BEI Hapus Batas Rp50, Saham GOTO Bisa Turun ke Rp1
BEI berencana menghapus batas minimum Rp50. Saham GOTO secara teori bisa turun hingga Rp1, tetapi tetap bergantung pada fundamental.
Partai-partai koalisi pengusung Prabowo Subianto Sandiaga Uno pada Pilpres 2019, bersepakat menamakan blok politik mereka sebagai Koalisi Indonesia Adil Makmur. /Suara.com-Muhamad Yasir
Harianjogja.com, JAKARTA - Pengamat politik memprediksi kemungkinan Partai Gerindra dan PKS menjadi oposisi pemerintah.
Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, pilihan oposisi PKS dan Gerindra merupakan cara kedua partai tersebut menjaga 68 juta suara yang memilih Prabowo-Sandi di Pilpres 2019.
"Gerindra dan PKS enggak usah mau menerima jabatan (menteri) itu. Karena mestinya Gerindra pertama dia harus maintenance 68 juta itu ya, dia menjadi aspirasi, penyambung lidah 68 juta, sekitar 44 persen, itu cukup besar," kata Pangi saat berbincang Okezone-jaringan Harianjogja.com, Sabtu (6/7/2019).
Pangi menilai, PKS dan Gerindra merupakan koalisi sekutu yang berpotensi akan menjadi pemenang Pemilu 2024. Selain itu, kedua partai tersebut juga berpeluang besar memenangkan Pilpres 2024.
"Gerindra dan PKS nanti bisa mengantarkan presiden baru atau bisa leading menjadi partai pemenang pemilu dengan syarat mampu membangun oposisi, peran yang dimainkan itu maksimal," terangnya.
Ia menerangkan bahwa peran oposisi lebih cendrung bisa memainkan emosional masyarakat lantaran kerap berpihak kepada rakyat dengan mengkritisi jalannya pemerintahan.
"Kalau kemudian peran-peran yang dimainkan maksimal, oposisinya piawai dan mahir membaca sentimen, apa yang dibutuhkan, ada yang dikehendaki masyarakat, bisa mewakili perasaan rakyat, itu kemudian oposisi akan memenangkan kekuasaan," ujarnya.
"Nah sejauh yang saya cermati, kekuatan oposisi tidak mampu memenangkan kekuasaan karena tidak mampu menjadi penyambung lidah yang peran-peran yang dimainkan. 10 tahun Gerindra beroposisi ini harus menjadi evaluasi. Berbeda dengan PDIP, 10 tahun beroposisi, beliau bisa memenangkan kekuasaan," bebernya.
Menurut Pagi, pihak oposisi akan selalu diuntungkan bila citra pemerintah menjadi jelek karena adanya kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.
"Di saat itulah momentum emas bagi partai untuk mendulang insentif elektoral, yaitu elektabilitas partai, dan syukur-syukur bisa mengantarkan calon presidennya untuk menang," imbuhnya.
Pagi menambahkan, Gerindra akan menjadi partai paling diuntungkan bila memilih jalan politio oposisi dari pemerintahan Jokowi-Ma\'ruf karena mempunyai sosok Prabowo Subianto sebagai capres dan ketua umum partai.
"Ketika oposisi tidak mainkan peran maksimal, maka ketenaran tetap menang, citra pemerintah tetap positif, maka ada peluang kemungkinan juga PDIP memenangkan kekuasaan tiga kali berturut-turut," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
BEI berencana menghapus batas minimum Rp50. Saham GOTO secara teori bisa turun hingga Rp1, tetapi tetap bergantung pada fundamental.
Ribuan warga mengikuti senam bersama di Alun-Alun Selatan Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Festival Mustika Rasa 2026
Disertasi Abdul Kadir Bubu di FH UII menyoroti ketimpangan relasi rakyat dan DPR serta menawarkan rekonstruksi kedaulatan rakyat.
Telat ganti oli mobil bisa memicu kerusakan mesin, performa turun, overheating, BBM boros, hingga biaya perbaikan membengkak
Menkomdigi Meutya Hafid menerbitkan SE Nomor 4/2026. Operator seluler wajib melindungi sisa kuota dan memberi pilihan layanan kepada pelanggan
Banjir bandang Nepal menewaskan 616 orang, 2.301 terluka dan 2.500 masih hilang. Tim penyelamat terus mencari korban di perbatasan China