat Pleno PBNU Pulihkan Yahya Cholil Staquf Sebagai Ketua Umum
- KPK Kantongi Hasil Audit Kerugian Negara Proyek Gedung Pemkab Lamongan
- KRL Jogja-Solo Normal, Ini Jadwal Lengkap Perjalanan Jumat 30 Januari
- Industri Minuman Alkohol Sumbang Triliunan Rupiah ke Ekonomi Nasional
- KJRI Johor Bahru Ungkap Kronologi Penyelundupan 7,5 Ton Pasir Timah
- Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 30 Januari, Permudah Mobilitas Warga
Advertisement
Advertisement




