Panas! Begini Debat Antara Politikus dengan Dokter Spesialis Syaraf Soal Beban Kerja Petugas KPPS

Debat Panas Adian Napitupulu dan Ani Hasibuan. (Istimewa/Youtube - Indonesia Lawyer Club)
10 Mei 2019 10:37 WIB Jafar Sodiq Assegaf News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebuah video berisi adu mulut antara Politikus PDIP Adian Napitupulu dengan dokter spesialis syaraf, Ani Hasibuan, soal kematian ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Pemilu 2019 menjadi viral di Youtube.

Video yang diunggah akun Indonesia Lawyer Club itu memperlihatkan pernyataan keras Adian Napitupulu merespons pernyataan Ani Hasibuan yang dinilai tendensius.

"Saya tuh berharap tadi saya mendengar analisa medis tanpa tendensius apa pun, termasuk menghakimi pekerjaan KPPS. KPSS itu apa sih pekerjaannya, cuma nyatet-nyatet doang. Sebagai dokter, analisanya medis saja. Enggak perlu menghakimi apa yang mereka kerjakan," ujar Adian di acara Catatan Demokrasi Kita yang disiarkan TV One, Rabu, 8 Mei 2019.

Membela diri, Ani Hasibuan mengatakan pernyataannya bukan menghakimi. Mendengar pembelaan ini, Adian langsung meminta Ani mendengarkan dulu penjelasannya. Ia menekankan agar dokter berhijab itu bisa obyektif dalam menyampaikan analisisnya tanpa perlu menghakimi beban kerja petugas KPPS.

"Sebagai dokter, analisanya obyektif, jangan beban kerja orang lain, jangan menghakimi beban kerja KPPS seolah-olah menyederhanakan catat-catat bisa meninggal. Ini tendensius menurut saya. Seolah-olah karena menulis, terus meninggal. Dan itu yang ditangkap publik, dari pandangan yang disampaikan Bu Dokter tadi, jangan," ucap Adian.

Bagi Adian, seharusnya Ani bicara sebagai dokter dengan menjabarkan penjelasan secara medis. Ia pun punya pandangan lain karena kelelahan bisa saja memicu penyakit seperti ginjal, jantung.

"Saya mau mendengar jawaban medis. Karena kalau keluar dari situ, hormat saya hilang. Saya juga caleg, saya hargai betul mereka bekerja dari pagi sampai malam dengan pendapatan yang sangat sedikit toh, Rp500.000 sebulan," ujar Adian.

"Menghakimi kerjanya hanya mencatat-catat terus meninggal, itu sudah di luar kapasitas dari dokter," jelas Adian.

Ani pun langsung menyampaikan jawabannya dari cecaran Adian. Ia menerangkan analisanya masih dalam kapasitasnya sebagai dokter. Sebab, ia menganalisis berdasarkan keterangan dari keluarga korban.

"Loh, kenapa di luar kapasitas? Saya sakarang tanya Bang Adian deh di mana kelelahan secara fisiologi membunuh orang?" ujar Ani.

Adian yang belum bisa menerima argumen Ani, terus berusaha mencecar. Namun, cara Adian yang memotong penjelasan Ani disetop Andromeda Mercury sebagai moderator.

Ani kemudian kembali menjelaskan. Ia menegaskan tak punya tendensi apa pun dalam kejadian ini. Menurutnya, pernyataan Ketua KPU Arief Budiman yang menyebut faktor kelelahan sebagai penyebab kematian ratusan petugas KPPS perlu dikritisi.

"Sebagai seorang scientist saya menilai pemahaman saya tentang fisiologi dan anatomi manusia kelelahan macam apa yang menimbulkan hemodinamiks sistem. Kematian cuma ada dua. Kesatu, karena kematian jantungnya berhenti, dan kedua karena batang otaknya berhenti. Dan itu buka karena kelelahan," tutur Ani.

Mendengar penjelasan medis Ani, lagi-lagi Adian memotong dengan argumennya. Ia menyindir agar sebagai dokter, Ani tak sombong dengan menyepelekan pekerjaan petugas KPPS.

"Jangan ada kesombongan profesi yang merendahkan pekerjaan lain, hanya mencatat-catat saja," tutur Anggota DPR tersebut.

Ani yang heran pun membalas dengan jawaban tak mau ambil pusing dengan argumen Adian. Ia menegaskan analisis medisnya rasional.

Bagi Ani, kejanggalan lain karena ada korban petugas TPPS yang ternyata aktif berolahraga dalam kehidupan sehari-hari namun divonis meninggal karena kelelahan.

"Enggak apa-apa deh, mau ngomong apa saja terserah. Saya analisis bapak kerjanya apa. Saya olahragawan, saya lari setiap pagi 10 kilometer. Jadi, kalau ada beban-beban mestinya dia bisa. Faktanya dia tidak bisa. Dinyatakan HB rendah, gangguan jantung," jelasnya.

Menurut dia, betul ada petugas KPPS di Bali yang meninggal karena kelelahan. Namun, faktor meninggalnya itu karena ada penyakit ginjal yang diduga menjadi pemicu. "Ginjal itu yang menyebabkan dia meninggal. Tapi, bukan kelelahan, bukan langsung cause of death," tutur Ani.

Sumber : Solopos.com