Advertisement
Rizal Djalil Janji Buka-Bukaan Perkara Suap Proyek SPAM
Anggota BPK Rizal Djalil berjalan seusai diperiksa di kantor KPK, Jakarta, Jumat (4/10/2019). Rizal diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap proyek pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kementerian PUPR dengan tersangka Jusminarta Prasetyo, sebelumnya KPK juga telah menetapkan Rizal sebagai tersangka kasus tersebut. - ANTARA/Sigid Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan Rizal Djalil memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (9/10/2019). Ia diperiksa sebagai tersangka dugaan suap proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum di Kementerian PUPR tahun anggaran 2018.
"Saya datang untuk memenuhi panggilan penyidik dan akan memberikan keterangan apa pun yang dibutuhkan oleh penyidik," ujar Rizal di Gedung KPK, Rabu.
Advertisement
Mantan politikus PAN itu mengaku membawa dokumen pendukung yang diminta oleh penyidik KPK sebelumnya. Rizal mengaku akan sangat kooperatif pada pemeriksaan hari ini.
Rizal tak memenuhi panggilan perdana sebagai tersangka yang dijadwalkan pada Senin (7/10/2019).
BACA JUGA
Rizal mengaku akan secara terang benderang atau terbuka membeberkan kasus dugaan suap proyek SPAM di Kementerian PUPR.
"Saya akan bicara nanti pertama persoalan uang yang Rp3,2 miliar, itu siapa yang menerima, di mana diserahkan. Saya meminta kepada penegak hukum untuk membuka itu, mengungkapkan itu," kata Rizal.
Selain itu, Rizal mengaku akan menjelaskan soal dugaan perubahan audit BPK yang menjadi bagian kontruksi perkara KPK dalam masalah ini. Kemudian, soal dugaan adanya pihak-pihak yang mengatur proyek di Kementerian PUPR.
"Siapa yang berwenang mengatur proyek di kementerian, apakah benar sebagai anggota BPK saya meminta memanggil seseorang? Saya jelaskan nanti, kenapa dia dipanggil, kenapa dia diundang, saya akan buka segala laporan terkait itu," ujarnya.
Dalam pengembangan kasus SPAM Rizal Djalil diduga menerima suap sebesar 100 ribu dolar Singapura dari Komisaris PT Minarta Dutahutama, Leonardo Jusminarta.
Rizal diduga menerima suap untuk membantu perusahaan PT Minarta Dutahutama agar mendapatkan proyek SPAM jaringan Distribusi Utama (JDU) Hongaria dengan pagu anggaran Rp79,27 miliar di Kementerian PUPR.
KPK menduga pemberian uang kepada Rizal melalui seorang perantara. Leonardo sebelumnya menjanjikan akan menyerahkan uang Rp1,3 miliar dalam bentuk dolar Singapura.
Uang tersebut akhirnya diserahkan kepada Rizal Djalil melalui salah satu pihak keluarga dengan jumlah SG$100 ribu dan pecahan 1.000 ribu dolar Singapura atau 100 lembar di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.
Perkara proyek SPAM ini berawal dari OTT yang dilakukan KPK pada 28 Desember 2018 dan mengamankan uang senilai Rp3,3 miliar, SG$23.100, dan US$3.200 atau total sekitar Rp3,58 miliar, dan menetapkan delapan orang sebagai tersangka.
Sejauh ini, delapan orang yang sebelumnya dijerat KPK telah dijebloskan ke penjara dengan masa hukuman bervariasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pajak dan BBM Meroket, Krisis Ekonomi Lebanon Ramadan 2026 Mencekik
- Istri AKBP Didik, Miranti Afriana Positif Narkoba
- Eks Kapolres Bima Kota Dipecat usai Terbukti Terlibat Kasus Narkoba
- Gas Tertawa Meledak, Lima Remaja Tewas dalam Kebakaran Apartemen
- Arab Saudi dan Iran Awali Ramadan 1447 H di Hari yang Berbeda
Advertisement
Dishub DIY Targetkan Peremajaan 97 Armada Trans Jogja pada 2027
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Bupati Sleman Serahkan BPJS Ketenagakerjaan bagi 704 Anggota BPKal
- BPN Kulonprogo Targetkan 2.000 Bidang Tanah PTSL 2026
- 347 Calon Jemaah Haji Gunungkidul Masuk Kloter 10 YIA, Berangkat 3 Mei
- Sleman Tambah 8 Dump Truck untuk PSEL Piyungan 2028
- Pilot Pelita Air Tewas, TNI Temukan di Krayan Timur
- Menperin: Produksi Pikap Mampu Penuhi 70.000 Unit, Potensi Rp27 T
- Kronologi AKBP Didik Diduga Jadi Gembong Narkoba Berujung PTDH
Advertisement
Advertisement







