Kronologi Insiden di Asrama Papua Versi Polisi

Poster anti rasisme warga Papua. - dok
21 Agustus 2019 19:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, SURABAYA- Polisi menyampaikan penjelasan ihwal insiden di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur yang berbuntut demonstrasi menolak tindakan rasis.

Usai berdialog dengan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kapolda Jawa Timur (Jatim) Irjen Luki Hermawan terkejut mendengar hoaks perihal pengepungan yang dilakukan ormas hingga lebih dari 24 jam masih viral di Papua.

Ditemui di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (21/8/2019), Luki menyampaikan klarifikasi mewakili pihak kepolisian kepada awak media yang datang.

"Kami di sini akan sampaikan, setelah kami dapat masukan dari perwakilan anggota dewan, dari Dapil Papua, bahwa kami agak kaget juga, bahwa berita Viral tentang hoaks ini, sampai hari ini disana masih terus bergulir," ujarnya.

Luki mengatakan, kronologis yang terjadi saat Tanggal 15,16,17 Agustus 2019 di Wisma Mahasiswa Papua Jln Kalasan No. 10 Surabaya.

"Kami sudah jelaskan, bahwa yang terjadi ini ada tiga kejadian, tanggal 15, dan tanggal 16. (Tanggal) 16 itu yang melibatkan massa. Lah yang diketahui di sana (Papua) itu yang tanggal 17 juga ada kekuatan massa yang besar. Jadi memang tanggal 16 itu kami aparat dari TNI dan Polri, memang menjaga masyarakat, Ormas dan lain untuk tidak masuk ke tempat asrama dan itu selesai jam (Pukul) 21.00 malam, setelah itu tidak ada pengepungan, lah ini yang beredar bahwa asrama itu dikepung selama 24 Jam lebih, jadi semoga informasi yang disampaikan ini bisa tersampaikan," katanya.

Ia juga menjelaskan, tidak benar ada penangkapan salah satu pengantar makan, yang akan mengirim ke salah satu penghuni asrama tersebut.

"Kejadian jam 13.00 WIB siang, sore massa tambah banyak, jam 21.00 WIB mereka kembali, sudah tidak ada kegiatan, hanya ada petugas. Dan kita mengamankan warga dari Papua yang ada di asrama, bahkan jam 01.00 malam, ada yang mengirim makanan, kami juga periksa bukan untuk menahan. Jangan ada hal-hal yang tidak kita inginkan. Setelah kami periksa makanan tersebut, ternyata memang permintaan dan tidak ada masalah, kita persilahkan masuk. Ini langkah-langkah kami yang lakukan, terkait berita yang simpang siur," ungkapnya.

Sementara Luki juga menjelaskan perihal interogasi terhadap 43 penghuni Wisma. Luki menyampaikan pihaknya sama sekali tak melakukan tindakan kekerasan dalam proses penyidikan.

"Terkait proses penyidikan, kami sudah ada enam orang yang saksi dari luar (asrama), melihat dua orang, dari warga Papua, tapi dia tidak melihat wajahnya, dia mematahkan tiang bendera, setelah itu masuk ke dalam, tapi dia (saksi) melihat wajahnya, dia tahu orang itu, masuk ke dalam. Dari penyidikan 42 orang, hasil interogasi, pada saat warga Papua dibawa ke Polrestabes diinterogasi, tidak tahu jawabnya, dan sampai saat ini memang belum tidak cukup bukti, bahwa warga Papua itu kami proses penyidikan terkait dengan bendera," ujarnya.

Ia menyayangkan adanya hoaks, sehingga berdampak besar. Hingga saat ini, pihaknya masih mendalami dan memeriksa jejak digital, sebelum kepolisian bergerak lebih jauh.

"Dampak dari itu, ada berita-berita di media sosial, ini kami sekarang sedang mendalami tentang berita rasis dan lain-lain, karena ini penjajakan digital, kami butuh waktu, namun pemeriksaan terkait bendera kami terus, terkait siapa yang masang, terkait siapa yang merusak, terkait yang lain-lain, pemberitaan di media ujaran yang kurang pas," pungkasnya.

Sumber : Suara.com