Peneliti LIPI Ingatkan Masalah Air di Lokasi Ibu Kota Baru

Gagasan rencana dan kriteria disain ibu kota negara. - ANTARA/Paparan Kementerian PUPR
09 September 2019 20:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Air diprediksi bakal menjadi masalah di lokasi ibu kota baru di Kalimantan Timur.

Persoalan pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur masih terus terjadi. Tak hanya kesiapan infrastruktur yang harus benar-benar diperhatikan, pemerintah pun harus memiliki perencanaan yang tepat dalam pengelolaan sumber daya air di ibu kota baru nanti.

Sebab pemenuhan kebutuhan air untuk calon ibu kota baru menjadi sangat krusial. Tidak hanya untuk konsumen masyarakat yang tinggal disana namun juga kelestarian sumber daya air.

"Dalam perencanaan ibu kota baru harus diteliti dulu daya dukung dan daya tampung. Harus jelas berapa banyak air, dari mana sumbernya, bagaimana kualitasnya, sistem penyalurannya bagaimana, masyarakatnya bagaimana, apakah merusak atau tidak. Di hulunya apakah banyak penduduknya," ungkap anggota Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) sekaligus peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Otto SR Ongkosongo di sela Seminar Nasional Geomorfologi di Kantor DPD Yogyakarta, Senin (9/9/2019).

Menurut Otto, keberadaan bekas-bekas tambang di Bukit Suharto yang akan dijadikan waduk pun perlu dipersiapkan secara matang sumber daya airnya. Sebab, pembangunan waduk di kawasan tersebut harus memperhatikan semua dimensi.

Apalagi cuaca di Kalimatan termasuk fluktuatif. Dengan memakai skenario terburuk, ketika musim kemarau panjang terjadi, pemerintah harus mampu memastikan suplai air yang berkualtas.

Berkaca dari Jakarta, meski anggaran pengelolaan sumber air besar namun suplai air di kota tersebut sulit. Kualitas air pun tidak layak karena kotornya sungai dan danau sehingga harus mengambil air dari Citarum.

"Kalau musim panas, debit air sedikit maka kadar pencemarannya pun tinggi sejak dari hulu. Jangan sampai terjadi seperti di Jakarta yang kualitas airnya tidak layak," tandasnya.

Selain sumber daya air, lanjut Otto, kawasan lahan gambut yang asam di Kalimantan pun harus jadi perhatian pemerintah. Sebab hal itu bisa jadi persoalan tersendiri, apalagi wilayah ibu kota baru berpotensi kebakaran hutan dan banjir.

"Pengelolaan air di ibu kota baru nanti benar-benar harus ditata dengan baik," katanya.

Sumber : Suara.com