Labuan Bajo Ditargetkan Pulih dan Makin Tangguh Pascagempa
Labuan Bajo ditargetkan pulih dan makin tangguh pascagempa M7,7 melalui penguatan keselamatan, manajemen risiko, dan destinasi wisata darat
Sejumlah prajurit Korps Marinir TNI AL berjalan mendatangi massa aksi 22 Mei di Jalan Brigjen Katamso, Jakarta, Rabu (22/5/2019). /Ist-Antara.
Harianjogja.com, JAKARTA--Korps Marinir TNI Angkatan Laut dari Batalyon Infanteri (Yonif) 7 Lampung menenangkan massa yang terlibat kericuhan di Jalan Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (22/5/2019) malam.
Dilaporkan Antara, setelah sempat ricuh sejak pukul 18.45 WIB, pada pukul 21.30 sebanyak dua kompi pasukan marinir asal Lampung itu berjalan menuju arah massa yang sebelumnya melakukan perlawanan terhadap pasukan kepolisian hingga membaur dengan massa itu.
Pasukan marinir itu melambaikan tangan untuk menenangkan massa yang sebelumnya melakukan pelemparan ke arah polisi. Setelah berbaur dengan massa, para prajurit marinir itu berdialog dan meminta massa untuk mundur.
Massa yang sebagian merupakan remaja menurut dengan menenangkan diri dan tidak melakukan perlawanan. Namun, mereka masih belum mau pergi dari Jalan Brigjen Katamso.
Hingga pukul 22.15 WIB ini pasukan marinir masih berusaha dengan pendekatan persuasif agar massa mau membubarkan diri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Labuan Bajo ditargetkan pulih dan makin tangguh pascagempa M7,7 melalui penguatan keselamatan, manajemen risiko, dan destinasi wisata darat
Thailand melaju ke final AVC Continental 2026 usai mengalahkan Jepang 3-1. Hasil ini sekaligus memastikan tiket World Cup 2027 bagi Negeri Gajah Putih.
Agrinas Palma Nusantara menjajaki penggunaan truk listrik untuk mengangkut tandan buah segar sawit guna mendukung modernisasi logistik dan keberlanjutan industr
Mario Aji gagal lolos ke Q2 Moto2 Aragon 2026 setelah finis ke-12 di Q1. Pembalap Indonesia itu akan memulai balapan dari posisi ke-26.
Studi terhadap 183.000 orang menemukan hubungan penggunaan media sosial lebih dari 2,5 jam per hari dengan meningkatnya gejala depresi.
Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok mempercepat penghapusan konten AI, rekaman lama, hingga QR donasi palsu terkait bencana banjir dan longsor.