Tol Jogja-Solo Jangan Sampai Mengisolasi Kampung

Sejumlah kendaraan mobil pemudik arus balik melintasi jalur tol fungsional Solo-Salatiga di Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (20/6). - Antara
21 Juli 2019 18:47 WIB Taufik Sidik Prakoso News Share :

Harianjogja.com, KLATEN – Pemkab Klaten mengajukan sejumlah usulan kepada tim perencana proyek jalan tol Solo-Jogja, seperti pergeseran trase yang melintasi embung dan mencegah kampung terisolasi karena tol.

Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Jaka Sawaldi, mengatakan pemkab mewanti-wanti tim perencana memperhitungkan secara rinci rencana ruas jalan tol. Hal itu dimaksudkan agar tidak ada kampung yang terisolasi lantaran tergusur jalan tol.

Soal kampung-kampung yang bakal terisolasi, Jaka mengatakan menunggu hasil penetapan lokasi (penlok) jalan tol Solo-Jogja. “Dalam artian terisolasi itu terbelah [karena jalan tol] hingga tinggal sedikit warga yang ada di kampung itu. Saat penlok nanti dilihat apakah ada kampung terisolasi atau tidak,” jelas dia saat ditemui di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Sabtu (20/7/2019).

Salah satu perkampungan yang masuk rencana terdampak jalan tol berada di Dukuh Sidorejo, Desa Beku, Kecamatan Karanganom. Saat mengecek lokasi-lokasi yang bakal terdampak tol pekan lalu, Bupati Klaten, Sri Mulyani, meminta ada pergeseran rencana jalur yang melintasi perkampungan serta makam kuno di Beku.

Kadus 1 Desa Beku, Kecamatan Karanganom, Karyono, membenarkan ada informasi rencana jalan tol melewati Sidorejo selain sawah yang ada di Beku. Sidorejo dihuni sekitar 40 keluarga yang hidup di kampung itu secara turun temurun.

Warga berharap rencana ruas jalan tol tak melewati kampung tersebut. Selain tak ingin pindah dari tanah kelahiran, warga berharap sejumlah makam kuno yang diyakini makam pejuang pada masa kolonial Belanda tak ikut tergusur.

"Kalau warga inginnya jalan tol tidak sampai mengenai permukiman. Kalau tidak bisa, ya mau bagaimana lagi," kata dia saat ditemui JIBI belum lama ini.

Terkait usulan lainnya, Jaka mengatakan pemkab meminta ada akses dari jalan tol menuju kawasan industri serta wisata di Klaten. Rest area di ruas jalan tol juga diminta bisa menampung UMKM asal Klaten. “Jangan sampai ketika terbangun tol, justru perekonomian warga Klaten menurun,” kata Jaka.

Soal sawah terdampak tol, pemkab meminta jalan tol tak terlampau lebar. Hal tersebut dimaksudkan agar tak semakin banyak lahan pertanian yang tergusur proyek tol. “Kalau memang kelebihan lebarnya dan tidak diperlukan, ya jangan sampai melebar,” urai dia.

Terkait rencana ruas jalan tol berdekatan sumber mata air, Sekda memastikan tim perencana sudah mengakomodasi usulan tersebut. Tim perencana bersedia menggeser rencana ruas jalan tol yang sebelumnya berada diantara Umbul Geneng dan Umbul Lanang, Kecamatan Kebonarum.

Sekda mengatakan usulan-usulan itu disampaikan saat pemaparan rencana jalan tol di pemerintah provinsi, Selasa (16/7/2019) serta saat tim dari Kemen PUPR menggelar pembahasan dengan Pemkab Klaten, Jumat (19/7/2019) sore.

“Hasil pembahasan itu akan dikonsultasikan ke Kemen PUPR. Kalau sudah nanti diajukan ke gubernur dan ditetapkan menjadi penlok. Setelah itu baru ada sosialisasi ke masyarakat,” jelas Sekda.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan salah satu exit tol rencananya berada di Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo. Jalan tol di wilayah itu rencananya terhubung jalan nasional atau jalan raya Solo-Jogja. “Kami minta kaki exit tol itu ada dua, satunya mengarah ke Jatinom, Tulung, dan Polanharjo,” urai dia.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) jalan tol Solo-Jogja dan Jogja-Bawen, Wijayanto, mengatakan ada empat usulan pemkab soal rencana ruas jalan tol yang melintasi Klaten. “Ada empat hal yang disampaikan pemkab yakni exit tol, masalah umbul, rest area, serta perkampungan terbelah,” kata Wijayanto.

Dari usulan-usulan itu, permintaan pemkab soal pergeseran ruas jalan tol berdekatan Umbul Geneng dan Lanang disetujui. “Kalau yang didekat umbul harus menghindari sesuai ketentuannya seperti itu. Perubahan itu tidak sampai mengubah semuanya [rencana trase tol melintasi Klaten]. Yang memang fatal itu yang wajib diubah,” jelas dia.

Soal usulan ada dua lokasi exit tol di Kapungan, Wijayanto mengatakan masih ditampung tim. Usulan itu akan disampaikan ke Kemen PUPR untuk mendapatkan persetujuan.

Sumber : JIBI/Solopos