Advertisement
Dokter Minta Polisi Lakukan Otopsi 583 Petugas KPPS Meninggal
Ilustrasi jenazah. - Antara/Ardiansyah
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Pemilu 2019 dianggap terberat hingga menimbulkan banyak korban jiwa. Jumlah seluruh petugas Pemilu 2019 yang meninggal menjadi 583 orang, tediri dari 469 petugas KPPS, 92 orang petugas pengawas dan 22 petugas keamanan.
Lantaran banyaknya korban berjatuhan, Ketua Kesehatan Indonesia Raya dokter Benny Oktavianus meminta agar kepolisian melakukan otopsi terhadap beberapa korban KPPS yang meninggal dunia.
Advertisement
"Otopsi jenazah diperlukan untuk mengetahui penyebab kematian [cause of death]. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan kira-kira, harus otopsi," katanya saat konferensi pers di Media Center Prabowo-Sandi, Jumat malam (10/5/2019).
Meski demikian, dokter ahli paru ini mengatakan autopsi otopsi idak dilakukan terhadap semua jenazah. Pihak kepolisian dan forensik dapat menetapkan korban mana saja yang butuh untuk diperiksa ulang tubuhnya.
BACA JUGA
Dia menuturkan korban yang meninggal dengan kriteria usia cukup tua atau di atas 50 tahun dan memiliki riwayat penyakit kronis tidak perlu diotopsi. Justru, korban jiwa yang kematiannya tidak wajar dan menimbulkan pertanyaan dokter butuh untuk diotopsi demi mencari cause of death.
"Saya dapat data ada petugas KPPS usia 26 tahun yang meninggal dunia. Ini kan masih muda, tetapi setelah kerja keras di TPS dia sakit tiba-tiba dan tidak lama wafat. Saya sebagai dokter pasti bertanya-tanya kok bisa [meninggal] karena seperti anomali. Kasus seperti ini yang harus dicek polisi," ungkapnya.
Karena itu, Benny meminta masyarakat dan keluarga tidak perlu panik dengan pelaksanaan otopsi. Banyaknya korban jiwa selama Pemilu 2019 berlangsung harus menjadi catatan semua pihak, termasuk penyelanggara pemilu, Mahkamah Konstitusi, pemerintah, dan DPR RI.
Apabila periode selanjutnya model pemilu tetap seperti ini, petugas KPU harus mencari KPPS yang benar-benar sehat jasmani dan rohani.
"Pemeriksaan kesehatan untuk calon petugas KPPS harus dibuat seketat mungkin. Istilahnya seperti orang masuk kerja gitu [medical check up]. Mulai dari foto rontgent hingga memastikan fungsi organ vital seperti tes paru dan jantung. Cuma memang biayanya besar," tuturnya.
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Delapan Tahun Terjerat Judi Online, Erwin Kehilangan Rp800 Juta
- Ketegangan AS-Iran Meningkat, Trump Pertimbangkan Aksi Militer
- IDAI Ungkap PHBS Jadi Benteng Utama Hadapi Virus Nipah
- Antisipasi Virus Nipah, Singapura Perketat Pemeriksaan di Changi
- Dampak MBG Akan Dibaca dari Pertumbuhan Otak dan Fisik Anak
Advertisement
Profil Kombes Edy S: Mantan Kepala SPN yang Tersandung Kasus Hogi
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- Raheem Sterling Resmi Bebas Transfer Seusai Pisah dengan Chelsea
- HyperOS 3 Bikin Ponsel Xiaomi Impor Bootloop, Ini Penyebab dan Solusi
- KAI Sediakan Pengering Payung dan Pembersih Sepatu di Stasiun
- YouTube Music Kini Bisa Lanjutkan Lagu di Perangkat Lain Tanpa Ribet
- Tanpa Tanda Damai, Perang Rusia vs Ukraina Telan Hingga 2 Juta Korban
- Kawasaki Hadirkan Trio KX 2026, Suspensi Lebih Besar dan Kendali Lebih
- Android 17 Cinnamon Bun Siap Rilis 2026, App Lock Bawaan Jadi Andalan
Advertisement
Advertisement




