Raja Keraton Agung Sejagat Gelar Ritual di Mata Air Dieng hingga Gunung Tidar

Warga Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, digegerkan oleh kemunculkan orang yang mengaku sebagai pemimpin Kerajaan Agung Sejagat alias KAS. - Ist/Facebook
16 Januari 2020 16:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Raja Keraton Agung Sejagat yang kini mendekam di penjara pernah melakukan ritual di sejumlah lokasi.

Raja Keraton Agung Sejagat seolah punya jejak di berbagai daerah mulai dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga dataran tinggi Dieng. Pria bernama Toto Santoso itu terlacak tinggal di sebuah kontrakan di Kabupaten Sleman hingga dikukuhkan jadi raja di Tuk Bimakular, Dieng.

Toto diketahui tinggal di sebuah rumah kontrakan yang beralamat di Jalan Berjo-Pare, RT 05 RW 04, Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Tak hanya bertempat tinggal, Toto juga menjalankan bisnis angkringan di rumah itu.

Tetangga Toto, Deki Rinawan (31) menceritakan usaha angkringan itu sudah dijalani Toto selama hampir setahun belakangan ini.

Usaha angkringan itu dijalankan Toto dengan memanfaatkan beberapa gazebo yang berdiri di samping rumah kontrakannya. Menurut Deki, biasanya ada beberapa orang yang berjaga di angkringan dan rumah tersebut.

Angkringan itu akhirnya dibongkar dan papannya dilepas oleh polisi pada Selasa (14/1/2020) malam. Rumah itu juga telah digeledah polisi dari Polres Purworejo dan Polda Jateng. Deki mengaku menyaksikan proses penggeledahan itu. Menurutnya, ada sejumlah barang dalam boks yang disita polisi.

Saat memerankan sebagai raja, Toto melaksanakan sejumlah ritual di beberapa daerah. Ritual pertama yakni ritual terkait pengukuhannya sebagai 'raja' Keraton Agung Sejagat.

Kepala UPT Pengelolaan Objek Wisata Dieng Aryadi Darwanto mengatakan acara pengukuhan tersebut digelar di Tuk Bimalukar pada Juli 2019. Dari mata air tersebut, Toto dan para pengikutnya berjalan menuju kompleks Candi Arjuna yang berjarak sekitar 2 kilometer.

Aryadi mengatakan Toto beserta pengikutnya mengenakan pakaian kebesaran dengan corak warna-warni dan diiringi musik drumband.

Di kompleks Candi Arjuna, mereka melakukan doa bersama. Bahkan ritual ini juga ditonton warga Dieng. Namun warga menontonnya tidak sampai selesai karena suhu Dieng saat itu semakin dingin pada malam hari.

"Mulai ritualnya jam 7 malam sampai jam 2 pagi. Warga sempat pada melihat, tapi karena dingin kemudian pada pulang. Karena saat itu muncul embun es," jelasnya saat dihubungi detikcom-jaringan Harianjogja.com, Kamis (15/1/2020).

Pada kesempatan tersebut, Toto Santoso juga memberikan baju kebesarannya kepada tokoh adat Dieng, Sumanto.

Tak hanya di Dieng, Toto juga melaksanakan ritual di Gunung Tidar, Magelang. Salah seorang penjaga Gunung Tidar, Heri Setyawan (50) menceritakan ritual digelar pada Mei 2019 lalu.

Kala itu Toto dan Fanni terlihat memakai seragam kebesaran mereka, sementara para pengikutnya memakai pakaian ala prajurit hingga jubah warna putih.

Di Gunung Tidar ini rombongan Toto itu melakukan ritual yang disebut Ruwat Mataram Bumi Mandala. Dalam ritual itu mereka melakukan arak-arakan dengan diiringi musik drum band.

"Saya kaget lihat televisi ada berita raja itu. 'Lho itu kan yang dulu naik (ke Gunung Tidar), Romo Toto'. Pakaian ya mirip yang di TV itu. Saya terus lihat HP, coba lihat foto-foto ternyata sudah kehapus," kata Heri.

Ruwatan tersebut berlangsung pada malam hingga dini hari. Rombongan itu juga sempat memotong puluhan ayam dan darahnya dikubur di sekeliling Tugu Sa yang berada di puncak Gunung Tidar. Kegiatan ruwatan itu lalu dilanjutkan dengan doa bersama dan rebutan tumpeng.

"Di atas motong ayam. Terus darahnya dikubur sekeliling tugu," jelas Heri. Heri mengaku janggal dengan kegiatan tersebut. Dia lalu mengambil foto ruwatan yang dilakukan 'Raja' Toto dan 'Ratu' Fanni itu.

"Cuman janggal saja, keraton kok pengikutnya datang dari mana-mana. Setelah bubaran itu, saya sempat membersihkan dapat seekor ayam, terus saya kasihkan tetangga," kenangnya.

Hingga akhirnya, Toto dan 'ratunya' Fanni Aminadia mendeklarasikan berdirinya Keraton Agung Sejagat, di Dusun Pogung, Desa Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Kegiatan itu ditandai dengan peresmian batu prasasti bernama Ibu Bumi Mataram II.

Sumber : Detik.com