Petinggi PTPN III Terjaring KPK, Industri Gula Jalan Terus

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif (kanan) didampingi juru bicara KPK Febri Diansyah memberikan keterangan pers terkait penetapan tersangka kasus korupsi di gedung KPK, Jakarta, Senin (29/4/2019). - ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak
05 September 2019 09:37 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Rencana revitalisasi industri gula tak akan terganggu karena kasus suap distribusi gula yang melibatkan sejumlah petinggi di PT PTPN III (Persero).

Adapun untuk 2019 ini, induk sektor perkebunan tersebut menargetkan menambah kapasitas produksi tiga pabrik gula yang beroperasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Peran badan usaha milik negara (BUMN) dalam pemenuhan kebutuhan gula kristal putih (GKP) untuk konsumsi terbilang cukup besar. Pada 2018, Kementerian Pertanian mencatat produksi GKP hasil pengolahan tebu tercatat mencapai 1,17 juta ton, sementara GKP hasil pengolahan gula mentah (raw sugar) impor berjumlah 74.690 ton. 

Menurut Ketua Dewan Penasehat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi, jumlah tersebut mencakup sekitar 35%  dari total produksi gula kebutuhan konsumsi dan industri dalam negeri.

"Peran BUMN sangat penting. Sekitar 35 persen produksi gula nasional datang dari BUMN dan petani tebu yang bermitra dengan mereka," kata Bayu kala dihubung Bisnis, Rabu (4/9/2019).

Bayu pun memperkirakan kasus suap distribusi gula yang melibatkan Direktur Utama PTPN III Dolly Pulungan dan Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana tak bakal banyak mengganggu rencana revitalisasi pabrik gula. Hal ini mengingat bisnis produksi gula dalam volume besar berasal dari sejumlah anak perusahaan seperti PTPN IX, PTPN X, dan PTPN XI.

"Saya kira tidak banyak ya dampaknya. Beritanya terkait Dirut PTPN III kan? Di PTPN III tidak ada atau kecil sekali produksi gulanya. Yang besar di PTPN IX, X, XI dan ada sedikit di VII dan XIV," sambung Bayu.

Sumber : Bisnis.com