Advertisement
Koalisi Parpol Belum Menyepakati Ketua MPR
Abdul Kadir Karding (kiri), Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf. - JIBI/Bisnis Indonesia/Muhammad Ridwan
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA - Koalisi partai politik 9parpol) pendukung Joko Widodo (Jokowi) belum menyepakati kandidat yang akan mengisi kursi ketua MPR RI.
Ketua DPP PKB Abdul Kadir Karding mengatakan Koalisi Indonesia Kerja (KIK) belum mengadakan rapat untuk menyepakati kursi Ketua MPR. "Saya kurang paham [kursi Ketua MPR diberikan pada Golkar], karena belum ada rapat soal itu," kata Karding di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (1/8/2019).
Advertisement
Karding mengatakan berdasarkan perspektif perolehan suara partai di Pemilu, memang Golkar yang pantas meraih kursi Ketua MPR RI, karena merupakan parpol pemenang kedua di Pemilu 2019.
Namun Karding menekankan bahwa penentuannya berdasarkan kesepakatan partai koalisi sehingga apakah menjadi miliki Golkar atau tidak, tergantung kesepakatan.
"Tapi tidak tahu apakah nanti paket kesepakatannya koalisi seperti apa. Saya mau memastikan pilihan MPR itu paket, artinya harus kesepakatan dari seluruh partai partai koalisi," ujar Karding.
Karding mengatakan apakah Golkar disetujui sebagai Ketua MPR RI, tergantung kesepakatan partai koalisi dan pendapat serta arahan Presiden terpilih Joko Widodo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Prediksi Skor Real Madrid vs Bayern Perempat Final Liga Champions
- Banyak Tak Sadar Kekurangan Vitamin Ini Bisa Picu Risiko Diabetes
- Makan Bersama Jadi Cara Unik Cegah Stunting di Gowongan
- Dukuh Gugat ke PTUN Seusai Dicopot, Warga Seloharjo Bela Lurah
- Menkeu Tegaskan Kebijakan BBM Subsidi Atas Arahan Presiden
- Polri Ungkap Potensi Kerugian Kebocoran Subsidi BBM-LPG Capai Rp1,26 T
- OPINI: Demam Live Shopping dan Ilusi Pilihan Konsumen di Indonesia
Advertisement
Advertisement








