6 Penyelam Basarnas Cari Korban di Dalam KM Virgo Transport 8
Basarnas mengerahkan enam penyelam untuk mencari korban KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa.
Poster anti rasisme warga Papua./dok
Harianjogja.com, JAKARTA- Kasus ungkapan rasis terhadap warga Papua di Jawa Timur berujung protes besar-besaran.
Sebuah foto warga Papua memegang poster bertuliskan "Kalau kami monyet jangan paksa monyet kibarkan Merah Putih" viral di media-media sosial.
Foto tersebut adalah dokumentasi Komite Nasional Papua Barat, saat warga Papua menggelar aksi damai memprotes persekusi berupa pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (16/8/2019) pekan lalu yang disertai umpatan rasialisme.
Tindakan rasisme yang dilakukan sekelompok oknum berbuntut dengan aksi pengecaman dari warga Papua dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB).
Aksi tesebut kini ramai dibicarakan di media sosial. Warga Papua mengutuk serangan dan tindakan represif yang dilakukan ormas serta aparat TNI/Polri di Malang, Surabaya dan Semarang.
Bagi mereka persekusi dan tindakan tersebut merupakan sebuah bentuk pelecehan yang harus dilawan. Sebagai tindak lanjut, mereka akan menggelar aksi kecam di berbagai daerah.
"Kita tidak bisa diam. Bila kasus ini dibiarkan, mereka kasih peluru dan kita akan lawan kolonial itu. Besok akan ada aksi di Jayapura, Timika dan beberapa tempat lainnya," ungkap Agus Kossay, Ketua Umum KNPB kepada Suara.com-jaringan Harianjogja.com, Senin (19/8/2019).
Kosay menilai, aksi kekerasan dan yel-yel rasisme adalah tindakan kolonialisme yang merendahkan martabat warga Papua.
“Kolonialisme yang mereka lakukan telah melecehkan martabat manusia Papua. Karena mereka stigmakan kami orang Papua monyet berarti mereka merendahkan, melecehkan dan menjatuhkan martabat Papua itu sendiri,” ujarnya.
Mereka menganggap tudingan pembuangan bendera yang tidak terbukti adalah sebuah bentuk pengusiran bagi warga Papua di berbagai kota. Untuk itu mereka akan melakukan balasan setimpal.
"Mereka tidak memastikan warga Papua yang melakukan atau tidak. Kita akan kasih tahu sikap kepada Pemerintah Surabaya, Semarang dan Malang bahwa mereka ingin memulangkan mahasiwa Papua yang disebut monyet. Maka rakyat Papua akan memulangkan rakyat Indonesia di Papua," kata Kossay.
Di lain pihak persekusi dan tindakan represif dinilai bukan hal baru Aliansi Mahasiswa Papua. Pihaknya menyebut serangan tersebut adalah bentuk penjahahan.
"Serangkaian tindakan rasisme, pelemparan batu, gas air mata dan penangkapan itu sudah sejak lama. Begitu pula sebutan monyet. Itu adalah kolonialisme sebagai kedok penjajah untuk mempertahankan daerah kekuasaannya," kata Doli wakil dari Aliansi Mahasiswa Papua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Basarnas mengerahkan enam penyelam untuk mencari korban KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa.
RANS Entertainment memuncaki peringkat global live streaming YouTube dengan 2,96 juta jam tonton berdasarkan data Streams Charts.
Pegadaian meraih empat KESGI Award 2026 atas kinerja ESG di sektor inklusi keuangan, meliputi pilar lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Maarten Paes disorot media Vietnam setelah Indonesia menahan Malaysia 0-0. Paes dinilai berperan penting saat Garuda bermain 10 pemain.
Cara cek BPJS Kesehatan nunggak atau tidak bisa dilakukan lewat Mobile JKN, PANDAWA, dan Care Center 165. Simak langkah lengkapnya.
SUV boxy makin populer di pasar global. Desainer Chery menilai desain mengotak bukan sekadar tren dan punya alasan fungsional.