Dilelang September, Lokasi Pembangunan Tol di Jogja Segera Ditentukan

Ilustrasi jalan tol. - Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
29 Agustus 2019 09:37 WIB Abdul Hamied Razak News Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Rencana pembangunan tol di DIY mulai menemukan titik terang. Kementerian PU akan melelang proyek tersebut pada September mendatang. Hal tersebut disampaikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Jakarta.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi dan Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY, Hananto Hadi Purnomo membenarkan pernyataan Menteri PUPR Basuki terkait rencana lelang jalan tol di Jogja. "Lha itu sudah ada pernyataan dari Menteri PUPR terkait trase-trase tol yang di Jogja," kata Hananto saat ditanya mengenai trase tol yang melewati Kulonprogo, Rabu (28/8/2019) malam.

Hanya saja, Hananto enggan menjelaskan lebih rinci masalah trase terutama tol yang menuju Bandara YIA. Sebelumnya, Hananto mengatakan jika jalur exit dan entry tol di wilayah DIY akan menghubungkan dengan jalan yang sudah ada. "Tapi kami belum bisa menjelaskan semua agar tidak menimbulkan ulah spekulan," katanya.

Adapun Kepala Bappeda DIY Budi Wibowo mengatakan persoalan saat ini yang paling mendesak adalah bagaimana proyek ini segera dikerjakan. Pembangunan tol dan jalur kereta ke bandara harus terwujud. "Ini sesuatu yang harus dikerjakan. Tanpa ada sarana dan prasarana yang memadai, orang akan memilih ke [bandara] di Solo dibandingkan ke Kulonprogo," katanya.

Kirim Surat

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit membenarkan rencana lelang tersebut. Hanya saja, sebelum lelang dilakukan dalam waktu dekat, Kementerian PU akan mengirimkan surat kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk persetujuan penetapan lokasi (Penlok) jalur tol di DIY. "Dalam satu dua hari ini pak Dirjen [Dirjen Bina Marga Kemen PUPR Sugiyartanto] akan mengirimkan surat usulan penetapan lokasi ke Gubernur," kata Danang kepada Harianjogja.com.

Usai menemui Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan, Juli lalu, Danang mengatakan jika trase jalan tol di wilayah DIY sudah disepakati, BPJT akan melakukan proses lelang. Untuk ruas tol Bawen-Jogja, sifatnya investasi penuh karena prakarsa pemerintah pusat. Sedangkan ruas tol Solo-Jogja, prakarsanya dari badan usaha.

Menurut Danang, ada perbedaan pola antara prakarsa pemerintah dengan prakarsa yang diajukan oleh Badan usaha. Meski begitu, seluruh proyek tersebut tetap akan dilelang dan bukan menggunakan mekanisme penugasan. "Meskipun yang mengajukan ide pembangunan jalan tol Jogja-Solo badan usaha, bukan berarti tidak ada kompetitornya. Sebab tetap kami lelang. Badan usaha mana yang bisa memberikan tarifnya lebih murah, tentu akan ditetapkan sebagai pemenang tender oleh pemerintah," katanya.

Jika ada badan usaha yang menawarkan lebih murah dari pemrakarsa, maka Pemerintah tetap menawarkan lebih dulu kepada pemrakarsa apakah bisa menawarkan harga yang sama dengan kompetitornya. "Jika pemrakarsa bisa menawarkan harganya sesuai dengan yang ditawarkan kompetitornya, maka dia bisa mengambil proyek itu. Sebaliknya demikian," kata Danang.

BPJT sendiri tahun ini siap melelang tujuh ruas jalan tol di sejumlah daerah. Dua di antaranya yang akan dilelang adalah ruas jalan tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo. Pembangunan jalan tol menuju YIA ini, kata Danang, akan dibangun secara bertahap ketika dua jalan tol lainnya dibangun. Proyek Tol Solo-Jogja-Kulonprogo dibangun untuk memperlancar arus lalu lintas ke bandara YIA.

"Kalau Pak Sultan [Gubernur DIY] menyarankan [proses pembangunan] dilakukan bertahap antara [jalan tol] yang Solo ke Jogja, kemudian Jogja-Kulonprogo," ujar Danang.

Untuk finalisasi transenya, pihaknya masih menunggu keputusan dari Gubernur DIY. Sementara itu, terkait konsep pembangunannya, Danang mengatakan, akan ada bagian-bagian yang akan dibuat melayang (elevated) ada juga yang atgrade. Misalnya jika jalan tol harus melewati permukiman akan dibuat elevated. "Kami hindari trasenya yang dengan permukiman. Kalau tidak, harus elevated," katanya.